Panggilan Sayang

Oleh: Sunardian Wirodono
Akhirnya, Hadi Pranoto ngaku, gelar dokter atau pun profesor itu panggilan sayang. Panggilan sayang? Bagaimana itu, say?
Sebenarnya tak hanya Hadi Pranoto, banyak orang menikmati panggilan sayang itu, meski panggilan ‘dok’ atau ‘dokter’ agak jarang sih yang menggunakan. Mungkin karena hanya IDI sebagai organisasi profesi paling tertib. Atau mungkin takut, tak bisa membedakan, apakah dok atau dog?
 
Beberapa teman saya, tak sedikit yang dipanggil ‘gus’, ‘prof’, atau ‘pak guru’, ‘bu guru’, ‘den’, ‘mas kyai’, 'boss'. Padal mereka bukan gus, profesor, atau guru, raden ataupun kyai, dan juga bosok. Tapi, mungkin karena mangsudnya mengapresiasi, menghargai, memuji tingkat keanuannya, biar akrab, atau mengenyek. Ada yang suka menikmati hal itu, bahkan kemudian perlahan tapi pasti menjadi gelar non-formal. Eh, ternyata ada sarjana non-formal.
Saya sendiri jika mendapat penjulukan, atau menurut istilah Hadi Pranoto panggilan sayang, untuk menegasi dan menyangkal dengan cara sopan melakukan penyebutan balik yang sama. Kalau dipanggil prof, ya, balas panggil prof. Atau diplesetkan jadi prov, yang orang Sunda susah membedakan. Termasuk saya yang Jawa.
Pernah suatu ketika seorang pengemis berdiri di depan rumah, dan memanggil saya ‘den’. Saya pun balas menyapanya dengan ‘den’, dan menyampaikan permintaan maaf sama-sama tak punya uang. Dia mesem karena salah sasaran mengemis, wong sesama kok diemis. Padal, keknya dia lebih punya duit ketimbang saya.
Saya ingat ketika melayat Cak Asmuni Srimulat di Mojokerto (2007). Banyak banget karangan bunga, menyebut pelawak sohor Srimulat itu dengan ‘H. Asmuni’. Juga dalam penyebutan prosesi pemakaman, Cak Asmuni berkola-kali disebut formal Haji Asmuni. Sampai-sampai di Masjid Ndiwek, dalam shalat jenazah menjelang pemakaman, Gus Sholah (Sholahuddin Wahid, marhum) yang mengimami shalat, dalam doanya menyebut Asmuni sebagai Haji Asmuni. Alkamdu? Lillah!
Padal, Asmuni blas belum pernah menginjak sama sekali tanah suci Mekkah, yang dipakai untuk penabalan gelar haji itu. Bijimana cerita sampai Cak Asmuni bergelar ‘H’? Menurut Cak Asmuni, ketika saya banyak ngobrol dengannya hampir tiap malam (karena rumah kost saya berjejer rumah Cak Asmuni, di Anggrek Cendrawasih, Slipi, Jakarta), waktu itu karena ia menjadi bintang iklan sarung cap gajah duduk. Kalau gajah mada, itu cap universitas.
Iklan di televisi dan media cetak itu, bergambar Asmuni dengan pakaian seorang muslim yang alim. Dengan jas dan peci serta sarung (tentunya berlogo gajah itu), berlatar belakang photo ka’bah di Mekkah. Sejak iklan itu tayang, dan tersebar ke berbagai pelosok Indonesia, Cak Asmuni pun disebut-sebut haji. Meski pun tak ada tuntunan sepulang ibadah haji kemudian perlu menabalkannya dalam penulisan nama. Bayangkan, tiga kali naik haji gelarnya bisa HHH!
Soal gelar memang sesuatu yang serius di Indonesia Raya. Mengirim undangan pengantin saja, ada semacam permintaan maaf bila-bila masa salah tulis dalam penyebutan nama dan gelar. Biyingkin, gelar akademis pun menjadi pemikiran dalam undangan mantenan. Kalau bergelar ‘prof’ terus ditulis ‘prov’? Bisa-bisa kagak jadi nyumbang!
 
(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)
Friday, August 7, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: