Panjat Sosial

ilustrasi
Oleh : Reno Risanti Amalia
 
Dalam dunia media sosial, panjat sosial tak jarang dilakukan seseorang yang berambisi untuk terkenal dengan cara membabi buta berkomentar. Kecenderungannya, yang dikomentari adalah orang-orang yang sudah lebih dulu dikenal, dengan parameter banyaknya pengikut, pemberi komentar, dan bahkan penghujat. Dengan ikut mengomentari, apalagi sebagai penghujat, ia akan masuk dalam radar pergaulan media sosial.
Karakteristik terbaru dari pelaku panjat sosial tidak lagi melakukan hujatan secara kasar, namun berlagak sebagai seorang intelektual. Beda inteletualitas antara seorang pelaku panjat sosial dengan intelektual sesungguhnya berada pada konten yang ditulisnya. Konten tulisan seorang intelektual berfokus pada topik bahasan yang cenderung berguna bagi khalayak ramai, sementara tulisan pelaku panjat sosial berfokus pada persona dengan bumbu-bumbu argumentatum ad hominem (menyudutkan seseorang berdasarkan pribadinya).
Penyudutan yang dilakukan oleh pelaku panjat sosial seringkali dan pasti bersifat subyektif, dengan hanya menggunakan sudut pandangnya sendiri yang mungkin saja cacat logika. Oleh karenanya, perilakunya tersebut yang pada awalnya menarik khalayak, akhirnya menjadi membosankan dan membuat orang yang menyaksikan menjadi berbalik mempertanyakan modus pelaku. Sedikit demi sedikit terkuak kualitas kecerdasan pelaku yang melulu meributkan masalah "siapa" daripada masalah "apa". Ia dengan mudah terjerumus dalam komunitas penggosip, atau bahkan membuat komunitas itu sendiri, dengan anggota-anggota yang datang dan pergi sesuka hati.
Karena haus akan sensasi, pelaku panjat sosial akan gila dalam berasumsi dan melakukan prasangka tanpa etika dan moral. Ia tak segan menikam orang-orang yang dulu sempat berkawan dengannya, dan menyebarkan fitnah tak berbatas waktu, hanya untuk mencari perhatian. Bila celah sumber fitnahannya ditutup, tak segan ia membuat tuduhan-tuduhan untuk mendulang rasa ingin tahu massa. Padahal, ketika massa mencari tahu dan mendapatkan hal yang sebenarnya, pihak yang ia tuduh akan semakin banyaak mendapatkan perhatian dan empati. Harapannya untuk menjadi tenar kandas tak berbekas, meninggalkan satu dua ekor pendukung yang mulai malas berkomentar.
Yang paling menyedihkan, dan mungkin ini ada hubungannya dengan kelompok "aku yang kriminal, tapi aku yang terdzolimi", pada saat khalayak memahami tindak-tanduk si pelaku, atau bila ada orang yang membongkar kedoknya, maka ia akan mengutip ayat-ayat dan memposisikan dirinya sebagai si sholeh/sholehah yang tak mungkin berbuat salah. Memang yang seperti ini akan selalu ada sejak zaman Adam diciptakan sampai akhir dunia. Mereka ada untuk mengganggu fokus perhatian manusia untuk menemukan keajaiban-keajaiban Tuhan dalam ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, waspadalah dan senantiasa ucapkan "Audzubillahimisyaitonirrojim"
 
Sumber : Status Facebook Reno Risanti Amalia
 
 
Monday, September 21, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: