Pancasila, Toleransi dan Prestasi

Oleh: Hari Yono

 

Ada pengalaman menarik saat kemarin kami melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan salah satu komisi DPR RI. Secara umum anggota komisi setuju pengarusutamaan nilai nilai Pancasila perlu makin digalakkan. Bahkan secara eksplisit DPR RI mendukung penguatan kelembagaan BPIP. Komitmen anggota DPR dalam memperjuangkan Pancasila, termasuk dalam pendidikan formal tidak perlu diragukan lagi. BPIP sanget berterimakasih banyak atas dukungan dan komitmen yang diberikan. 
 

Ada satu hal yang bersifat contoh dan teknis yang masih perlu didiskusikan dan menurut saya memang perlu diwacanakan serta dilaksanakan terus menerus, yaitu pentingnya diksi inovasi dan prestasi dalam pengarusutamaan nilai nilai Pancasila.  

Saat itu saya menjelaskan salah satu contoh aktivitas BPIP yang langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat. BPIP memberikan apresiasi terhadap aktivitas pegiat kampung dan kehidupan gotong royong kampung yang kreatif dan inovatif. 

Salah satu kampung tersebut adalah kampung Mujair yang ada di Blitar. Kampung Mujair berada di Blitar. Masyarakat berhasil menjadikan almarhum Ivan Dalauk nama asli pak Mujair sebagai ikon yang inspiratif. Salah satu tokoh muda yang terinspirasi adalah mas Boeing Setiawan, tokoh muda yang berhasil menemukan varietas padi unggul, yaitu padi PIM (Petani Indonesia Menggugat).
Sampai disini ada interupsi dari salah satu anggota Dewan yang terhormat bahwa itu bukan tugas BPIP. Tugas BPIP lebih pada usaha menyemai toleransi bukan bicara prestasi. 

Selaan semacam ini juga pernah saya alami dalam dialog dengan komunitas. Berhubung waktu yang terbatas tidak memungkinkan ada penjelasan detail yang bisa saya sampaikan bahwa Pancasila selain terkait dengan toleransi juga harus diikuti dengan inovasi dan prestasi. 

Saya menyadari bahwa selama ini narasi Pancasila sarat dengan nilai kerukunan, harmoni sosial dan toleransi. Pelbagai aspek yang terkait dengan nilai nilai persatuan bangsa cukup dominan. Pancasila sebagai pemersatu bangsa sangat kental dengan nilai TOLERANSI. Sementara inovasi, kreasi dan prestasi jarang dibahas. 

Padahal kita juga tahu bahwa Pancasila bukan sekedar dasar negara yang digunakan untuk mempersatukan bangsa dengan latar etnis, ras, agama, keyakinan, budaya serta tradisi yang beragam. Pancasila juga menjadi bintang penuntun bagaimana bangsa Indonesia dapat mewujudkan diri menggapai visi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 
Untuk menggapai visi negara tersebut persatuan dan toleransi menjadi aspek yang sangat penting. Tetapi kita sebagai bangsa tidak mungkin dapat berdaulat dan makmur tanpa ada inovasi dan prestasi. 

Sebagaimana yang pernah disampaikan bung Karno, di seberang jembatan emas itulah bangsa Indonesia harus mengisi kemerdekaan. Dan upaya mengisi kemerdekaan adalah melaksanakan pembangunan sebagai salah satu wujud pengamalan Pancasila. 

Dan dalam pembangunan itulah bangsa Indonesia harus bersatu agar tidak menghabiskan energi bangsa untuk saling curiga bahkan berseteru. Persatuan bangsa membutuhkan toleransi di antara sesama elemen bangsa. 

Untuk menjadi negara yang berdaulat, maju dan makmur toleransi saja tidak cukup. Diperlukan sebuah inovasi, tokoh tokoh yang berprestasi untuk menjadikan bangsa Indonesia merdeka dalam segala hal. Melalui inovasi dan prestasi kemandirian dalam bidang ekonomi dapat digapai. Melalui kreasi, inovasi dan prestasi kebudayaan dapat terus dibangun sesuai kepribadian bangsa. Berkat kemandirian dalam bidang ekonomi dan kebudayaan yang berkepribadian, kedaulatan dalam bidang politik dapat ditegakkan. Jalan TRISAKTI selain membutuhkan toleransi juga membutuhkan inovasi dan prestasi. 

Untuk itulah pengamalan nilai nilai Pancasila selain sarat dengan nilai TOLERANSI juga harus dibarengi dengan nilai dan praksis kehidupan yang berkelindan dengan INOVASI dan PRESTASI. 
Pancasila sebagai dasar negara harus bisa menawarkan kehidupan kebangsaan yang sehat, kehidupan kenegaraan yang penuh harapan sehingga Indonesia kedepan lebih maju, adil dan makmur. Semoga. 

Kemanggisan, 26 Nov '19.

 

(Sumber: Facebook Hari Yono)

Tuesday, November 26, 2019 - 19:45
Kategori Rubrik: