Papua, Cinta, Doa dan Senjata

Oleh : Rudi S Kamri

Hari ini saya melihat tayangan berita televisi, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian berapi-api berujar : "Saya akan menambah berapapun jumlah aparat kepolisian ke Papua sampai kondisi Papua aman terkendali", kira-kira seperti itu ujaran Kapolri. Bahkan beliau bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga akan berkantor di Papua selama seminggu. Luar biasa Pak Kapolri !!!

Pertanyaannya, benarkah penambahan pasukan sebanyak mungkin akan mampu menyelesaikan masalah Papua. Karena Tito Karnavian pernah bertugas di Papua selama 22 bulan sebagai Kapolda, mungkin dia tahu persis kondisi Papua. Tapi jujur entah mengapa saya tidak yakin tentang hal itu.

 

Saya tetap berkeyakinan cara menyelesaikan Papua yang efektif bukan dengan senjata tapi dengan hati dan cinta. Kalau saya jadi Kapolri justru saya akan menerjunkan banyak Polwan rupawan dengan membawa bunga untuk memeluk hangat Papua. Karena semua tahu akar masalah kerusuhan Papua bukan berasal dari Papua. Tapi dari Jakarta yang diletupkan api kecil via Surabaya.

Kalau saya jadi Kapolri saya akan fokus di Jakarta menangkap provokator-provakator kroco seperti Sri Bintang Pamungkas dan lain-lain. Juga saya akan menggalang semua kekuatan, keberanian dan dukungan untuk menangkap "mind master" kerusuhan Papua yang lagi duduk manis sembari mengipas dupa cendana.

Kita semua tahu, menyelesaikan masalah Papua tidak hanya cukup dari dalam negeri. Perlu juga menjinakkan suara dari manca negara. Kalau saya jadi Menteri Luar Negeri, saya akan menugaskan Gary Rachman Jusuf mantan Duta Besar Indonesia untuk Fiji dan Vanuatu untuk menggalang dukungan negara-negara Melanesia, bukan malah mengutus Peter Gontha apalagi Tantowi Yahya. Dan saya akan minta tolong Luhut Binsar Panjaitan untuk meredam suara Amerika.

Sekali lagi, kita semua mafhum Papua hanya korban kebiadaban kelompok-kelompok pemburu rente. Kegaduhan Papua selama ini telah dimanfaatkan oleh berbagai negara yang ada kepentingan ekonomi di Papua. Kita harus lindungi Papua dari semua ketamakan itu. Tapi melindungi dengan hati dan cinta bukan dengan senjata.

Presiden Jokowi juga bisa memberdayakan kekuatan relawan untuk memeluk Papua. Organ relawan seperti JAPRI pimpinan Purnama Sitompul yang bergerak dalam pemberdayaan wanita dan anak bisa digerakkan turun ke Papua untuk merangkul wanita dan anak-anak Papua dengan cinta. Kelompok blusukan alumni Jabar Ngahiji pimpinan Ummy Latifah bisa diterjunkan ke pedalaman Papua untuk untuk memutarkan film yang bisa menggugah nasionalisme warga. 

Pemerintah juga bisa minta tolong Yanthi Tambunan yang berpengalaman dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dan budaya Melanesia untuk menggerakkan ekonomi Papua dengan basis pemberdayaan keluarga. Pemerintah juga bisa minta Suhendra Hadikuntono, Ketua Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN) untuk turun ke Papua dengan membagi-bagikan ratusan bola dan spirit yang menyertainya, yakni sepak bola sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa. 

Masih banyak lagi kekuatan masyarakat madani Indonesia yang bisa diberdayakan untuk mengambil hati rakyat Papua dengan cinta, tidak harus dengan senjata. Prosperity approach harus dikedepankan daripada security approach yang sudah terbukti gagal sejak era Orde Baru.

Setuju kan ?

Salam SATU Indonesia
01092019

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Friday, September 6, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: