Pak Kyai

Para santri yang ikut mengaji jumlahnya tidak banyak. 15-20 orang remaja. Itupun santri kalong. Tidak ada yang mukim. Ngajinya bakda Subuh dan usai shalat ashar. Hanya saja, karena masih sekolah, seringkali jadwal ngaji kitab hadis ini beliau liburkan menyesuaikan jadwal kegiatan sekolah para santrinya yang rata-rata bersekolah di Madrasah Aliyah al-Islam Joresan, Mlarak, Ponorogo. Tempat saya sekolah, dulu.

Bagi saya, sebuah langgar kecil yang mengajarkan kitab-kitab besar sudah langka. Sangat langka, bahkan. Inilah alasan mengapa ketika mengisi seminar Jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara, yang diselenggarakan oleh Kedubes Uzbekistan di Bayt al-Qur’an, Jakarta, 6 Februari 2019, saya secara khusus bercerita mengenai kiprah unik Kiai Mujib dalam mengajarkan mahakarya Imam Bukhari, ulama Uzbekistan, tersebut, di sebuah langgar sederhana di pelosok Ponorogo.

Di usia sepuhnya, beliau juga masih aktif dalam majelis al-Habsyi Ponorogo. Kebetulan, salah satu putra Kiai Mujib, Mas Hakam Marwazi, juga menjadi penggerak majlis ini. Sebagai muhibbin, beliau menempelkan foto para habaib di dinding ndalemnya. Ada foto Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa, Habib Anis Al-Habsyi, Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf, dan Habib Musthofa Ba’abud Kediri.

Secara khusus, saya juga menulis kiprah beliau di buku “Kiai Kantong Bolong” (Jakarta: Quanta, 2017). Kondisi kesehatan Kiai Mujib drop lagi pada Ramadan tahun ini. Dan, pagi tadi, pukul 05.30 WIB beliau berpulang ke Rahmatullah.

Innalilahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Mohon doanya semoga beliau khusnul khatimah, diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, dan pengabdiannya dalam bidang keilmuan menjadi amal jariyah penerang alam kubur. Amiiin

Lahul Fatihah.

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *