Panik Tapi Jangan Tercekik

Oleh: Iyyas Subiakto

BIN yg membuat simulasi penyebaran COVID mencapai target, forcasting 100.000 terpapar pada akhir Juli benar terjadi dan terlampaui.

Setelahnya mulai mulut sampah berterbangan bak lalat membawa wabah seolah Indonesia kena karma, semua mulai lagi seperti biasa di kaitkan dgn Jokowi, ada yg bilang rezim ini gagal. Pemerintah kok di ukur pakai COVID , kenapa tdk dgn B100, atau rasio pembangunan, atau surat perjanjian dgn Swiss dlm rencana mengekstradisi duit rampokan para penjahat yg sdh lama tak terjamah, dan kemajuan lain yg jauh lebih baik dari pemerintahan sebelum-sebelumnya. Ah.. jadi prihatin..
 
Beberapa kali saya sampaikan bhw Indonesia bkn negara kena kutukan terus di serang covid19 sendirian, dunia nyaris rata mengalaminya keculi Alaska. Rasio keterpaparan kita adalah 0,037% dari populasi, USA 0,67%, Spanyol 0,33%, Inggris 0,38%, Prancis 0,11%. Artinya kl saja kita sama terpaparnya dgn Amerika maka sdh ada 1,8 jt yg kena, kalau terpaparnya rata-rata seperti Eropa, maka sdh ada 729 rb yg kena.
Bukan kita senang karena masih di bawah mereka yg notabene negara maju, pastilah kita harus waspada, tapi ya mbok kalau ngomong jangan pakai kepala kosong, jadi gak keliatan songong.
Yang harus di pelototi justru angka yg di tampilkan dlm berita kita. Penyebaran terpapar dari 102 rb, pulau Jawa hanya terpapar 27 rb dgn penduduk 143 jt atau rasionya 0,019% dibawah rata-rata nasional, ini janggal, karena pusat penyebaran ada pada pusat kepadatan penduduk .
Jadi kembali kepada realita atas adanya corona, Kita ttp harus waspada tapi bukan terus panik karena berita yg sengaja di gelitik.
Waspada Corona, tp bukan ngawur kemana-mana.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, August 4, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: