Panglima yang Ulama, Ulama yang Panglima

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Beberapa hari ini ada statement murah dari GN sang panglima bekas. Dia tdk setuju kl di masjid tdk boleh bcr politik. Dia tdk paham arti politik, hidup ini jg berpolitik jendral. Yg dimaksud politisasi masjid adalah menjadikan rumah ibadah menjadi alat politik praktis, mengumbar kebencian dan caci maki seperti saat Anies mau dijadikan Gubernur, semua koloni rendah diri mendominasi melakukan intimidasi, masjid dijadikan mesin cuci, melaundry otak kaum pekak utk bergerak memalak akhlak. Abdilah Toha mengatakan; Bicara ekonomi di masjid tak dilarang, jual beli jgn dilakukan.

Jendral, dari saat anda nelungsumi mengumbar kelakuan tak terpuji, didepan kuburan Soeharto anda pidato agar prajurid menauladani penguasa orba yg penuh dosa itu. Kami jd tau anda siapa dan mau apa, makanya anda ngotot memassalkan nonton film G30S PKI, ternyata itu embrio strategi anda mau jd orang terpuji dan jd pemimpin RI, sayang anda berhadapan dgn Jokowi bkn anak picisan yg baru siuman.

 

 

Namun akhirnya km tdk kaget juga atas manuver anda, ternyata anda bagian sari 212 memuji Rizieq sang penista pancasila dan ulama, dia anda jadikan idola, brrti kelas anda sama dgn buronan yg akhlak dan moralnya kelas pinggir jalan. Anda bcr mau menyatukan partai islam, menyatukan pikiran saja anda masih diragukan. Bekas panglima biasanya orang yg punya kemampuan prima, kl panglima bekas, sama kelasnya dgn onggokan besi tua.

Sekelas anda bcr sakralitas rumah ibadah mau dijadikan WC umum, memang sulit kl ibadah anda kelasnya ritual bkn spiritual. Walau km maklum tapi tetap nggumun, kok virus berkuasa anda sama saja dgn orang2 yg akhlaknya kelas kaki lima.

Sadar akan hal itu, km menjadi mahfum kenapa Rizieq menjadi bgt digdaya bak panglima, mulutnya lebih kotor dari kandang kuda dan otaknya mesum jd penyamun ideologi negara dan anda ada disana, sy yakin anda tau itu semua, cuma anda pura2 lupa. Sekarang stlh nafsu politik anda bgt menyala km dan Indonesia bukan tempat anda utk berkuasa, krn kami tdk ingin mengundang malapetaka utk ketiga kalinya, dimana saat jenderal berkuasa rakyat Indonesia malah melaratnya merata.

Karena bgmn km akan percaya anda kalau Rizieq anda jadikan idola dan TW adalah teman akrab anda, km bkn suuzhon atas sebuah ketidak benaran, tp Rasullulah berpesan " BILA ENGKAU MAU MENILAI SESEORANG, PERTAMA LIHATLAH SIAPA TEMANNYA". Cukup jelas jendral, km tidak mau berjudi utk negeri. Berjudi itu kalah menang, sedang utk negara semua harus menang. It clear and you are Indonesian enemy, not leader candidate.

 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Monday, May 7, 2018 - 19:45
Kategori Rubrik: