PAN dan PKS Bakalan Tak Punya Gerbong Dalam Pilpres 2019

Ilustrasi
Oleh : Sahir Nopi
 
Saat ini PAN dan PKS memang terlibat dalam koalisi bersama Gerindra serta Demokrat untuk mengusung Prabowo menjadi Calon Presiden dalam Pemilihan Presiden tahun depan. Batas akhir pendaftaran pasangan Capres dan Cawapres akan ditutup tanggal 10 Agustus 2018 pukul 10.00 WIB. Apakah mereka tetap dalam gerbong koalisi itu ditambah Partai Berkarya dan Partai Bulan Bintang atau melompat ke kubu petahana?
 
Prediksi penulis, baik PAN maupun PKS bakal tidak masuk gerbong manapun dalam Pilpres mendatang. Mengapa? Ada banyak faktor yang bisa dikupas mengapa mereka akhirnya ditinggalkan atau mengundurkan diri mendukung Prabowo. Pertama, dalam koalisi yang mendukung Prabowo, hingga H-3 pendaftaran bakal cawapres yang mendampingi Prabowo belum jelas. Hal ini disebabkan partai yang tergabung dalam koalisi menyodorkan bakal Cawapres. Ada juga kelompok yang mengaku ulama menyodorkan nama bakal Cawapres.
 
Partai Demokrat menyodorkan AHY, PKS menyodorkan 9 nama, kelompok yang mengaku Ulama dan melaksanakan ijtima menyodorkan Ustadz Abdul Somad (UAS) dan Salim Segaf. Hanya PAN yang sepertinya “tahu diri” tidak menyodorkan nama. Fakta sebenarnya bisa jadi tidak begitu. PAN akhir-akhir ini memiliki kesibukan luar biasa membangun performa partai akibat lontaran Dewan Penasehat mereka, Amien Rais yang berkomentar sembarangan. Akibatnya nama baik parpol dipertaruhkan. Meski tidak menyodorkan nama Cawapres, penulis percaya mereka meminta jatah menteri paling sedikit 4 dan posisi menteri yang strategis.
Kedua, posisi sama kuat antar 3 kepentingan menyebabkan mereka kebingungan. Jika nekad mengambil dari Parpol, maka 2 parpol lain akan mundur. Hanya Gerindra dan parpol yang kadernya diajukan yang tetap bertahan. Prediksinya kursi Cawapres akan dilepas ke non parpol. Dan nama yang paling kuat tentu saja UAS. Jika UAS masuk, otomatis Partai Demokrat akan memaksa meminta jatah posisi menteri paling banyak. Mengapa? Perbandingan hasil suara menunjukkan PD terbanyak kedua setelah Gerindra (10,7 juta), PAN (9,4 juta) dan PKS 8,4 juta. Permintaan itu mengakibatkan PKS dan PAN memperoleh jatah kursi menteri sedikit.
 
Dikarenakan jatah mereka minim, mereka (PAN dan PKS) mencoba merayu kubu incumbent untuk menerima mereka. Ini bisa dilihat dari manuver Zulkifli Hasan Selasa siang menemui Presiden diam-diam. Namun ini bukan perkara mudah sebab kelompok-kelompok pembenci pemerintah diasosiasikan publik berafiliasi ke mereka. Sembilan Parpol pendukung Jokowi akan keras menolak masuknya PAN dan PKS. Lantas, PAN dan PKS bakal merayu PKB menyodorkan kursi Wapres pada Muhaimin Iskandar untuk muncul sebagai poros ketiga Capres-Cawapres. Tentu PKB tidak menerima begitu saja. Mengapa? Peluang memenangkan Pilpres sangat kecil dan jika tetap bertahan dalam koalisi pendukung Jokowi setidaknya posisi 3 menteri tetap ditangan mereka.
 
Kondisi inilah yang menjadikan mereka (PAN dan PKS) akhirnya tidak ikut dalam kontestasi Pilpres 2019. Dua parpol ini juga sedang menghadapi “tsunami” keributan yang mereka ciptakan sendiri dalam perjalanan pemerintahan 2014-2019. Mereka tidak terlihat berkontribusi positif dalam pengawasan kerja pemerintahan Jokowi – JK. Bahkan terkesan kritik atas program kerja yang dilakukan pemerintah lebih banyak tanpa data atau fakta. Ya apa boleh buat, mereka akan menanggung akibat dari ulah mereka sendiri.
 
Bye bye PKS dan PAN
Wednesday, August 8, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: