Paman Sam Kejar Setoran

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Akhirnya SILIT (Saluran Internasional Langsung Internasional Ilmu Telepati) saya dengan mbah Soros berlanjut. Gara-gara ada yang protes tulisan tentang kunjungan IMF tempo hari. Berikut dialog imajiner kami:

"Mbah, gimana kok ada yang bilang Indonesia sedang menghadapi masalah ekonomi serius. Rupiah melemah, IHSG merosot, cadangan devisa tergerus dll. Tapi ada juga berita tentang posisi ekonomi Indonesia yang naik peringkat. Bukan hanya satu lembaga. Bahkan tiga lembaga independen internasional mengatakan hal yang sama. Piye iki? Bikin bingung orang macam saya mbah!"

"Begini lho le.., kemarin saya singgung sedikit bahwa salah satunya karena kenaikan suku bunga The Fed yang berdampak global. Sebenarnya yang krisis itu Amerika le. Bahkan terancam bangkrut! Sudah rasio hutangnya melampaui GDP, banyak industrinya yg gulung tikar, bahkan angka gelandangan disana juga melonjak tajam."

"Masak sih mbah? Tapi yang akan kita bahas ini Indonesia. Bukan Amerika."

"Iya, ini ada hubungannya. Masih ingat nggak waktu saya bilang cadangan kolateral Amerika semakin menipis? Ditambah langkah Jokowi yang "buying time" atau mengulur waktu terkait negosiasi Freeport. Padahal eksplorasi Freeport juga menjadi salah satu andalan cadangan kolateral mereka. Sudah begitu, Indonesia malah merapat ke China dan Rusia. Nah, ini menjadi salah satu pemicu "perang ekonomi" kalian."

"Walah, pembahasannya berat mbah! Trus hubungannya sama merosotnya rupiah, IHSG dan cadangan devisa tergerus gimana mbah?"

"Jadi, sejak diangkatnya Jerome Powell sebagai Gubernur Fed yang baru, AS dituntut untuk menaikkan cadangan kolateral nya. Salah satunya adalah cadangan devisa. Kenaikan suku bunga Fed untuk menimbulkan reaksi pasar agar menyimpan dana di pasar uang Amerika. Makanya permintaan US dollar jadi tinggi. Hukum pasar pun berlaku. Permintaan naik, harga ikut naik. Jadi menguatnya USD terjadi secara global. Dan salah satu cara untuk mengantisipasi atau mengimbangi penguatan USD, Indonesia juga harus melepaskan sebagian cadangan devisanya (USD). Daripada permintaan Dollar yang tinggi keuntungannya hanya dinikmati para spekulan, ternyata kalian juga "diuntungkan" atas aksi lepas (jual) USD itu."

"Oh, iya juga sih mbah. Ada benernya kamu."

"Dan jangan terlalu khawatir. Karena beberapa negara terutama di Eropa sudah tidak tergantung pada USD. Di ASEAN juga sudah dimulai. Selain sudah menaikkan suku bunga The Fed hingga tiga kali, bahkan saking paniknya bea masuk impor di AS dinaikkan hingga berlipat. Tapi lihat saja, itu hanya sesaat dan bisa jadi bumerang bagi Amerika. Ketika suku bunga naik, biasanya tingkat konsumsi akan turun. Pasar akan lesu, KPR disana jadi tak terbeli. Lihat saja, tuna wisma naik drastis. Ini pertarungan "hidup mati" bagi Amerika. Intinya, Paman Sam sedang kejar setoran."

"Jadi sebenarnya yang ekonomi nya bermasalah itu mereka ya mbah? Bukan Indonesia ya? Pantas saja kok ekonomi Indonesia malah naik peringkat."

"Betul, justru Indonesia kini menuju arah menjadi negara maju. Sebaliknya, Amerika sedang menuju kebangkrutan. Puncaknya pada 2021nanti. Kecuali... "

"Kecuali apa mbah?"

"Kecuali kontrak Freeport bisa diperpanjang. Atau pendudukan Israel atas Jerussalem berhasil serta berjalan mulus dan lancar."

"Wah, kok tambah ruwet dan berat mbah?"

"Bagian yang ini dibahas tersendiri nanti aja ya. Ini saya sudah kesiangan. Tak keramas Jumat dulu.. "

"Lho mbah, kamu kan... "

Tuut.. Tuut.. Tuut.. Tuuuut
*connection interrupted

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, March 10, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: