Pantaskah Kita Panik Atas Penambahan 973 Suspect Hari Kamis 21 Mei?

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Jumlah kasus baru Covid-19 meningkat tajam kemarin: 973 kasus. Kelihatannya kita segera memasuki kawasan pertumbuhan 1,000 kasus baru per hari. Beberapa orang menjapri saya, minta penjelasan atas perkembangan ini.

Terlihat kecemasan dalam diri mereka. Satu pertanyaan yang terdapat dalam japrian tersebut: bijaksanakah bagi pemerintah untuk tetap melonggarkan PSBB per 2 Juni 2020?

Satu luput mereka sadari: meski kasus baru naik tajam, fatality rate harian tetap berada di kisaran 3%. Artinya, dari jumlah orang yang terpapar pada hari itu, 3an%nya diperkirakan bakal wafat. Kalau dihitung berbasis jumlah penduduk Indonesia, reratanya jauh kebih kecil: 36 kematian pada hari itu dibagi 270 juta.

Dengan kata lain, 0,000.000.133.333% dari 270.000.000 orang Indonesia bakal wafat pada hari ini karena Covid-19. Kecil sekali. Remeh banget.

0,000.0036% dari 270 juta rakyat Indonesia bakal terpapar Covid-19 pada hari ini. Artinya, 1000an orang, entah siapa, dari antara kita harus masuk rumah sakit hari ini karena terpapar Covid-19.

Dari sudut statistik, angka tersebut gak ada artinya. Ketika berbicara mengenai perimbangan, Covid-19 seharusnya diabaikan, tidak perlu dibincang. Tingkat kematiannya cuma sepertigajuta. Dari tigajuta orang berkerumun, hanya 1 orang bakal mampus di kurun waktu 2-3 pekan mendatang.

Angka itu masih separuh dari peluang Anda mampus pada hari ini karena kecelakaan lalulintas di Indonesia: 72 kematian per hari. Anda keluar rumah setiap hari dengan mengabaikan bahwa ada 0,000.000.261% kemungkinan bagi Anda untuk mampus karena tabrakan atau dilanggar pengemudi bajingan.

Kenapa Anda abaikan? Karena tak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengeliminasi risiko tersebut. Sementara Anda harus bekerja untuk menafkahi calon rumah-tangga Anda, untuk menafkahi istri dan anak-anak Anda, untuk menafkahi suami Anda, untuk menabung bagi pendidikan anak-anak Anda di perguruan tinggi di Australia, di UK, atau di US kelak.

Setiap hari Anda keluar rumah dengan menenteng risiko mati. Setiap hari. Gak ada satu hari pun hidup Anda berlangsung tanpa risiko. Tidak satu jam, tidak satu menit, tidak satu detik pun.

Tanpa bahaya atas kecelakaan lalulintas Anda tetap berisiko mati di detik mendatang sehabis membaca tulisan ini. Sebuah kabar buruk berpotensi menyerang Anda dengan panic attack. Anda megap-megap, kesulitan bernapas selama 2-3 menit. Lalu ko’it.

Sudah 3 bulan kita begini terus. Pemerintah tak mungkin ngasih makan Anda berkepanjangan. Anda harus bekerja. Ini fakta bengis, tapi tidak lebih bengis daripada fakta yang Anda hadapi setiap hari tanpa Covid-19.

Jumlah kasus baru meroket gila-gilaan kemarin karena sejak 3 hari lalu kita sudah berhasil melakukan 10.000 test, kurang-lebih, per hari. Tentu saja itu lonjakan tajam. Tapi betulkah 973 kasus baru bisa dianggap infection rate?

TIDAK. Baca bibir saya baik-baik: TIDAK

Kalau itu hasil dari RT-PCR Test, ya. Tapi kalau rapid test, tidak. Rapid test adalah test untuk menemukan reakton dalam tubuh Anda. Maksudnya, kalau Anda diserang virus, tubuh Anda pasti memroduksi antibodi. Jadi, kalau rapid test menemukan antibodi dalam tubuh Anda maka seketika dapat disimpulkan bahwa sistem kekebalan Anda sedang berperang melawan virus. Berarti ada virus di tubuh Anda

Persoalannya, dalam tubuh Anda berkemungkin hadir sekian virus aktif. Virus itu bisa apa saja termasuk Corona. Jadi, kalau virus influenza-biasa sedang menggerogoti tubuh Anda maka reakton muncul. Itu tertangkap Rapid test. Saat itu juga Anda dinyatakan positif.

Saya baca laporan Gugus Tugas berkali-kali, takut salah lihat. Dan saya bingung. Kenapa Gugus Tugas menggunakan istilah POSITIVE RATE bagi hasil RT-PCR Test. Bukankah seharusnya INFECTION RATE karena sudah confirmly infected?

Apa artinya? Positive berarti test menemukan reakton dalam tubuh terperiksa. Dalam manajemen epidemiologi, si terperiksa harus langsung dikurung, tidak boleh menunggu hasil test lanjutan sebelum bertindak atasnya. Segera. Detik itu juga.

Infection rate adalah angka yang menyatakan keterbuktian infeksi pada sekian orang yang ditest, bukan lagi sekadar keberadaan reakton. 973 yang positif dari hasil RT-PCR test harus dinyatakan infected, terinfeksi.

Maka naiklah angka jumlah kasus baru. Kemarin 973. Berapa persen darinya yang terbukti infected by Corona? Saya gak tahu. Saya bukan dukun. Saya bukan para ahli yang ngomong berbuih-buih sehabis makan petai dan jengkol.

Si Terperiksa positively sakit. Karena Covid? Belum tentu, kalau itu rapid test.

Masih teguhkan saya berusul kepada Presiden Joko Widodo untuk menghapus PSBB per 2 Juni.

MASIH.

Sudah terlalu lama negeri ini hidup dalam budaya Islam. Sorry, saya tidak bermaksud njual SARA. Sarah yang ono mungkin bermaksud menjual keperawanannya. Sahat tidak. Lagipula saya tidak muda lagi. Apa yang bisa saya tawarkan kepada para perempuan muda kecualin kearifan dan kecerdasan yang bertumpuk dari tahun-tahun usai? Bukankah Ahok sudah membuktikannya?

Umat Islam terbiasa hidup dalam berbagai peraturan. Mereka kehilangan ruang untuk memutuskan apa-terbaik bagi diri mereka. Tengoklah acara pengajian di televisi? Apa yang mendominasi di sana? Pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari kebudakan.

Pak Ustadz, saya boleh gak begini, boleh gak begitu? Bahkan untuk berhubunganranjang pun kita harus bertanya tata laksana, prosedur, step-by-step to do, ke ustadz. Saya sedih. Itu makanya saya tak mau kaum saya begitu. Saya nyalakan lampu templok tiap hari. Sebagian memaki, menyumpahserapahi, bodo amat.

Orang Kristen tak punya hukum agama. Kamu mau pakai tank-top, rok mini, hem dengan 2 kancing terbuka, atau bahkan no-bra sekali pun, gak ada yang berisik. Itu hidupmu. Satu-satunya pegangan hukum bagi orang Kristen adalah hukum negara.

Saya tidak menyarankann Anda berpindah agama ke Kristen. Gua ludahin lu kalau begitu. Yang saya maksud adalah sudah saatnya sesekali rakyat Indonesia berbudaya Kristen: putuskan segala sesuatu bagi dirimu sendiri. Tentu kita tetap butuh panduan. Pemerintah bertugas menyediakan itu. Apa?

RISK FACTOR.

Sediakanlah, setiap hari, data spesimen per kota. Orang Jakarta, misalnya, tahu berapa jumlah spesimen pada hari ini. Berapa yang positif, Berapa yang wafat karena Covid. Dengan demikian, mereka tahu berapa persen kemungkinan mereka terpapar Corona kalau keluar rumah pada hari ini. Dan kalau terpapar, berapa persen kemungkinannya mereka mampus kelak.

Angka tersebut tentu tidak menggambarkan situasi terkini. Mereka yang infected bukan baru terpapar hari ini, mungkin 10 hari lalu. Mereka yang tewas bukan baru infected hari ini, mungkin 3 pekan lalu.

Tapi setidaknya orang punya gambaran mengenai risiko yang dihadapi. Dengan menimbang angka-angka, mereka membuat keputusan.

Selanjutnya, kalau keluar rumah, mereka disarankan pakai masker—sebagaimana orang pakai helm ketika berkendaraanmotor. Nasehati, jangan paksa, agar mereka menjaga jarak. Itu semua untuk mengurangi risiko.

Dengan terlatih memutuskan segala sesuatu bagi dirinya sendiri, orang Indonesia gak bernasib seperti Amerika Serikat yang salah pilih presiden.

Dengan terlatih menimbang segala sesuatu, orang Jakarta tak bakal mengusir Ahok pergi.

Apakah saya menyarankan Anda agar tetap di rumah? TIDAK.

Apakah saya menyarankan Anda mulai ke luar rumah untuk bekerja? TIDAK.

Ini hidupmu. Kamu yang putuskan. Bukan orang-orang berjanggut. Bukan pada badut di mimbar kebangunan rohani

Ini hidupmu.

Dan Tuhanmu.
 

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

 

Friday, May 22, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: