Pangudi Luhur, Nasionalisme Dan Jokowi

ilustrasi

Oleh : Rangga Warsito

Tanpa maksud membandingkan dengan alumni sekolah sahabat2 yang lain.. , sekolah di Pangudi Luhur (PL) itu memang unik..

Selain sekolah khusus cowok, bebas seragam (jaman kami dulu), boleh pake sepatu injak, boleh gondrong sepanjang apapun, boleh gak mandi berangkat ke sekolah, boleh percaya atau tidak.... Gurupun dipanggil namanya oleh murid tanpa guru merasa tersinggung karena memang budaya di PL yah kayak gitu meskipun mungkin aneh buat adat kita kebanyakan di timur yang menghormati orang lebih tua dengan panggilan pak, mas dll...

Kalau ada yang tersinggung dan kaget .., kok pak Jokowi dipanggil nama langsung oleh alumni PL angkatan 2017 yang pantas jadi anak paling kecil pak Jokowi?? Yah itu memang budaya unik di PL yang tanpa maksud tidak sopan, tapi menganggap semua manusia itu setara dan sama...

Dibalik brotherhood yang demikian erat, apakah tidak pernah ada yang berantem? Adalah pastinya karena namanya anak laki dimana2 sama aja kalau emosi...

Jaman guru kami masih banyak Belanda (Bruder gelar rohaniawannya), pulang sekolah satu kelas dikosongkan. Yang mau berkelahi diadu kayak gladiator sampai ada yang menyerah kalah dengan mengangkat tangan.

Setelah itu keduanya wajib damai.., kalau masih ribut baik sanksi sekolah maupun sanksi sosial teman2nya akan berlaku....

Setelah Bruder Belanda selesai bertugas.. , pertarungan dipindah dari kelas ke taman belakang sekolah...

Begitu tradisi berpuluh tahun. Tidak ada yang namanya keroyokan manggil teman atau preman untuk menghajar lawan, kami dibiasakan selalu menyelesaikan dengan gentle dan langsung pada person yang dituju.. Profil Lelaki Sejati yang Jantan... Longlife brotherhood yang dibuktikan dalam beberapa WAG alumni PL bisa ada member alumni 1968 (angkatan pertama) gabung dengan alumni 2018 (lulus tahun lalu, pantas jadi cucu angkatan pertama)

Nah, ini sedikit menjawab pertanyaan pak Jokowi yang dimuat di beberapa media.... *Kenapa dukung saya*?(padahal kalian kan teman2nya SU?)

Alumni PL yang tadinya cuek bebek dengan masalah Pilpres, mulai terusik dengan gaya2 ajaib munafik SU yang tidak sesuai dengan nilai2 yang kami dapatkan disekolah..

Lempar batu sembunyi tangan, bersandiwara dengan tujuan menyerang pihak lain, dan gaya2 *bukan laki2* seperti pakai lipgloss, menari dengan ibuk2 dll adalah awal dia mengusik ketenangan dan ketentraman kami...

Puncaknya adalah saat SU memposting berita, sempat menjadi minoritas di sekolah, sesuatu yang jelas amat sangat bertentangan dengan PLuralisme yang kami anut sejak puluhan tahun lalu..

Di Pangudi Luhur yang merupakan sekolah Katholik, siswa Katholik justru sering menjadi minoritas karena kalau dijumlah murid muslim ditambah Protestan, Hindhu dan Budha.... justru lebih kecil/sedikit murid beragama Katholik.

Di sekolah kami tidak ada OSIS seperti sekolah lain, tapi ada PPSK yang singkatannya Perhimpunan Pelajar Sekolah Katholik.

Apakah ketuanya wajib Katholik? Gak ada bro dan sis.... Di sekolah kami dulu seringkali ketua PPSK dijabat oleh murid beragama muslim termasuk dijaman SU masih sekolah kelas 1, Ketua PPSK beragama Islam.

Pluralisme kami bukan hanya dari agama, tapi juga dari ekonomi keluarga.. Dari anak Menteri sampai anak Supir dan bahkan anak Tukang Kebun bisa sekolah bersama sama dalam 1 kelas... Tentunya yang anak Menteri bayar sekolah lebih tinggi dibanding anak pegawai biasa, dan anak2 ekonomi lemah ada yang tidak bayar sekolah ditempat kami.. Syaratnya cuma batasan IQ dan lolos test masuk yang soal2nya ajib... 

Kalau dilihat alumninya yang berperan dan menonjol di masyarakat juga sebagian besar muslim... Eks Gubernur BI dan Menkeu, Menteri Bappenas, Deputi Gubernur BI, Ketua Kadin Indonesia, Beberapa Dirut dan Direktur di BUMN serta perusahaan multinasional sebagian besar muslim. Bahkan ada alumni kami menjadi Pengacara Team Pembela Muslim yang membela ABB terdakwa kasus terorisme... 

Itulah Pluralisme kami di Pangudi Luhur yang saat ini diusik dengan tingkah polahnya bahkan kampanye didalam sekolah, sesuatu tempat sakral yang dilarang dalam UU Pemilu....

So.... kalau kami teman2nya saja pilih 01 Jokowi - Ma'ruf Amin yang jelas secara logika dan rekam jejak sudah terbukti..... Ngapain kalian harus pilih salah satu teman kami yang buat kami dianggap sebagai pisang busuk/produk gagal dan didukung oleh paham khilafah yang terlarang di Indonesia sama dengan faham PKI...

#01JokowiAmin

Sumber : Status Facebook Rangga Warsito

Saturday, February 9, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: