Pancasila dan Pagebluk

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib 

Agar Pancasila tidak karatan dan dicampakkan mari kita bangkit. Gotong-royong memuliakannya agar dia didudukan kembali kepada maqam sejatinya sebagai pandangan hidup sederhana masyarakat kita yang kompak selalu, saling membantu, saling peduli. Ringan sama dijinjing berat sama dipikul (silih asah, silih asih silih asuh, Sunda)

Tapi kehidupan seperti itu di Indonesia semakin tergerus, makin sedikit yang melakukan itu dan menjelang musnah jika tak ada yang mencoba untuk menghidupkannya kembali. Pandangan dunia materialisme Barat sudah meranjing elit dan kaum menengah bangsa ini. Rakyat ditinggalkan sendiri dan dikhianati. Padahal rakyat sesuai kesepakatan konstitusi adalah pemilik daulat begeri ini. Untuk itu makanya diadakan pemilu setiap lima tahun, cari suara rakyat. Pemilu yang selalu tidak jujur dan akal-akalan. Pemimpin yang tidak siap mengabdi, melainkan mau korupsi. Sistem yang kaku. Birokrat yang sudah karat dengan tabiat nyolong. Pengusaha licik. Aparat yang jadi pagar ayu buat mendukung kebobrokan politisi, birokrat, pengusaha dan penegak hukum.

Santri Kalong : Bagaimana hal ini Kang Mat.

Kang Mat : Jauh sebelum Indonesia diproklamasikan 1945, tabiat utama bangsa kita yakni gotong royong, sudah larut mendarah daging dalam dimensi budayanya.
Barat bingung ketika berhadapan dengan perang Rawe-Rawe Rantas di Surabaya 10 November. Mantan Presiden Pakistan Ziaul Haq yang waktu itu jadi tentara Gurka Pasukan Inggris menjadi saksi keganasan perang rakyat semesta Bangsa Nusantara yang sulit dibedakan dengan tawuran massal.
Kalau dalam bahasa wayang itu Semar Tiwikrama, rakyat kecil menunjukan kesejatian amarahnya. Selain Nusantara tidak lain punya watak begini. Seperti pernah ditulis dalam sebuah syair menggambarkan tabiat rakyat nusantara : Kalau rakyat sudah bangkit, melawannya cari penyakit.

Tapi kebangkitan yang dibutuhkan kali ini bukan sebuah kebangkitan dari penjajahan yang menginjak-injak. Penjajahan kali ini adalah penjajahan soft, penjajahan lunak. Pelurunya bukan timah. Tapi bisikan-bisikan lewat media Barat, lewat negara, lewat agama yang didangkalkan. Karena selalu saling rebutan kekuasaan, muduh dengan leluasa terus mengadu domba melemahkan kita.
Kebangkitan yang dibutuhkan adalah kebangkitan akal dan kembali pada jatidiri bangsa.

Santri Kalong : Menurut kamu gimana Bong ?

Bung Cebong : Seperti ketika kita dibujuk rayu faham komunisme, juga kapitalisme, belakangan khilafahisme. Pembesar kita masih terpikat untuk khianat pada Pancasila. Bahkan itu dilakukan oleh elit kita yang bersekongkol jadi Oligarky. Negara kita jadi bancakan pemilik partai, pemodal pemuja rente, birokrat pengejar komisi, penegak hukum jual pasal. Dan atas lindungan aparat mereka tenang melakukan mufakat jahat, khianat pada sila ke lima Pancasila. Gotong-royong nasibnya seperti bulan malam yang tak dihiraukan sejak listrik masuk desa. Semua pakai cara proyek. Sepertinya negara ini ada dipersiapkan untuk swasta berduit, melupakan amanat penderitaan rakyat. Mau dijadikan seperti gaya Barat disemua bidang. Proyek jadi mutlak, direwangi duit ngutang. Kita ada di sebuah realitas yang tidak lagi seperti yang diisyaratkan oleh Pancasila dan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Kita sudah melenceng.

Dul Kampret : Realitas bangsa yang sudah melenceng dari komitmen dan tujuan awal, terlihat saat musibah pandemi atau pagebluk ini. Buah dari dominasi politik praktis dan pembangunan orientasi proyek fisik, kita lihat hancurnya budaya gotong royong. Yang tampak sekarang adalah cari selamat masing-masing. Tidak terbiasa kerja menggunakan rasional. Pandemi Covid-19 setidaknya lima hal utama itu harus berjalan baik. Pertama menghindar, dilakukan dengan berbagai cara jaga jarak sosial dan fisik dan terapkan sadar kebersihan. Kedua, screening yakni memisahkan orang sakit dan orang sehat, bisa dengan yang paling sederhana tes suhu, rapit tes atau alat lagoritma seperti di Iran. Tahap berikut memisah orang sakit Covid-19 dan sakit lainnya lewat alat RT-PCR dengan diambil dahak/swab. Kelima mengurus yang terdampak. Mari kita kompak gotong-royong, ambil peran seminimal mungkin. Jangan ada yang bertengkar politik di masa susah ini, itu namanya Penunggang Cobid-19. Jangan biarkan pemerintah bekerja sendiri.

Wan Bodrwx : Pace kau ambil peran apa. ?

Paca Yaklep : Sa ini orang kampung. Bisanya pergi kebun. Sa ingat tete, orang tua dolo dolo. Di kita punya kebun lengkap, ada siapu (uwi), keladi (talas), betatas (ubi jalar), singkong (ubi kayu), gadung, ganyong. Semua sayur ada. Mancing ka, jaring ka, molo dan balobe. Makanan tumpuk di atas tungku kayu api dapur sepanjang masa tersedia tersusun rapi. Tapi karena mau modern tiru Barat jadi, ini kam semua babingung kata krisis pangan ka. Pembangunan selama ini salah, karena menghapus kearifan lokal ketahanan pangan.
Ujungnya sekarang rasa to, susah. Corona kasi tunjuk.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Sunday, May 3, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: