Pancasila, Kita dan Baduy

ilustrasi

Oleh :Eddy Sinang Trenggono

Beberapa waktu lalu, di Jakarta orang orang kota yang berpendidikan dan beragama, saling tuduh dan hujat, masing masing merasa mereka yang paling Pancasilais. Keributan disebabkan konflik wacana dan konsep tentang Pancasila..
Konflik tentang konsep Panca Sila, Eka Sila dan Tri Sila.

Nun jauh di Banten selatan, sekelompok masyarakat suku Baduy yang tidak berpendidikan, hidup tentram dan damai.
Mereka tidak mengenal Pancasila secara teori dan tidak pernah ikut Penataran P4.Mereka tidak pernah ikut group diskusi, ber seminar atau ber webinar tentang Pancasila. Hari lahir dan hari kesaktian Pancasila tanggal berapapun mereka tidak tahu.
Malah mereka sering juga dicibir seolah sebagai kelompok yang terbelakang dan "belum ber agama".
Tapi dalam kenyataannya mereka telah mempraktekkan Sila Sila Pancasila dalam kehidupan sehari hari secara konsisten. Mereka tidak pernah mengklaim Pancasilais atau merasa diri orang Saleh.
Kehidupan mereka jalani sesuai kepatuhan pada adat dan ajaran nenek moyang.
Walau tidak menyebut dengan sebutan Allah atau Tuhan, mereka mengakui adanya Zat Maha Penguasa dan Pencipta kehidupan. Sikap mereka welas asih terhadap sesama manusia, jarang berkonflik atau bersikap agresif. Bahkan mereka welas asih terhadap seluruh penghuni alam.
Walau tidak punya KTP mereka sangat patuh terhadap Pemerintahan Indonesia siapapun Presidennya. Kepatuhan mereka pada negara diekspresikan dalam kunjungan mereka ke Bupati setahun sekali sambil membawa hasil bumi.

Mereka terbuka dan bersahabat terhadap semua orang apapun suku dan agamanya.
Berunding, bermusyawarah, ber gotong royong dan bermufakat adalah bagian dari kehidupan yang biasa mereka lakukan. Antar sesama anggota suku saling bantu dan memberi. Mereka bukan masyarakat yang kaya atau berlimpah tetapi masyarakat mereka berkeadilan sosial. Saling bantu dan tolong menolong.

Jika kita bicara Pancasila dalam tataran konsep dan teori, sesama kita akan terus saling berdebat dan konflik.
Tetapi jika kita langsung mempraktekkan Pancasila dalam kehidupan, kita akan jadi masyarakat yang aman, tentram dan damai tanpa ada kriminalitas seperti kehidupan masyarakat Baduy

Pancasila bukan konsep utopis. Masyarakat suku Baduy contoh realisasi Pancasila dalam kehidupan nyata.

" Nggeus ntong loba omong, praktek keun wae!!! "
kata seorang Kakek yg duduk disebelah saya sambil mengepul kan asap kretek ke udara.

Sumber : Status Facebook Eddy Sinang Trenggono 

Saturday, July 11, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: