Palestine Day

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Jum'at sore, usai menikmati jadah bakar dan nasi kucing langganan saat seorang CEO perusahaan baik hati yang namanya sering muncul di media mengajak ketemu dirumahnya. Setengah males saya mengiyakan datang, walau harus mengganggu ritus keramat sama mendengarkan sajak merdu Raisa dan renyah cengkok dek Via valen. Tapi apa boleh buat ini CEO yang ngajak ketemu, apalah daya hamba seorang Vianisty dan Raisaholic ini.

Ia sudah seperti kakak bagi saya, moga ia tidak menganggap aku adik, karena terakhir kabar yang kudengar ia mendidik adiknya dengan disiplin ketat dan kerja keras. Ini bahaya bagi kelangsungan hidup Vianisty dan Raisaholic.

"Jika aku menyebut Palestina, apa yang pertama melintas dibenakmu?" tanya CEO. Berat nian pertanyaannya, tidak bisakah bertanya berapa uang didompet atau kapan hari ulang tahun mantan.

"Palestina dirampas tanahnya dan Ahed Tamimi" ujarku.

Ahed Tamimi merupakan seorang aktivis remaja Palestina yang berumur 16 tahun. Ahed menjadi terkenal setelah video dirinya menampar dan juga menendang tentara Israel tersebar. Tindakan ini membuat Ahed ditangkap pada 19 Desember 2017. Penangkapannya dilakukan pada jam tiga pagi di rumahnya oleh tentara Israel dan juga polisi perbatasan.

Di kawasan Palestina di Tepi Barat Yordan, Ahed Tamimi dipuji dan dijadikan simbol dan pahlawan dari perlawanan terhadap pendudukan Israel atas kawasan Palestina itu.

Ahed Tamimi terkenal di kawasannya sebagai bersikap keras melawan pendudukan Israel. Remaja putri ini di tahun-tahun sebelumnya juga berkali-kali melakukan aksi perlawanan aparat keamanan Israel. Antara lain pada tahun 2015 dengan aksi berani mati, mencegah penangkapan adiknya Muhammad Tamimi (ketika itu 12 tahun) yang patah tangannya dalam aksi protes menentang pendudukan Israel di Ramlaah. Tamimi juga terkenal dengan aksinya melempari batu pada kendaraan warga Israel yang melintas.

Terkait insiden tersebut, pihak Israel mengecam Tamimi sebagai provokator pemicu kekerasan. Kekejaman Israel pada keluarga Ahed Tamimi seperti mortil yang bersahutan.

Di depan mata kepalanya Ahed Tamimi, pasukan Israel menembakkan sebutir peluru karet ke tubuh sepupunya yang masih berusia 15 tahun. Musab Tamimi, pada 3 Januri 2018 lalu, tewas ditembak mati oleh Israel. Keluarga Tamimi dikenal sebagai sebuah keluarga yang selalu melawan kesewenang-wenangan Israel.

Selama bertahun-tahun pula mereka harus menghadapi penganiayaan, penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan oleh tentara Israel kepada mereka yang berdemonstrasi tiap minggu di desa kelahiran Nabi Saleh.

" Ya itulah Palestina, tapi bagaimana kamu menghadapi situasi ini?" . Ah, lagi-lagi pertanyaan berat, kenapa gak nanya lirik lagu Tewas tertimbun masa lalu Via Valen atau Mantan Terindah Raisa aja sih?

Konflik antara Palestina dan Israel yang telah berlangsung berpuluh-puluh tahun, bagaikan untaian benang yang tak memiliki ujung pangkal. Melihat Palestina, kita sejauh ini hanya mampu melakuakn protes,menangis, atau OKI yang terus mengeluarkan Resolusi di PBB yang berkali-kali juga diveto oleh AS.

"Kamu tahu apa yang dikatakan oleh Firas, ayah Musab Tamimi pada waktu anaknya yang dibunuh Israel dimakamkan? Ia berkata pada ribuan orang yang hadir 'Kita tidak bisa diam dan terus menonton, tidak ada yang mendengarkan kita - tidak ada yang merasakan sakit yang kita alami. Dunia hanya diam-diam menonton" kisah CEO itu.

Aku tahu betul CEO ini bukanlah penganut bumi datar atau model otak cingkrang bani micin latah. Ia kecebong die hard yang bertaqiyah, seperti aku yang bertaqiyah pura pura goyang saat diputar goyang dumang Cita citata ( aslinya menggaruk pantat). Tapi untuk Palestina dan ketidak adilan CEO ini orang yang waras.

"Kita sudah lelah memaki dan berteriak, saatnya kita bekerja untuk Palestina. Saya mau dikantor saya nanti sebulan sekali ada Palestine day, semua karyawan pada hari itu pakai simbol Palestina, lalu ada kotak amal tiap hari gajian. Andai banyak perusahaan melakukan hal yang sama, kelar idup Israel " cerocos CEO itu.

Ide ini cukup sederhana, namun mengena. Banyak hal yang bisa kita lakukan selain mengumpat.Jika belajar dari sejarah, ada sebuah peristiwa disaat Indonesia berada pada situasi sama dengan Palestina saat ini . Seorang M.Ali Taher pemimpin Palestina disaat Indonesia masih tewas tertimbun masa lalu #Eh terjajah Belanda, mengatakan “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!”

Pekikan Pemimpin Palestina ini membangkitkan rasa percaya diri rakyat Indonesia. Tanpa pengakuan negara-negara lain, kumandang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak akan ada artinya. Karena itu, pengakuan Palestina dan Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, tak akan terlupa.

Karenanya, Bung Karno pun berjanji untuk selalu berada di belakang Palestina. Pengakuan kedaulatan Palestina, bagi Indonesia sama pentingnya dengan pengakuan kedaulatan Indonesia sendiri di masa lampau. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.” ~ ujar Presiden Soekarno pada 1962.

Gimana nurut anda untuk Palestine Day ini?

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Sunday, January 7, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: