Panjang dan Lebar dari Sudut Pandang Sempit Saya tentang KH Ma'ruf Amin

Oleh : Salman Faris Rais

Untuk bung Birgaldo Sinaga dkk

Anda termasuk yg kenal NU? Tentu kenal jika Anda yang dimaksud di sini adalah umat Islam pada umumnya, yang barangkali ikut tahlilan dan yasinan, kenalnya sebatas kenal, tapi tidak (merasa perlu) mengafiliasi diri dengan NU.

Bagi muslim di luar jamiah NU, NU adalah pesaing, namun di sisi lain ladang oportunisme, karena cukup dekat dengan tokoh NU, dia akan aman berdakwah islam "versi yang beda" dari ajaran NU. So, NU bisa menjadi semacam "penguasa lapak" tempat dimintai izin. Namun jika lapak dikuasai sekian lama, NU bisa menjadi batu penghalang tujuan-tujuannya.

Bagi para politisi nasionalis, pemerintah pusat setingkat menteri, gubernur, pemimpin militer, NU adalah segalanya. Rumah mereka, haribaan mereka, sowanan mereka, tempat ilmu kebijaksanaan, kewaskitaan, tentang Indonesia, dulu, kini dan nanti ditemukan sama-sama.

Tapi bagi ummat Kristiani, warga keturunan, NU bukan apa-apa, tidak sepenting itu. tidak akan menjadi apa-apa, hal yang cukup diketahui di lembaran koran atau kabar burung. Warga nya Birgaldo Sinaga, yang Ahoker berintikan saudara kristiani, dan tidak sedikit pula warga keturunan, hingga sebagian kecil muslim yang tidak mengenal atau tahu menahu kiprah NU.

Mereka kejang berbusa-busa saat CEO NU, Kyai Ma'ruf Amin diajak menjadi Cawapres oleh Jokowi. Sisi kejokowian mereka tergugat, menipis, ada di antaranya yang lenyap tanpa bekas, hingga ke tingkat "fuck it i am out of this shit" mereka gegar luar biasa, karena Kyai Ma'ruf adalah tokoh utama yang menyebabkan Ahok sang pujaan masuk penjara, kehilangan tahta Jakarta di kali kedua, sehingga muncul kesan bahwa Jokowi membuat deal dengan "demon" utama versi mereka. Umpatan demi umpatan pun meluncur deras ke diri Kyai Ma'ruf, juga pada Jokowi yang disebut dari awal tidak pernah menjadi teman Ahok. Jokowi oportunis, Jokowi halalkan semua cara untuk berkuasa begitu seterusnya.

Oke. Ini demokrasi, semua orang berhak punya pendapat. Tapi pendapat adalah pendapat, ada yang patut diperhitungkan karena perspektifnya matang, ada yang tajam karena mengacu pada hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, ada pula yang berisi kebenaran dan terisi fakta yang sebenarnya.

Ketiga jenis pendapat dengan persepektif itu jarang ditemui dari para pencela Kyai Ma'ruf Amin. Ingatan mereka tentang sang Kyai dibatasi oleh suatu babakan/periode. Juga dari kapasitas yang sangat terbatas, yakni peran beliau sebagai KETUA MUI yang kerjanya kolegial, menampung semua aspirasi organisasi muslim se Indonesia. Saat hampir keseluruhan organisasi muslim menyatakan bahwa Ahok secara in abstentia harus difatwa menistakan Islam, itulah yang terjadi. Moment tabayun tidak pernah terjadi karena mungkin Ahok sendiri tidak merasa atau melihat bahwa MUI itu suatu benda yang penting dalam lintasan hidupnya. Orbit MUI terlalu jauh di pandangannya.

Lalu bagaimana orbit NU? Sejauh yang pernah saya periksa di media, Ahok pun jarang jika tidak disebut tidak pernah selama menjabat bersentuhan dengan tokoh NU struktural lalu menjadi penghubung dirinya dengan dunia NU.

Itulah lalu yang terjadi, Ahok merasa nyaman dengan dukungan relawan modern, melupakan akar rumput, lebih-lebih tokoh masyarakat Islam yang menjadi tulang punggung sosial kemasyarakatan di Indonesia.

Modern, civil, konstitusional, adalah unconditional term Ahok dalam menjalankan peri hidupnya, hal yang juga terlihat di tengah pendukungnya yang kini kalang kabut dengan pilihan Jokowi pada sang Kyai.

Ahok tidak ambil pusing hal-hal di luar normatif tugas balai kota. Segala sesuatunya mesti berada dalam koridor sipil kenegaraan, bukan kefeodalan gaya lama yang notabene melekat di tiap-tiap organisasi Islam termasuk NU.

Dengan demikian, apa yang kita lihat dari Ahok yang lalu kini mendekam di penjara merupakan aksioma, hasil benturan dua dunia, civil modern yang tidak mau kasih ampun dengan tradisionalis agama. Sehingga tabayun.. Ahok tentu mengernyit dahi, opo itu tabayun? tugasku melapor ke Mendagri, bukan MUI.

Tidak ingin memojokkan bahwa tindakan Ahok itu salah, saya malah teringat pepatah Jawa, ngono yo ngono ning ngojo ngono. Oke kalu gitu, tapi jangan gitu banget.

Nop.

Ahok itu sejenis jejadian yang serba seriusan, yang dia tau adalah angka dan data, hukum dan maklumat, garis tugas dan tupoksinya, sehingga saat dia langgar tupoksi malah nyeletukin Quran yang bukan keahliannya, Ahok memble sendiri dengan after effek setelah celetukan itu. Tidak ada dalam tupoksi Kemendagri apa yang dilakukan saat pejabat ngomong di luar koridor, yang berabenya menyinggung irisan terbesar warga republik ini.

Quran itu suci, sangat disucikan, dibela dengan darah dan nyawa oleh mayoritas WNI. Saat Ahok nyeletuk hal yang bukan bagiannya, bukan prodigalnya, ada yang marah lalu ingin menindak jauh, ada yang marah tapi ujungnya memaafkan. Kedua jenis ngamuk ini punya alasan masing-masing. Alasan-alasan di luar tupoksinya Ahok.

Marah lalu menindak Ahok, adalah untuk mencegah upaya eskalatif yang lebih mengerikan dari mereka yang mencintai Al Quran lalu terhina tujuh turunan.

Marah lalu memaafkan malah sudah masuk ke dalam upaya mencegah eskalasi.

Keduanya memiliki misi yang sama : MENYELAMATKAN INDONESIA. Oleh karena itulah NU terbelah dalam kasus Ahok, yang marah lalu menindak/mendisplinkan/membuat demarkasi/yurisprudensi yang bermanfaat bagi kasus serupa demi harmonisasi masyarakat seperti Kyai Ma'ruf Amin, dan yang marah lalu memaafkan/melupakan/ memaklumi seperti ketua tanfidz NU Kyai Said Agil Siradz.

Dalam perjalanan memproyeksikan energi marah ummat Islam ke dalam koridor hukum positif, Kyai Ma'ruf Amin telah melaksanakan tugasnya dengan baik, mencegah chaos agar tidak seperti di Pakistan yang membuat seorang pejabat terbunuh karena kasus yang sama.

Kyai Amin berhasil menutup sebagian katup/ruang yang bisa diekspoitasi kaum khilafer anti NKRI, karena isu Ahok adalah isu kelas platinum mereka untuk meraup lebih banyak pengikut di akar rumput.

Jika isu ini lepas dari kendali NU, tidak terbayang rasanya kelompok khilafer merekrut lebih banyak muslim bagai panen ikan di danau yang mendadak surut mengering.

Apakah hal itu ikut dipikirkan teman ahok? Birgaldo Sinaga dkk?

jika tidak, ya memang tidak perlu dipikirkan, wong ini sudah jadi kerepotan rutin NU sebelum Birgaldo atau Ahok lahir ke muka bumi. Jika pada akhirnya mereka masih tidak merasa ada yang salah di posisi mereka karena keterbatasan lingkup pemahaman pada orbit masing-masing dunia, itupun tidak masalah, tidak ada yang perlu di maafkan atau tidak dimaafkan. Dunianya wong modern yang kelas menengah beda jauh dengan wong tradisional kelas musola yang rebutan gelas bekas minum ustad.

TAPI

Jokowi tidak seperti jenengan Birgaldo dkk, tidak pernah menjadi Ahok tahu apa yang tengah terjadi, tahu apa yang harus di lakukan. Karena dia hidup bernafas dari cilik hingga di antar ke Istana Bogor di Aquariumnya NU; Sowan ke Kyai kampung, blusukan ke warga yang tiap magrib cium tangan para ustad adalah rutinitasnya.

Kalian tentu ga bakal paham, susah mengerti apa yang terjadi. Ya ga apa-apa. Jika lalu masih golput, merelakan Jokowi, yo wis gapapa, ini demokrasi. Yang bersudut pandang panjang, lebar, lemah, sempit, tipis, pendek, berhak punya suara.

Tidak perlu khawatir dengan NU, silahkan terus mencaci2 Kyai NU, dicaci sesama muslim, non muslim, do amat, yang penting fokus keselamatan bangsa dan negara.

Wallahu a'lam

 

Sumber : facebook Salman Faris

Thursday, August 16, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: