Pancasila Itu Falsafah Negara bukan Idiologi

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Apa itu falsafah....?

Definisi tentang filsafah antara filsuf berbeda..., karena memang sifatnya tidak absolut..., tetapi relatif.

Mengapa....?

Karena definisi itu tergantung sudut pandang masing masing..., sesuai dengan kapasitas keilmuannya dan lingkungan dimana dia berada.

Sementara..., idiologi adalah ide yang lahir dari pemikiran segelintir manusia..., dan orang banyak dipaksa untuk memahaminya.

Jadi..., beda sekali antara falsafah dengan idiologi.

Mari kita lihat analogi sederhana di bawah ini...:

Waktu negeri ini akan didirikan..., timbul pertanyaan...: apa idiologinya...?

Kalau ditentukan katakanlah..., nasionalis atau sosialis...; pasti kelompok komunis dan islam protes.

Mereka pasti tidak mau..., begitu pula sebaliknya.

Kalau ngotot diterapkan idiologinya..., kita yakin sampai kapanpun tidak akan pernah negeri ini merdeka.

Bahkan..., kemungkinan besar bisa mengarah kepada perang saudara.

Misalnya saja...: Katakanlah semua sepakat idiologi negara adalah Islam.

Pasti ribut lagi soal bentuk negara....; Republik atau monarki....?

Kalau monarki..., siapa yang mau jadi raja atau khilafah.

Baru saja ada yang tunjuk tangan..., langsung yang lain protes.

“Enak aja..., emang siapa loh....?"

Kalau Republik..., siapa yang jadi presiden...?

Kalau yang ini mudah..., tinggal musyawarah...., toh dia bukan kekuasaan absolut.

Kita bersyukur ketika mempersiapkan kemerdekaan negeri ini..., para pemimpin kita orang yang waras atau rasional dan bijak..., karena mereka tidak berbicara tentang idiologi.

Semua idiologi..: nasionalis..., komunis..., sosialis..., dan islam...; mereka lepaskan dari diri mereka...; sehingga persatuan dan kesatuan di antara mereka sangat kuat.

Jadi apa yang mereka kemukakan....?

Jawabannya adalah...: falsafah.

Nah..., falsafah ini sebagai upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap..., tentang seluruh realitas.

Realitasnya apa...?

Kita terdiri dari berbagai suku..., agama..., dan golongan...; itu realitas kita.

Agar falsafahnya kepada definisi yang sama..., maka dipilihlah KeTuhan an sebagai awal dan akhir...; itu dasarnya.

Mengapa KeTuhan an...?

Karena ketika bicara Tuhan...; maka perbedaan atas suku..., agama..., dan golongan akan punya persepsi sama.

Sama dalam hal apa....?

Tentang nilai-nilai kemanusiaan..., persatuan..., musyawarah..., dan keadilan sosial.

Dari persepsi yang sama itulah lahir istilah “Pancasila”.

Jadi..., Pancasila itu adalah pandangan (persepsi) sistematik tentang realitas.

Kalau kita pahami ini..., maka tentu dengan mudah kita dapat simpulkan..., bahwa Pancasila itu alat persatuan..., di mana di dalamnya ada agama..., suku..., dan golongan.

Bagaimana dengan idiologi dan bentuk negara...?

Idiologi dan bentuk negara..., tidak lagi jadi issue yang dibahas..., karena sudah dikunci oleh falsafah negara.

Jelas tidak mungkin sistem monarki atau khilafah..., karena falsafah kita mengenal istilah musyawarah dalam mengambil keputusan..., bukan tunggal.

Soal idiologi..., apapun itu selagi tidak bertentangan dengan nilai nilai kemanusiaan..., persatuan..., musyawarah..., dan keadilan sosial...; ya silahkan diterapkan.

Kalau ada perbedaan..., ya harus disesuaikan dengan falsafah Pancasila.

Lantas mengapa kemudian sejarah mencatat komunis dan Darul Islam berbeda persepsi tentang Pancasila...?

Karena..., baik Islam maupun komunis dalam konteks politik punya prinsip internationalisasi.

Sementara..., akar dari falsafah Pancasila itu digali dari sosial kultural (kebudayaan) nusantara...., tidak ada kaitannya dengan internationalisasi.

Jadi...,keberadaan komunis dan darul Islam itu tertolak secara otomatis oleh Falsafah Pancasila.

Walau mayoritas penduduk Indonesia adalah islam..., namun islam mereka adalah kearifan lokal bukan international..., jadi tidak mungkin mereka bisa menerima konsep darul islam atau komunis.

Kalaupun ada..., itu persentase nya hanya di bawah 10%.

Mereka memang minoritas..., tapi berisiknya minta ampun.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Thursday, February 27, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: