Pakailah Agama Pada Tempatnya

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Apa yang ada dalam pikiran kita, ketika melihat dua sosok pada foto di bawah ini? Ya, keduanya adalah identik. Sama-sama berlatar belakang etnis Arab serta mewakili kelompok yang sama. Itulah yang terjadi ketika Rizieq Shihab tersandung kasus chat porno. Saat HRS kabur ke Arab Saudi dan kelompok 212 kehilangan "tokoh sentral", maka dibutuhkan figur pengganti yang identik jika disandingkan dengan HRS.

Terbukti dikemudian hari, Anies Baswedan (AB) mampu menjadikan kelompok 212 beserta para pendukungnya sebagai basis massa pemilih dalam kontestasi Pilgub DKI 2017. AB mampu menyalip AHY di tikungan. Padahal dalam survey tingkat elektabilitas sebelumnya, posisi AHY berada jauh di atas AB. Bahkan pasca ditangkapnya beberapa operator gerakan 212 pada tahun 2016, terendus adanya aliran dana dari Cendana dan Cikeas. Ibaratnya, AHY yang menanam tapi AB yang memanen. Meskipun dikemudian hari setelah terpilih, AB malah menjelma menjadi "Badut Politik".

Kemudian tentang sosok AHY sendiri. Meski telah gagal pada kontestasi Pilgub DKI 2017, namun namanya menjadi 'Rising Star' menjelang Pilpres 2019 dan sempat digadang-gadang sebagai salah satu Kandidat Cawapres. Sayangnya, lobi politik yang dilakukan baik kepada kubu Jokowi ataupun Prabowo untuk mendapatkan tiket Cawapres harus gagal.

Secara 'chemistry' politik, memang seharusnya peluang koalisi kubu AHY dengan Gerindra lebih memungkinkan daripada dengan PDIP. Namun anehnya, Prabowo justru memilih pasangan yang juga identik dengan AHY sebagai substitusi. Sosok Sandiaga Uno yang 'good looking' sebagai representasi kaum millenial dan idola emak-emak berangsur mampu menggeser popularitas AHY untuk segmen yang sama.

Begitu pula misalnya dengan sosok Hary Tanoesoedibjo (HT). Kedekatannya dengan Gedung Putih dan Kongres Amerika serta kekuatan Logistik Politik yang mumpuni membuat HT sebagai salah satu figur yang cukup diperhitungkan menuju Pilpres 2019. Kekuatan kampanye melalui jaringan medianya, membuat Mars Perindo sebagai kendaraan politik HT begitu melekat dalam benak masyarakat. Programnya yang juga mengusung isu Ekonomi Kerakyatan semakin mengukuhkan kepercayaan diri HT sebagai tokoh politik yang cukup diperhitungkan.

Pertanyaan yang sama adalah siapa tokoh yang 'identik' dengan HT? Sebagaimana AB dengan HRS, sosok yang secara 'identitas' mirip dengan HT adalah Ahok. Bedanya, jika AB mengambil alih Nahkoda kelompok 212, Ahok justru menempatkan dirinya sebagai sosok yang 'haram' untuk dipilih dalam perspektif Politik Identitas. Kasus Penistaan Agama seolah menjadi "harga mati" bahwa kelompok minoritas tidak memiliki peluang untuk menduduki pucuk pimpinan di negeri ini.

Dalam posisi politiknya, saat itu HT kadung menempatkan diri sebagai oposisi terhadap Jokowi. Hal ini tidak mengherankan jika melihat kedekatan HT dengan Cendana sekaligus Cikeas. Dukungan HT terhadap gerakan 212 sebenarnya menjadi bumerang dan perangkap bagi langkah politiknya sendiri. Para pendukung gerakan 212 terjebak dalam standart ganda antara "mengharamkan" Ahok dan "menghalalkan" HT sebagai pemimpin. Disitulah peluang politik HT menuju kontestasi Pilpres 2019 menjadi layu sebelum berkembang.

Dari beberapa contoh figur Substitusi Identik diatas, kita seperti melihat sebuah permainan papan catur. AB sebagai "Nahkoda Pengganti" HRS, Uno sebagai 'Idola Pengganti' AHY, dan Ahok sebagai 'Langkah Mati' untuk HT. Dan pertanyaannya, jika hal ini benar demikian adanya, jadi mereka (substitusi identik) ini bekerja untuk siapa? Jangan-jangan selama ini banyak yang telah "Dibohongi Pakai AB, Uno dan Ahok"? Sekaligus sebagai balasan bagi siapa saja yang telah mau "Dibohongi Pakai Al Maidah" saat pertama kali Politik Identitas dimainkan dan kasus Penistaan Agama diletupkan.

Mungkin ini juga pelajaran bagi kita semua, bahwa "Pakailah Agama Pada Tempatnya!"

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, November 9, 2019 - 15:45
Kategori Rubrik: