Pancasila Itu Tengah

Oleh : Arif Maftuhin

Jika kita sepakat bahwa Pancasila adalah ideologi konsensus, maka kita juga harus menerima Pancasila sebagai ideologi tengah. Ya, tengah. Bukan netral.

Saya sering melihat orang menyamakan tengah sebagai netral. Tidak. Tengah itu artinya tidak ke kiri dan tidak ke kanan. Ya menolak ke kiri dan menolak ke kanan.

Orang yang menafsirkan Pancasila sebagai ideologi konsensus dengan netral itu mengira bahwa kita harus terbuka terhadap semua ideologi. Karena terbuka, ya kita tidak boleh melarang ideologi HTI.

Lha konsensus itu apa? Bukankah konsensus itu menyaratkan agar setiap pihak meninggalkan sekian jengkal ideologi mereka untuk mendekat ke posisi ideologis lawannya. Bukankah tidak boleh ada yang menang mutlak?

Contoh riilnya, kelompok Islam meninggalkan 7 kata syariat Islam dengan menerima pasal ketuhanan (bukan Allah) yang Maha Esa. Sebagai konsensus, maka ideologi negara berdasarkan ketuhanan menolak ekstrem atheisme dan deisme Syariah.

Itu juga berarti bahwa kalau kita menolak ideologi organisasi semisal khilafatisme HTI bukan karena kita sok Pancasilais sendiri tetapi karena khilafatisme HTI ada di ujung ekstrem yang anti konsensus tadi. Bahkan dapat dikatakan sebagai ideologi yang tidak punya saham kemerdekaan, datangnya belakangan, dan ingin mengubah konsensus.

Pancasilais itu wajib bersedia mengorbankan sejengkal ideologinya untuk memberi ruang mendekat bagi sejengkal ideologi lain. Nah, kalau Anda masih bermimpi Indonesia menjadi negara Islam (apa pun versinya), maka bisa dipastikan Anda tidak Pancasilais. Anda itu kanker bagi Indonesia, negeri konsensus yang diperjuangkan ulama dan diwariskan untuk menjadi rumah setiap orang Islam untuk hidup dengan saudaranya yang non-Muslim secara damai.

Tengah itu tidak netral. Tidak terbuka. Dan menolak ekstrem.
و خير الأمور أوسطها

#haripancasila
#catatanR1439H

Sumber : Facebook Arif Maftuhin

Friday, June 1, 2018 - 11:30
Kategori Rubrik: