Pakaian, Politik, Identitas

Oleh: Erizeli Bandaro
Dulu di era Mao Zedong, semua orang China harus menggunakan pakaian tunik longgar berkerah tinggi dan celana longgar. Setelan tersebut kemudian dikenal sebagai politik identitas komunis. Tidak ada kebebasan menggunakan pakaian. Berbeda itu adalah kematian atau masuk kamp kerja paksa. Sistem komunisme mamaksakan identitas bagi siapapun. Ancaman rasa takut dipropagandakan. Apa hasilnya ? tidak ada produktifitas. Kreatifitas mati. Yang ada adalah manusia zombi yang murung dan kumuh di depan tanur baja, di pembakaran bata. 25 juta orang mati kelaparan. Padahal janji sorga komunis dilantunkan Mao. Wajib dipercaya. Wajib dihapalkan apa yang tertulis dalam buku merah Mao.
 
Mimpi Mao, lompatan jauh kedepan tinggalah mimpi. Mao wafat dan mimpinya ikut dikubur. Dengxioping tampil. “ mau kucing hitam atau putih, engga peduli. Yang penting kalian bisa produksi.” Setelah itu orang China tak lagi berseragam Mao. Kehidupan berubah cepat. China bangkit dari tidur panjang. 
Pada waktu bersamaan, subsidi sosial dihapus. Orangpun berkompetisi untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Ada yang menyerupai kapitalis. Ada yang bergaya sosialis. Aga juga yang pragmatis. Pemerintah China tidak peduli. Yang penting kalian bisa produksi dan bayar pajak. Waktu berlalu, gairah kebebasan sosial itu dijaga terus oleh pemimpin China setelah Deng. Kemarin oktober 2020, China berhasil menghapus kemiskinan diseluruh China.
Ternyata kemajuan China bukan karena totaliterian komunisme ala Mao. Bukan. Tetapi karena kebebasan yang dicanangkan oleh Deng. Walau Deng tidak menjanjikan sorga seperti Mao. Bahkan Deng berkata“ Kalian sendiri yang menciptakan sorga seperti kalian mau. Bukan pemimpin. Pemimpin hanya memberikan arah, namun kalian sendiri yang menciptakan jalan. Awalnya jalan itu tidak ada. Namun karena kalian lewati, jalanpun tercipta. Sebuah kebebasan adalah penghargaan yang paling asasi bagi manusia. Karena dari kebebasan itulah orang bisa bernilai di hadapan Tuhan, keluarga dan negaranya. “ Namun Deng memberikan harapan. Kerja keras dan effort besar tidak pernah ingkar janji.
Berawal dari pakaian sebagai identitaas Mao, lahirlah revolusi kebudayaan. Tatanan sosial yang sudah melekat dalam tradisi China ratusan tahun hancur sudah. Tidak ada kemajuan. Kemudian era Deng, diawali dari menghilangkan pakaian identitas Mao, kebebasan tercipta. Nilai nilai lama China bangkit sebagai potensi besar menjadikan China bangsa besar dan terhormat.
Pakaian memang sederhana. Tetapi tanpa disadari. Dari pakaian itu jiwa terpaut. Pemaksaan pakaian sebagai identitas hanya melahirkan jiwa budak. Tidak akan ada kreativitas dan produktivitas, apalagi siap bertarung dengan kerasnya kompetisi.
Sudahilah identitas pakaian sebagai bentuk identitas agama. Jangan paksakan agama seperti manifesto komunis semua rasa dan rata. Cara itu anti kemajuan dan pasti merusak jiwa sebagai manusia modern. Sudah cukup kebodohan masa lalu. Toh politik identitas tidak membuat partai islam mendapat suara dua digit. Itu artinya politik identitas itu sudah jadul dan kumuh. Paham ya sayang..
 
(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)
Tuesday, January 26, 2021 - 22:00
Kategori Rubrik: