PAN dan Amien Rais Bukan Bagian Partai Allah

Ilustrasi

Oleh : Judiarso Kurniawan

Baru di tahun 2018 Amin Rais, sesepuh Partai Amanat Nasional (PAN) mengenalkan kepada masyarakat tentang adanya partai Allah dan partai setan di dunia politik Indonesia. Konyolnya, dia menganggap diri dan partainya termasuk dari golongan partai Allah. Kok konyol? Konyolnya dimana?

Baiklah..
Sebelum eyang bahas konyolnya dimana, ga ada salahnya eyang jelaskan dulu kenapa eyang nulis begini. Eyang amati Amin Rais sudah semakin jauh dari sifat kenegarawanan. Dia cuma politikus yang kalau berbicara di depan publik tidak tedeng aling-aling menyerang nama baik lawan politik. Perilaku politik begini sebenarnya tidak pantas dilakukan semena-mena oleh tokoh politik nasional karena hasilnya cuma bikin panas suhu politik tanah air yang riskan memperbesar rasa permusuhan antar pendukung tokoh politik elit terutama di kalangan grass root. Contohnya pak Ahok dikatain si pekok (bodoh), sementara muslim yang kontra terhadap pak Ahok itu tidak sedikit dan yang pro juga banyak.

Eyang dengar dia juga menjelek-jelekkan pak Jokowi, KPK, dll. Masjid pun dia pake untuk kampanye politik untuk menutup-nutupi keburukan partainya dan pihak-pihak yang satu kepentingan dengan politiknya. Beberapa waktu yang lalu dia sempat bicara tentang adanya partai Allah dan partai setan. Tentu saja dia merasa diri dan partainya ada di pihak partai Allah. Benarkah partai Allah dan partai setan itu ada? Ya sudah. Kita asumsikan saja ada, deh. Walaupun itu sebenarnya cuma mengada-ada alias fiksi alias khayalan Amin rais belaka.

Begini, cu..

Allah itu menurunkan ajaran islam. Dalam islam diajarkan amar makruf nahi mungkar. Nabi Muhammad sendiri mengajarkan, "Kalau kamu melihat kemungkaran, peringatkan dengan tanganmu. Jika tidak sanggup, maka dengan lisanmu. Jika tidak sanggup juga, cukuplah dalam hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman..". Jadi kalau di dalam institusi negara yang namanya DPR itu terdapat kemungkaran misalnya adanya upaya pelemahan KPK sehingga upaya pemberantasan korupsi di lembaga tersebut jadi semakin sulit dijalankan, adanya bancakan duit rakyat dengan mengatasnamakan proyek pembuatan E-KTP, anggota dewan banyak yang membolos ketika ada sidang, membuat UU tidak sesuai amanah kepentingan rakyat atau jumlahnya jauh dibawah target yang sudah direncanakan, dll. 

Itu rakyat sudah sepantasnya menjalankan amar makruf nahi mungkar dengan cara mengkritik di media sosial, surat kabar dll. Tidak perlu diancam akan dipidanakan segala mengingat anggota dewan sendiri kalau mengkritik pihak di luar DPR suka seenaknya sendiri. Akan tetapi, DPR justru malah mengesahkan revisi UU MD3 2018 yang isinya ada aturan yang menyulitkan pihak rakyat atau yang lainnya mengkritik DPR. Sebagian rakyat jadi takut mengkritik DPR akibat diberlakukannya revisi UU MD3 2018 tsb. Tentu saja ini membuat amar makruf nahi mungkar yang hendak dilakukan oleh rakyat lewat kritik di medsos, surat kabar, atau di media lain jadi lebih sulit karena Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) jadi punya wewenang mempidanakan rakyatnya atau pihak lain yang mengkritik DPR jika MKD menyatakan secara subjektif bahwa kritik tersebut merendahkan kehormatan dewan.

Sudah bukan barang baru kalau disamping DPR itu isinya kebanyakan orang-orang yang haus kekuasaan tapi miskin prestasi dan dedikasi, juga MKD terbukti bukan lembaga yang kredibel dalam menentukan keputusan terkait urusan kehormatan dewan. Contoh nyata adalah kasus papa minta saham. Dalam sidang MKD diputuskan bahwa Setya Novanto telah melanggar etika. Apa yang terjadi? Setya Novanto hanya dicopot dari posisinya sebagai ketua DPR sedangkan dia masih dianggap berhak mewakili rakyat sehingga masih bisa duduk di kursi dewan, bahkan tak lama kemudian malah menjadi ketua fraksi Golkar. Artinya apa? Institusi yang selama ini mengklaim sebagai lembaga terhormat ternyata tidak keberatan diisi oleh orang yang dinilai oleh institusi tersebut bermasalah dengan etika. Apa jadinya seandainya anggota dewan yang terhormat yang bermasalah dengan etika jabatan itu ternyata tidak hanya Setya Novanto tapi banyak sekali? Tentu saja DPR akan menjadi sarangnya orang-orang yang bermasalah dengan etika.

Kalau sudah begini, tentu saja makin tidak pantas DPR mengklaim diri sebagai lembaga terhormat karena tidak serius membersihkan lembaganya dari orang-orang yang bermasalah dengan etika. Kembali lagi ke urusan UU MD3 2018 yang isinya tidak sejalan dengan amar makruf nahi mungkar malah terkesan adanya upaya melemahkan semangat beramar makruf nahi mungkar, ternyata PAN adalah salah satu partai yang mendukung dilahirkannya UU MD3 2018 tersebut. Artinya tentu saja PAN termasuk partai yang menghambat ajaran islam yang sudah mengajarkan amar makruf nahi mungkar. Apakah tidak konyol kalau PAN malah dianggap partai Allah? Partai Allah bagaimana? Ajaran Allah tentang amar makruf nahi mungkar saja PAN ikut-ikutan menghalangi masak mengaku partai Allah? Tentu ini konyol.

Sama konyolnya dengan Amin rais yang merasa dirinya bagian dari partai Allah tapi tidak merasa bersalah sudah membohongi seluruh rakyat, dirinya sendiri bahkan kepada Allah terkait nazar jalan kakinya dari Jogja sampai Jakarta PP jika Jokowi menang pilpres 2014. Kapan Allah mengajarkan muslim untuk berbohong? Apa manfaatnya berbohong lewat nazar itu? Rasulullah bersabda, "Khairunnas anfauhum linnas", sebaik-baik orang itu yang bermanfaat bagi orang lain. Apakah berbohong lewat nazar itu bermanfaat buat orang lain? Kalau hasilnya malah mudharat buat orang bahkan juga agama islam, tentu sulit mengatakan bahwa Amin Rais adalah orang yang baik, apalagi sebaik-baiknya orang. Lantas siapa sebenarnya Amin Rais itu? Paling tidak jawabannya adalah orang yang berani membohongi banyak orang. Orang begini tidak pantas mengklaim diri ada di bagian partai Allah. Apakah PAN risih punya kader penting macam Amin Rais sehingga berani memberikan sanksi atau minimal teguran karena berperilaku politik yang tidak sesuai dengan ajaran Allah? Tidak. Jadi kalau di Indonesia itu memang ada dua jenis partai yaitu partai Allah dan partai setan, kalau PAN dan Amin Rais tidak cocok dikategorikan sebagai bagian dari partai Allah, tentu keduanya ada di pihak partai setan. Betul tidak, cu?

Sumber : Status Facebook Judiarso Kurniawan

Sunday, April 29, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: