Pak Mahfud, Felix dan MUI

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Acara ILC yg lalu menyisakan banyak komentar. Ada yg mengatakan Denny dan Abu dimakan Felix, dikunyah Egi, dikuliti si kembar koar F2. Substansinya bukan masalah Deny dihabisi Abu dilumat. Inti dari debat tak hebat itu adalah keterkuakan kelompok pembawa konsep pemerintahan ilegal ini makin " bengal " dan nyata2 mau jadi begal pancasila.

Setelah Perppu yg lalu diketok dan membuat partai pemihak mencak2 menolak dan terus memihak pembubaran HTI dan para kroni banci pembenci pancasila kita akhirnya tau siapa mereka. Mereka sudah memberi pelajaran berharga buat kita bagaimana Jakarta mereka koyak dengan luka menganga, agama dijadikan kayak bola, ditendang kesana kemari dicemari, kelakuan itu lebih hina dari kotoran yg dilupakan anus pembuangnya, walau mereka mengklaim bahwa mereka kaum mulia pembela agama. Pembiaran panjang tumbuhkembangnya kaum radikal ini sebuah kesalahan fatal, disuburkan oleh sebuah pemerintahan yg cuma suka penampilan tak menghasilkan, 10 tahun waktu yg effektif untuk mereka menjelma dari kepompong ke ujud yg membahayakan sebuah negara. Saya katakan terus terang kita ketiban sial memilih pemimpin yg kulit luarnya mempesona isinya tak ada apa-apa. Jokowi setengah mati bongkar sana sini memperbaiki ditengah hujatan dan caci maki, sampai PKI yg sudah matipun dikatakan hidup kembali, sebuah grand design perebutan kekuasaan dengan jalan model begal jalanan, jangan ditanya moral, kita bisa kesal, karena memang mereka kuatnya pada oral, dan brutal.

 

 

Felix, yg maaf islam karbitan yg tiba2 nongol bermodal 15 kali ke Turki, dengan berapi-api bisa mengecilkan para kiayi dan mengangkangi ibu pertiwi, negeri yg direbut dengan nyawa dan darah, tiba2 ada tukang kuetiaw entah datang dari mana mau mengganti pancasila, ini celaka dua belas namanya. Apa Felix salah ? belum tentu, karena sejatinya dia juga dijadikan alat propaganda pengintai kekuasaan yg haus gak ketulungan , tak usahlah malu-malu menampakkan muka gestur Gerindra dan PKS ini kan sudah kebaca, mereka pembela para kumpulan penista pemerintah yg sah dgn cara menggoyang kestabilan pembangunan dgn memakai kelas Felix dan sejenisnya, menolak perppu dan membela sebuah rencana menolak pancasila. Saya sudah katakan siapa saja boleh memimpin Indonesia kalau dia pantas memimpin dan dgn cara yg baik untuk mengejakulasikan jadi pemimpin, janganlah dgn cara2 kotor tak bermoral yg bisa memecahbelah bangsa,apalagi memakai isu agama, parahnya mau mengganti pancasila. Mereka lupa Indonesia ini bukan rumah kaca yg isinya mainan belaka, Indonesia ini sebuah negara dgn 250 juta manusia, masaklah mau dijadikan proyek uji coba.

Debat murahan yg ditayangkan tv murahan juga, menampilkan kelas nara sumber pembuat onar, apa ini yg kita mau dengar, untung saja ada Pak Machfud yg mumpuni menjelaskan Khilafah dan sebagainya, kalau tidak kita bisa makan soto rasa karedok. Khilafah klir bagai saya, jangan coba2 mau mengganti pancasila, kemulut buayapun kami kejar kalian, karena negara ini direbut dgn nyawa dan darah pahlawan yg militan, bukan kelas jidat hitam dgn hati pendendam gara2 kalah pemilu karena sujud duluan ternyata dibatalkan.

Kelompok ulama karbitan ini kok belakangan kayak jamur dimusim hujan, sekolah dimana, kualitasnya entah apa, tiba2 nongol saja, ada kelas tomat, kelas kuetiaw, dst...umat ini kayak nonton sirkus jumpalitan, yg lebih heran wadah sakral ulamanya MUI jadi kayak banci, tanggung jawab moralnya seakan sirna, apa karena kebanyakan fatwa atau karena memang sudah tak ada gunanya. Ngapain ada MUI kalau wadah ulama ini membiarkan para pemabuk agama ini bisa teriak dimana-mana membawa nama islam. Begitu cepatnya saat pidato Ahok diedit langsung sekalian dibuatkan fatwa, lha ini berbulan2 kelompok BOTOL kepala kecil ini menghujat negara, pemerintah, dan agamanya sendiri, melenggang seolah malah dibiarkan. Tapi ya memang susah dibilang, wong Zulkarnaen yg anggota MUI saja mulutnya menjadi mesin caci maki masih dipiara, gimana kita berharap yg lain bisa dikelola. Saya sebagai muslimpun jujur malunya sampai kencing dicelana, agama pembawa kedamaian ini menjelma menjadi buas di Indonesia gara2 segelintir manusia penista ini, menjadi momok pemeluk agama lain, bahkan kepada saudaranya sendiri berkelahi, mencaci maki, tidak mau kepada Jokowi, tapi tetap jadi pegawai negeri, banci lu ndro.

 

(Sumber: Facebook Iyyas S)

Wednesday, December 13, 2017 - 22:45
Kategori Rubrik: