Pancasila itu Ideologi yang Islami

Oleh; Sumanto Al Qurtuby

 

Sejumlah kelompok Islam yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan "ideologi Islam" karena beranggapan bahwa Pancaila adalah "ideologi thaghut-kapir-sekuler" yang tidak Islami adalah keliru besar.

Pancasila itu sangat Islami, sangat Qur'ani, dan sangat syar'i. Tidak ada satupun dari lima sila dalam Pancasila itu yang tidak sesuai dengan spirit Islam dan nilai-nilai keislaman. Semua sila dalam Pancasila juga bisa dicari "legitimasi teologisnya" dalam Al-Qur'an karena memang Al-Qur'an menjadi salah satu rujukan dalam merumuskan Dasar Negara ini.

Jika Pancasila tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan Al-Qur'an, tentu saja para ulama dan tokoh Muslim yang terlibat dalam perumusan Dasar Negara ini tidak akan mungkin menyetujuinya.

Coba Anda kaji dengan jernih dan seksama dengan pikiran waras dan terbuka, maka semua sila dalam Pancasila sangat Islami dan Qur'ani sekali. Misalnya, sila pertama menegaskan tentang prinsip-prinsip fundamental keesaan Tuhan atau tauhid. Sila ini juga meneguhkan Indonesia sebagai "negara yang berketuhanan". Kemudian sila kedua meneguhkan tentang pentingnya kemanusiaan atau humanisme. Islam dan Al-Qur'an jelas menjunjng tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sila ketiga menggarisbawahi tentang pentingnya persatuan yang melintas batas agama, etnis, dan golongan. Ini juga sangat Islami dan Qur'ani sekali. Lalu, sila keempat yang antara lain menunjukkan tentang pentingnya bermusyawarah dalam mengambil keputusan juga sangat Islami dan Qur'ani. Terakhir, sila kelima, tentang keadilan sosial yang jelas-jelas sangat sesuai dengan nilai-nilai keislaman, ajaran Al-Qur'an dan spirit kenabian.

 

Jadi, atas dasar apa mengatakan Pancasila sebagai "ideologi thaghut-kapir-sekuler"? Apakah karena Pancasila tidak memakai Bahasa Arab? Yang berbahasa Arab kan belum tentu Islami dan Qur'ani juga Mat?

Jadi, saya sarankan kepada jamaah Mamat dan Mimin dimanapun kalian berada untuk membiasakan diri berpikir secara "substansial", bukan secara "formal". Biasakan mencermati "esensi" bukan yang tampak diluar, "isi" bukan "kulit", "daleman" bukan "luaran", dan seterusnya. Bukankah "isi" lebih oke ketimbang "bungkus"? Contohnya: kacang sama bungkus kacang, kan lebih enak kacang? Contoh lain: kutang sama "isi kutang". Mau pilih mana?

Yang meributkan Pancasila itu sejatinya seperti orang yang meributkan merk, desain, ukuran, dan warna kutang tetapi lupa dengan "susu mlenuk" isinya kutang he he. Ayo Mat jangan kapok nyusu supaya tambah gede dan pinter...

#PancasilaIdeologIslami

 

Sumber; Facebook Sumanto AQ

Sunday, April 16, 2017 - 18:15
Kategori Rubrik: