PAN, Zulkifli dan Blunder

Oleh: Sunardian Wirodono

 

PAN singkatan dari Partai Amanat Nasional. Tapi bagaimana kalau berubah menjadi partai amanat nasi sudah menjadi bubur?

Kita tak tahu, namun itulah blunder partai yang dikutuk berada dalam angka 7% itu. Perolehannya, sejak pertama kali ikut pemilu, tak pernah di atas angka itu.

Sama dengan Partai Bulan Bintang yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra, yang bahkan tak lolos electoral threshold. Partai yang elitenya lebih meramaikan wacana kepolitikan, karena dengan itulah cara untuk terus eksis.

 

 

Sayangnya, Amien Rais yang dipakai ikon, bukan makin tua makin abadi, melainkan makin tua makin keladi. Dan dia biangnya. Hanya karena mis-leading dengan Jokowi, dia kini sangat tergantung pada Prabowo. Dengan itulah ia bisa bermain aman.

Sementara Zulkifli Hasan, ketua umum PAN sekaligus besan Amien Rais, bukan politikus piawai dan santun. Bukan dalam kata-katanya yang halus dan sopan, tapi etika kepolitikan dan sensibilitasnya masih rendah.

Pernyataan blundernya soal JK dan Anies waktu Pilkada DKI, menunjukkan kementahannya berpolitik. Kawan yang berbahaya dalam istilah politik. Yakni, tak bisa menjaga mulut. Beda dengan Ahok, meski cablak tapi soal pekerjaan, bukan aib orang.

Kini setelah posisi PAN terjepit, akibat bermain di dua kaki dalam RUU Pemilu kemarin, setelah sehari sebelum voting menemui Jokowi dan menyatakan kesetiaan, elite PAN menyatakan sikap terbuka kemungkinan untuk mendukung Prabowo, Jokowi, Gatot Nurmantyo, dan mungkin lainnya. Tergantung. Tergantung apa? Ibarat cuci-gudang, yang terjadi adalah banting harga.

Partai politik tanpa karakter, tentu juga tidak akan punya wibawa dan harga, untuk pantas dibeli rakyat. Pada sisi itu, PAN kemungkinan suaranya makin jeblok, lebih karena ketidakjelasan arah perjuangan dan platform politiknya. Keliru besar menganggap mereka bisa menggertak Jokowi. Justeru dengan gaya Arjuna melawan Cakil, sikap Jokowi membuat PAN terjebak dalam permainannya sendiri.

Blunder politik, biasanya hanya dialami lebih karena ingin bermain aman. Termasuk walk out saat voting, yang menunjukkan kelucuan tingkat tinggi politik Indonesia. Semua orang tahu, walk out yang dilakukan menjelang voting (yang hasilnya sudah diketahui bakal kalah suara), adalah langkah pengecut.

Sudah walk out, mereka bilang produk UU tidak konstitusional dan tidak ikut bertanggung jawab. Tapi duit sidang dikantongi! Ini memang politik uang receh, yang tak mempedulikan karakter dan pride. Itu blunder PAN. Apa itu blunder? Kesalahan yang bodoh. Bisa jadi, memang PAN inisial Pak Amien Ndeso. Ke mana-mana curcol, sembari devide et impera, termasuk pada Prabowo, pujaannya sekarang, yang dulu dikutuknya.

 

(Sumber: Facebook Sunardian)

Monday, July 24, 2017 - 08:30
Kategori Rubrik: