Panggilan Tengah Malam

ilustrasi

Oleh : Iftah Deh
Menyediakan diri menjadi teman masyarakat berarti harus siap jam 01.00 dini hari pintu rumah diketok, dijemput dengan motor untuk menenangkan keluarga yg suaminya sakit. Menjelang malam, sang suami, pria berusia 70an muntah darah hampir setengah ember. Setelah itu rebah tak bergerak. 

Istri, anak, menantu dan cucu sudah berkumpul. Wajahnya pucat pasi. Sang bapak diam tak bergeming meski anak dan menantunya terus memanggil namanya. Nafasnya turun naik perlahan. Istrinya bercerita tentang insiden muntah darah sang suami yg suddah ke sekian kalinya. 

Saya teringat almarhumah Umi dengan penyakit sirosis yg dideritanya. Umi juga dulu sering sekali muntah darah, sampai harus 4-5 kali menjalani operasi ligasi. Biasanya pertolongan pertama setelah dibawa ke RS, Umi mendapat transfusi darah. 

Saya memegang tangan sang kakek, baca shalawat sebisa-bisanya, lalu memanggilnya pelan, "Nde' (Nde' adalah sapaan untuk kakek2 di Ciketing)..."
Sang Kakek membuka matanya perlahan, lalu tersenyum dan berkata lirih, "Kayaknya sampai di.sini doang dah saya inih, yi.. Saya nitip anak2 saya ya.." lalu terpejam lagi. 
"Nde' jangan ngomong begitu.. Kalo Nde' gak ada ntar lebaran haji siapa yg bantuin saya ngebanting sapi kurban. Nde' cepetan sehat ya." kata saya berbisik di telinganya. 

Sang Kakek membuka matanya lagi, lalu mengangguk pelan terpejam lagi. Saya menyarankan keluarga untuk membawanya ke Rumah Sakit agar bisa ditransfusi darah. Tapi mereka semua menolak. Mereka bilang si kakek wanti-wanti gak mau dibawa ke RS apa pun yg terjadi. Keluarga juga takut dengan protokol covid jika akhirnya nanti sang kakek harus berpulang. Banyak cerita2 beredar di kampung kami ttg pemulasaraan jenazah Covid yg tidak seperti kebiasaan masyarakat.

Akhirnya saya pamit, setelah berpesan agar sang kakek ditunggui dan dirawat dengan baik. Hati saya nggrentes. Duh Gusti, kasihani kami...
Daaan menjenguk orang sakit dini hari itu hanya salah satu fragmen dalam dinamika menemani masyarakat berproses. Masih banyak hal lain yg tak kalah unik, seperti dijemput untuk menenangkan orang kesurupan, menolong anak kecil kejang-kejang, mendamaikan tetangga yg lagi ribut atau diundang pemilik pohon untuk dilapori ada santri yg ngambil buah dari pohon mereka tanpa ijin.  Hehe..

Apalagi jika ditambah rombongan antah berantah yg hobi datang bertamu lewat tengah malam ngobrol ngalor ngidul sambil ngopi, yg mana kopinya bawa sendiri diseduh sendiri diminum sendiri, dan baru pulang setelah matahari terbit dan sarapan nasi uduk semur jengkol... Sebagaimana sosok mereke yg absurd, yg dibahas juga hal-hal yg absurd, dan akhirnya berakhir dengan absurd pula...
Sumber : Status Facebook Iftah Deh

 

Sunday, March 7, 2021 - 12:15
Kategori Rubrik: