Palestina (Bukan Barang Dagangan)

ilustrasi

 

Oleh : Harun Iskandar

Ada yang dilupakan, atau justru ndak tahu, atau mungkin juga disengaja, saat satu kelompok atau seseorang 'bengak-bengok', Palestina ! Palestina ! Kami bersama Palestina ! 

Yakni tak mampu menakar kekuatan diri sendiri serta tak mau dan tak bisa tengok kanan kiri, atas bawah, kekuatan dan kondisi 'global' di seputaran isu Palestina.

Seperti katak dalam tempurung alias 'katrok' !

Palestina sekarang, ada Hamas, ada Fatah, ada juga Hezbullah di luar-nya. Tak ada yang mau ngalah. Tak punya lagi tokoh pemersatu seperti Yasser Arafat.

Mengapa Yasser Arafat bisa menyatukan dan dipercaya Palestina ? Karena Arafat persis seperti Bung Karno, dan Bapak2 Bangsa kita dulu, yang terbukti seluruh energi perjuangan semata hanya untuk negerinya.

Hamas, Fatah, dan Hesbullah, menang2an. Tidak saja semua sok merasa paling berhak berkuasa, tapi juga 'dikompori' konco2 mereka masing2 yang ada diluar sana . . .

Siapa saja ? Buanyak !

Jadi ? Wong Palestina ini, jangankan 'merdeka', untuk 'bersatu' saja susahnya bukan main.....

Dulu dunia Arab, penyokong utama Palestina, bersatu. Malah pernah menggempur Israel rame2, dalam perang 'Enam Hari', meski kalah.

Waktu itu belum ada 'Arab Spring' atau isu 'Syiah-shiun'. Hafes Assad dari Suriah yang Syiah, panglima perangnya dari Sunni. Irak jaman Saddam Husein yang Sunni, rakyatnya mayoritas Syiah. Biasa2 saja . . .

Sekarang ? Syiah dianggap bukan Islam oleh sebagian negara dan umat Muslim. Melulu karena 'aqidah' ? Ndak. Sebagian besar justru karena politik.

Hasil Pertemuan Ulama di Jordania tahun 2004, dalam 'Risalah Amman' menegaskan, dua aliran Syiah diakui sebagai 'mahzab'. Dari 8 Mahzab, termasuk 4 mahzab 'standart', Hanafi, Hambali, Syafii, dan Maliki.

Boleh jadi karena Iran satu2nya negera 'Islam' yang berani 'melawan' Amerika', sedang yang lain asyik ber'hoho-hihè' dengan Paman Sam. Bahkan di negeri2 ini, yang ber'hoho-hihè', ada Pangkalan Militer Amerika-nya . . .

Malu mungkin. Buruk muka cermin dibelah . . .

Negeri2 Islam pun, yang secara tradisional dukung Palestina, 'terpecah'. Ada kubu Saudi, UEA, Mesir. dll. Ada kubu Turki plus Qatar. Ada Kubu Iran, yang kadang 'merapat' ke kubu Qatar. Ada kubu yang berada 'dimana-mana', netral, seperti Indonesia dan Malaysia . . .

Terpisah karena 'aqidah' ? Jelas tidak. Wong semua kalau berangkat haji masih sama2 ke Makkah Al-Mukaromah . . ...

Ndak ada lagi 'Perang Dingin' antara Amerika dengan Rusia, dulu Uni Soviet. Jadi ndak ada lagi sandaran untuk 'melawan' Amerika dan sekutu-nya, Eropa. Pendukung berat Israel.

Ada musuh Amerika yang sepadan, yakni China. Tapi China mana mau main 'perang2an'. Bagi China negara tak perlu 'batas', kecuali negaranya. Semua negara diperlakukan sama. Dianggap 'pasar' saja. Apapun 'bendera'-nya . . .

Seperti kata ketua Mao, tak peduli kucing hitam, putih, atau loreng2, yang penting bisa nangkap tikus ...

Jadi secara 'goblog2an', kalau Palestina mau merdeka, ya harus dipenuhi syarat2nya. Ndak cukup cuma dengan 'intifadah' lempar2 batu, sesekali tembakkan roket ke tentara dan atau wilayah Israel.

Pertama, orang Palestina harus mau bersatu, dûs berarti juga mau merdeka. Punya juga pemimpin yang bisa dihormati siapa saja.

Kedua, Dunia Islam harus bersatu dan kuat. Ini termasuk ndak usah mikir lagi, minimal tunda, urusan 'Syiah-shiun'.

Ketiga, Amerika dan sekutunya, penyokong negara Israel, tumbang atau ditumbangkan. Ndak harus di 'bom'. Cukup dibuat 'kerdil' secara ekonomi. Untuk ini harus belajar dari China, Jepang, atau Korea . . .

Kalau ketiga prasyarat itu ndak dipenuhi, 'bêrak-bêrok' Palestina merdeka 'percuma' juga.

Susah memang. Mendekati Utopia. Tapi bukan hal yang musykil . .

Sekedar catatan, tahun 1979 di Camp David, Isarel dan Mesir bisa sepakat. Semenanjung Sinai dikembalikan ke Mesir. Dan janji akan ada pembicaraan tentang 'otoritas' Palestina.

September 1993, Arafat dan Yitzhak Rabin, PM Israel tanda-tangani 'Perjanjian Oslo'. Maka Palestina pun bisa dan boleh ngurus Tepi Barat dan Jalur Gaza. Seperti sekarang.

Imbalannya ? Arafat akan promosikan toleransi terhadap Israel dan akui hak hidup negeri 'Bintang Daud' ini.

Sebenarnya sudah sangat lumayan sekaligus realistis. Win-win Solution. Ceng Li . .

Lantas sekarang apakah kita, Indonesia dan warganya, diam2 saja, ketika Israel merusak kesepakatan, nurut kita, dengan membangun perumahan di Tepi Barat, atau Amerika pindahkan Kedubes-nya ke Yerusalem ?

Ya ndak lah. Namun hendaknya 'menakar' diri.
Yang jelas ndak cukup hanya dengan riwa-riwi sambil majang bendera Palestina untuk hura-hura, termasuk untuk takbiran dan 'narik' THR dengan paksa . . .

Bantu yang mudah dan nyata saja. Bikin kan rumah-sakit, sekolah, atau infrastruktur lainnya. Sesekali lobi sana-sini. Bikin statement ini-itu. Toh sekarang kita anggota Dewan Keamanan PBB. Lalu ?

Sembari perkuat diri kita, agar nanti bisa disegani oleh negeri mana saja. Ini termasuk punya pemimpin 'perkasa' yang dihormati dunia.

Kita punya potensi. Sumber Daya Manusia dan Alam yang melimpah. Negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Artinya, buat lebih dulu diri kita kuat dan berjaya. Agar di lihat dan di dengar dunia. Supaya kita di dengar dan di lihat juga, jika omong tentang Palestina . . .

Ndak lagi dipandang dengan sebelah mata . ....

Jadi, komen atas 'riwa-riwi'nya Gubernur DKI sambil 'èwar-èwèr' selendang berlogo bendera Palestina, ndak tahu harus omong apa ? Ndak 'level' blas !

Jangankan 'ngurus' dan 'bicara' Palestina, ngurus waduk Pluit saja ndak mampu. Bikin Stadion untuk Persija 'diatas kertas' saja ndak bisa. Rumah 'murah' yang 'mbreset' jadi rumah susun pun cuma "ha-hu-ha-hu' jika ditanya . . .

Jangankan 'nglawan' Amerika, musuh preman Tanah Abang, yang bikin morat-marit area dan jalan, saja ndak bisa apa2

Jangankan bantu bikin rumah sakit untuk Palestina, untuk Jakarta saja cuma bisa buat patung 'porno' dari bambu mlungkêr2 yang tidak saja jelek dan ndak 'matching' dengan sekitarnya, tapi mahalnya juga ndak kira2 . . .

Sayang sekali memang, 'Perjuangan' Rakyat Palestina dan 'ke-Sakral-an' Al-Aqsa, cuma jadi 'barang dagangan'. Murah lagi . . .

Ini 'Penistaan' . .

Coba lihat gambar di bawah. Maksud e opo coba . . . ?

Tukang bangunan yang mau bikin 'wuwungan' rumah, pasang bendera Merah-Putih diatasnya, disebutnya 'syirik'.

Lha ini ?! Keliling kampung, bawa 'tambur', ditabuh 'dar dur dar dur'. Sembari sebut asma Allah, takbiran, 'èwar-èwèr' bendera. Bendera lain orang. Sudah syirik, lupa negara lagi.

Ini Zakarta, Indonesah, Bung ! Bukan jalur Gaza . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, June 11, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: