Pancaroba Politik Indonesia

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Sejak kemerdekaan RI dan musim silih berganti, dunia perpolitikan Indonesia selalu menampilkan nuansa dan warna merona sesuai zamannya. Soekarno-Hatta saja pernah tidak saling menyapa, walau di akhir hayatnya Soekarno dijenguk Hatta, dgn sesenggukan teman akrabnya itu meneteskan air mata melihat Soekarno yg dionggokkan Soeharto di Wisma Yaso penuh dgn derita diluar nalar biasa. Hamka sebagai sosok yg berseberangan dgn Soekarno pun bersedia menshalati jenazah Bung Karno Sang Putra Pajar yg dipudarkan diujung hidupnya. Proklamator itu dianggap kotor, dgn teror dia digelontor, sakit dgn rawatan dokter hewan adalah sebuah kebiadaban, tapi itulah politik yg selalu kejam merajam.

20 thn masa pemerintahannya Soekarno jg diganggu lawan politiknya, diapun tak segan untuk melawannya, Kahar Muzakar bekas ajudan kesayangannya akhirnya juga jd musuhnya, Kartosuwiryo teman seperguruannya yg belajar kpd guru sekaligus mertuanya Ki Hajar Dewantara akhirnya harus dihukum mati krn pemberontakannya mengancam Indonesia. Soekarno akhirnya dihabisi juga oleh rezim orde baru tanpa daya, dengan terstruktur, dan bahkan bekasnya saja harus tidak ada. Memakai segala tipu daya Soeharto berupaya seolah Indonesia tiba2 ada tanpa perlu Soekarno dan pahlawan lainnya. Soeharto tampil sbg pahlawan sekaligus preman.

 

 

Reformasi yg kurang persiapan, Indonesia akhirnya lepas dari cengkraman rezim pemangsa lawan , jangankan berkompetisi, diskusi saja kalau mereka dengar pasti dihabisi, boro2 bs buat partai baru diluar tiga warna, Kuning, Merah dan Hijau, semua akan dianggap seteru, tekanan itu begitu kuat shg titik kulminasinya meledakkan sebuah keberanian, rakyat melawan. Soeharto lengser keprabon, Indonesia reborn. Pengisian petinggi negeri silih berganti dgn usia memerintah yg getas dan nyaris tanpa bekas. Diisi tekhnokrat, Kiayai, Nasionalis, Militer dan civil yg mulai berhasil walau diganggu penuh dgn ke-USILAN murahan dari orang2 berpikiran dan penikmat hasil jarahan.

2019 didepan mata, 5 thn Indonesia dipimpin Jokowi, manusia tawadhuk dan baik budi. Walau gangguan terus terjadi namun dia jalan dgn tekad merperbaiki negeri yg puluhan tahun nyaris diurus setengah hati oleh orang2 keras hati sekaligus berperangai pencuri.

Situasi terkini dan praktis 5 thn terakhir, Indonesia tdk lagi cuma dizholimi melalui informasi dan prilaku busuk politikus rakus. Pelintiran info dan fitnah terstruktur tdk lagi bs di toleransi kt harus meladeni akhlak tak terpuji ini agar mereka bisa berhenti dan sadar bahwa kelakuannya merugikan semua lini dan sendi negeri yg indah ini.

Tidak ada yg bisa melarang anak negeri menjadi pemimpin dinegeri sendiri, namun caranya harus berbudi jgn seperti pencuri, memaki2, tinggi hati, sara dijadikan alat bicara, pagi bilang haram sore dijilat lagi. Mau jadi presiden atau pejabat ternama semua mekanismenya sudah ada, jadilah manusia mulia jgn cuma pinter naik kuda, yg dijual cuma ringkikannya. Jakarta seolah kemenangannya padahal itu awal kekalahannya, anak asuhnya tertawa jadi gubernur sok kuasa, skrg sdg memainkan peran dimana2 cari lawan, sayang pancingannya tak direspon karena memang kelihatan beloon.

Kita, rakyat Indonesia jgn terpedaya dgn penampilan dan retorika, skrg kali pertama stlh orba kt dapat presiden yg terus bekerja tanpa banyak bicara, infrastruktur tersambung dimana2, jelas hasilnya, cuma orang idiot yg mau diajak pindah mazhab dan percaya kepada apa yg belum ada.

Pancaroba adalah penggantian musim dgn angin yg tidak menentu, ada angin besar yg bisa merubah situasi. Terpaan itu yg harus diwaspadai jangan mau lagi cuma dikasi janji, alih2 ditepati, paling jawabannya : EH JANJI SDH AKU BERI, BANYAK YG LAIN TAK KAMI BERI JANJI, sambil nyengir dalam hati mrk mencibir : KALIAN SUDAH KM KIBULI..

# Jangan mau dikibuli berkali-kali, ciliwung saja tak bisa mereka beresi apalagi ngurus negeri..NGIMPI WO, NGIMPI...

Wednesday, December 27, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: