Panama Pampers

Oleh: Denny Siregar
 

Berapa jumlah nol-nya ketika disebutkan Rp 11 ribu triliun ?

Kalau kata orang betawi, bererot atau berderet-deret. Jangan kaget, sekian besar itulah potensi uang orang-orang Indonesia yang diparkir di luar negeri, di negara tax haven atau negara dgn tarif pajak yg sangat rendah.

Negara tax haven memang surga bagi pemilik uang besar. Mereka bisa menyimpan uangnya tanpa takut dikejar-kejar pajak, karena data-data mereka aman. Biasanya nama mereka tidak tercantum dalam rekening, karena mereka hanya dikenal dengan nomor saja.

Jangan bayangkan negara tax haven itu seperti negara Indonesia yang ramai. Istilah negara itu sebenarnya lebih kepada suatu penamaan saja, padahal sejatinya mereka berada di wilayah satu negara. Seperti Labuan yang masuk dalam region Malaysia. Disana sepi, tapi banyak hotel dan ada bandaranya sendiri. Tidak ada mall, malah mirip seperti desa yang modern. Jauh dari keramaian.

Disanalah orang-orang kaya yang ingin "menyembunyikan" uangnya pulang dan pergi hanya untuk membuka rekening. Sama seperti di British Virgin Islands, Mauritius, Panama dan banyak lagi.

Dan Menteri Keuangan mengindikasikan potensi uang yang beredar di "negara-negara" itu, sebesar total Rp 11 ribu triliun rupiah, jika di hitung sejak parkirnya uang-uang disana mulai tahun 1970, dimana 1 dollar masih 2 rebu rupiah.

Trus mau diapain uang itu ? Mau dirampas ? Tentu tidak-lah, karena itu juga bukan uang hasil korupsi, tapi penghindaran pajak yang tinggi.

Ada 2 opsi yang sekarang di gali dengan cermat.

Yang pertama adalah mengenakan pajak kepada para pemilik uang. Wah, kalau begitu sudah bukan "heaven" lagi namanya, tapi "hell". Anda bisa bayangkan, uang yg di parkir nilainya triliunan rupiah, padahal itu parkir doang. Nah, kalau uang yg diparkir itu disuruh bayar pajak, bisa bangkrut bandar. Nangis bombay sambil nari-nari di tiang-tiang atau pepohonan.

Opsi kedua adalah tax amnesty, atau pengampunan pajak. Jadi, ente gak perlu nari di pohon lagi ya, tapi ente tarik duit ente dan bawa ke dalam negeri. Uang itu bisa ditaruh di perbankan nasional yang akan menguatkan pondasi keuangan bank-bank. Dan dana segar itu akan disalurkan ke proyek2 infratruktur yang skrg sedang dibangun gila2an oleh Jokowi.

Nah, mau pilih mana ? Tetap disimpan diluar tp kena pajak, atau dibawa ke dalam negeri tp disalurkan dlm proyek dimana pemilik dana jg dapat keuntungan ?

Rp 11 ribu tiliun  itu sungguh bukan jumlah yang sedikit. Dengan dana itu, Indonesia tidak perlu lagi banyak berhutang keluar negeri, tapi mengembangkan potensi sendiri tanpa syarat-syarat politis yg mengikat yang biasanya diajukan IMF atau World Bank. Dan jika itu bisa terjadi dalam waktu dekat ini, potensi ekonomi Indonesia akan meluncur pesat.

Catat, ini hanya bisa terjadi di masa pemerintahan Jokowi. Jadi jangan terus plonga plongo lalu bertanya berulang-ulang, "Apa yang dilakukan Jokowi ? Apaaa ? Apaaa ?" Cut ! Cut ! Ekspresinya kurang menjiwai. Kamera rolling, kembali plonga plongo ya.. Nah, Action !

Butuh secangkir kopi untuk memahami cerita "panama papers" itu, tapi butuh berpampers-pampers untuk menjalankannya, terutama sediakan pampers untuk mereka yang punya uang di luar negeri dan dipaksa mengambil opsi.

Seruuuuuupuuuuuttt.... Akh !

 

Sumber: Facebook Denny Siregar)

Wednesday, April 6, 2016 - 14:15
Kategori Rubrik: