Pak Kyai

ilustrasi

Oleh : Rijal Mumazziq

Biasanya beliau menjadi imam shalat Idul Fitri di masjid Al-Ikhlas, Karanggebang, Jetis, Ponorogo. Tapi, setahun silam, Pak Haji Wahib Masduqi, adik iparnya, yang memimpin.

Beliau, Kiai Mujib Tarwihi absen. Kondisi kesehatannya drop. Beliau hanya bisa terbaring di ranjangnya. Suaranya lirih bergetar ketika bilang penglihatannya sudah tidak bisa lagi dipakai membaca kitab. Padahal, aktivitas membaca kitab inilah yang menyangga semangatnya sejak usia muda hingga usia sepuh sekarang.

Kiai Mujib juga memiliki kebiasaan khas. Beliau memberi makno gandul terlebih dulu di kitab yang hendak ia baca, barulah disampaikan. Selain sebagai bentuk persiapan mengajar, pria kelahiran 1936 ini sengaja memberi makno gandul di kitabnya, agar anak, menantu, atau cucunya kelak bisa memanfaatkan kreasinya itu. "Ya biar sekalian jadi amal jariyah saya," katanya sambil tersenyum, pada suatu siang, saat saya sowan ke ndalemnya, hari kamis, 2 Syawal 1437 H, empat tahun silam.

Kiai Mujib Tarwihi adalah pakde istri saya. Sehari-hari mengelola Musala al-Hasan di samping ndalemnya. Ini langgar kecil tapi ngajinya kitab gede. Dulu, tahun 2005, khataman Shahih Bukhari dengan mengundang KH. Maimoen Zubair.

Ulama sepuh asal Rembang ini heran, ada langgar kecil yang masih Istiqomah mengajarkan Shahih Bukhari. Inilah istimewanya. Istri saya beruntung bisa ngaji dan khataman kitab induk di bidang hadits ini kepada beliau. Sedangkan Shahih Bukhari milik saya lebih banyak kosongnya, karena dulu lebih sering cangkruk di warkop. Beruntung sedikit, saya bisa khataman Abi Jamrah, mukhtasar-nya Shahih Bukhari, yang dianggit oleh Syekh Muhammad bin Ali As-Syafi'i As-Syinwani.

Tak hanya Shahih Bukhari, Kiai Mujib juga mengkaji Ihya 'Ulumiddin. Pernah juga mengajarkan Itthaf Sadat Al-Muttaqin, syarah Ihya 'Ulumiddin karya Sayyid Murtadla Azzabidi yang tebalnya berbantal-bantal itu. Tapi nggak tuntas, karena terlalu tebal. Akhirnya beliau kembali ke habitatnya sebagai pengkaji kitab hadits. Yaitu dengan cara mem-balagh Sunan At-Tirmidzi. Setelah rampung beliau melanjutkannya dengan mengajikan al-Muwattha' karya Imam Malik. Inilah kitab yang terakhir kali beliau ajarkan sebelum kondisi fisiknya menurun dalam beberapa bulan ini. Satu-satunya kesedihan yang beliau rasakan adalah saat penglihatannya kabur ketika dipakai membaca kitab.

Para santri yang ikut mengaji jumlahnya tidak banyak. 15-20 orang remaja. Itupun santri kalong. Tidak ada yang mukim. Ngajinya bakda Subuh dan usai shalat ashar. Hanya saja, karena masih sekolah, seringkali jadwal ngaji kitab hadis ini beliau liburkan menyesuaikan jadwal kegiatan sekolah para santrinya yang rata-rata bersekolah di Madrasah Aliyah al-Islam Joresan, Mlarak, Ponorogo. Tempat saya sekolah, dulu.

Bagi saya, sebuah langgar kecil yang mengajarkan kitab-kitab besar sudah langka. Sangat langka, bahkan. Inilah alasan mengapa ketika mengisi seminar Jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara, yang diselenggarakan oleh Kedubes Uzbekistan di Bayt al-Qur'an, Jakarta, 6 Februari 2019, saya secara khusus bercerita mengenai kiprah unik Kiai Mujib dalam mengajarkan mahakarya Imam Bukhari, ulama Uzbekistan, tersebut, di sebuah langgar sederhana di pelosok Ponorogo.

Di usia sepuhnya, beliau juga masih aktif dalam majelis al-Habsyi Ponorogo. Kebetulan, salah satu putra Kiai Mujib, Mas Hakam Marwazi, juga menjadi penggerak majlis ini. Sebagai muhibbin, beliau menempelkan foto para habaib di dinding ndalemnya. Ada foto Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa, Habib Anis Al-Habsyi, Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf, dan Habib Musthofa Ba'abud Kediri.

Secara khusus, saya juga menulis kiprah beliau di buku "Kiai Kantong Bolong" (Jakarta: Quanta, 2017). Kondisi kesehatan Kiai Mujib drop lagi pada Ramadan tahun ini. Dan, pagi tadi, pukul 05.30 WIB beliau berpulang ke Rahmatullah.

Innalilahi wa Inna Ilaihi Raji'un.

Mohon doanya semoga beliau khusnul khatimah, diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, dan pengabdiannya dalam bidang keilmuan menjadi amal jariyah penerang alam kubur. Amiiin

Lahul Fatihah.

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Saturday, May 30, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: