Pak Munir dan Terompetnya

 

Oleh: Denny Siregar

Malam mendekati tahun baru ini hujan deras sekali. Pak munir tertunduk sedih. Yang pasti dagangan terompet tahun barunya tidak akan laku. Ia membeli semuanya dengan uang terakhir yang dimilikinya. Ia berani mempertaruhkan semua uangnya, karena ia berharap pada momen ini. Momen yang akan membawa keuntungan baginya.

Seharusnya malam ini ia bisa membawa pulang nasi goreng kesayangan anaknya. Entah sudah berapa lama ia tidak mampu menyenangkan hati mereka, karena kesulitan ekonomi yang seakan tidak pernah selesai. Kebahagiaannya hanya ketika sampai di rumah, ia melihat anaknya yang tumbuh dengan semua cerita lucu yang diomelkannya dengan lidah yang tertatih.

Seharusnya malam ini ia membawakan istrinya sepasang daster. Ia sudah tidak tahan melihat baju istrinya yang dari ke hari itu saja. Lusuh, sobek dimana-mana, tetapi ia tidak mengeluhkannya. Ia ingin melihat orang yang mendampinginya sekali-sekali berbinar matanya. Hanya itu kebahagiaannya.

Tetapi malam ini semua sia-sia. Ia bersandar di pojok sebuah mall, menatap hujan yang seakan tidak bersahabat dengannya. Ia menyelimuti dagangannya dengan plastik, melindunginya karena itu adalah barang paling berharga miliknya.

Diambilnya sebuah terompet. Ia memeluknya. Tidak terasa air matanya menitik mengingat bahwa untuk kali inipun ia gagal membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

Tanpa sadar matanya tertumbuk pada bungkus terompet baru itu. Sebilang huruf yang sangat dikenalnya. Kaligrafi indah yang tertumpuk di antara kertas lainnya. Ia tidak mampu membaca apa artinya, tetapi ia tahu bahwa itu adalah bagian dari kitab suci, sebuah sampul.

Memorinya sejenak terbang ke masa lalu ketika hidupnya begitu tenang. Masa kecil tanpa beban. Ketika ia beramai-ramai sembahyang di mushola kecil di kampungnya dan tumpukan Alquran berjejer menanti dibacakan mereka.

Ia semakin menangis. Teringat betapa semua itu sudah lama ditinggalkannya. Teringat betapa ia sibuk memenuhi semua hidupnya dengan kebutuhan duniawi. Baru disadarinya, betapa kosong sekarang jiwanya. Ia tidak lagi pernah berdoa, tidak pernah mendekat kepada-Nya.

Hujan semakin deras, Pak Munir tenggelam dalam isaknya. "Tuhan, ampuni aku yang telah melupakan-Mu." Ia merintih mengingat betapa ia mencari kebahagiaan yang hakiki, yang tidak pernah ditemukannya dalam setiap langkah kakinya. Ia merintih ketika sebuah terompet mengingatkannya, menohok relung hatinya.

Tiba-tiba segerombolan manusia berjubah datang. Warnanya putih, matanya merah membara. Terompetnya dirampas, ia dimaki. Ia mempertahankan hak miliknya, tetapi ia ditendang. Sayup-sayup ia mendengar kata "Penghinaan." Entah apa yang membuat mereka merasa terhina sampai begitu marahnya.

Pak Munir tersedan, ia teringat anaknya, teringat istrinya, teringat masa kecilnya, teringat Tuhan yang telah lama dilupakannya, ia teringat segalanya. Hanya satu yang ia lupa, kenapa manusia bisa begitu kejamnya? Pak munir mengayuh sepeda dengan gontai. Tuhan sekejap datang padanya, dan kini hilang sudah ditelan malam.

Selamat tahun baru, wahai manusia yang hidupnya sempurna.

 

Sumber: Facebook Denny Siregar

Thursday, December 31, 2015 - 20:00
Kategori Rubrik: