Pakaian Bagi Muslim

ilustrasi
Oleh : Munawar Khalil
 
Dalam Islam itu tidak ada aturan baku mengenai cara berpakaian untuk laki-laki. Jangankan takziah, sholat ketika menghadap Allah saja tidak ada aturan yang jelas. Baik itu jenis, model, bahan, warna, apalagi harga.
 
Yang ada hanyalah prinsip-prinsip seperti menutup aurat, bersih, dan terbaik. Terbaikpun definisinya masih dalam perdebatan. Terbaik di mata Allah kah atau terbaik di mata manusia.
 
Ada prinsip lain seperti jangan menyerupai pakaian non muslim. Tapi klausul inipun patah dan tidak bisa dijadikan prinsip dasar. Karena jika kita menganggap China itu mayoritas non muslim, justru baju koko yang menjadi budaya untuk pakaian muslim masyarakat Indonesia itu berasal dari China. Bahkan menggunakan pakaian warna hitam ketika takziah atau ke kuburan itu malah mencontoh budaya non muslim.
Artinya sebagian besar pakaian yang kita gunakan itu adalah produk budaya yang dipengaruhi oleh suhu udara dan kebiasaan setempat. Persis ketika kita memakai sorban dan gamis yang merupakan produk budaya Arab yang begitu di agung-agungkan fansboy Arab di Indonesia. Atau baju kurung panjang dengan celana gantung 7/8 yang biasa digunakan orang Pakistan. Jika kita menggunakan produk budaya kita, maka sarung dan batik juga adalah pilihan.
 
Masyarakat kita masih terlalu cepat memandang jelek seseorang hanya dari tampilan luar, tanpa memahami esensi dari kegiatan yang dilakukan. Apalagi sampai mendalami niat seseorang.
 
Jadi baiknya berhenti nyinyir terhadap tampilan orang lain. Sebab pakaian yang kita anggap paling islamipun belum tentu linier dengan niat dan ketulusan yang ada pada kita ketika kita memakainya.
 
Sumber : Status facebook Munawar Khalil
Tuesday, June 4, 2019 - 18:30
Kategori Rubrik: