Pak Jokowi, Tolong Kami

Oleh: Denny Siregar

 
Dalam sebuah acara televisi, seorang panelis bertanya kepada saya, "Apa keresahan terbesar saya ?" Dan saya jawab, "radikalisme.."
 
Jujur, sejak melihat situasi Suriah tahun 2012 lalu, keresahan itu terus menghantui saya. Dan saya terus menulis tentang bagaimana kemungkinan api Suriah akan dibawa ke Indonesia. Dan teori itu terbukti dengan adanya gerakan demo besar dengan mengusung "umat" dan "agama".
 
 
Diluar itu, Densus 88 terus menerus menangkapi para pelaku teroris diberbagai tempat. Dan para politikus berselingkuh dgn kaum radikal untuk mencapai tujuan jabatan.
 
Terakhir, Menkopolhukam ditusuk oleh mereka yang terpapar ISIS. Dan di twitter, banyak sekali para pendukung teroris hanya karena kebencian pada pemerintahan sekarang yang tidak mereka sukai.
 
Mau dibawa kemana negara ini ?
 
Saya tahu bahwa banyak gerakan senyap dilakukan pemerintah untuk menangkal radikalisme dan terorisme. Gerak BIN dan BNPT di banyak instansi, mulai BUMN sampai perguruan tinggi, dilakukan terus menerus karena radikalisme ini sudah masuk ke pori-pori negeri ini.
 
Gerakan itu mungkin berguna sekarang. 
 
Tapi bagaimana 5 tahun lagi ? 10 tahun lagi ? Atau 20 tahun lagi ? Apakah kita harus begitu terus, menangkapi para teroris, menghantam ASN yang terpapar sambil terus mencaci kelompok radikal tanpa ujung pangkal ??
 
Masalah ini tidak akan pernah selesai dan kita seperti berputar di labirin sambil terus menggelontorkan dana triliunan rupiah yang dibakar habis untuk penangkapan kelompok radikal. 
 
Akar masalah radikalisme ini, jika kita mau berfikir out of the box, sebenarnya sederhana. Yaitu, karena peran negara sekarang ini banyak diambil alih kaum agama. 
 
Minimnya pengetahuan tentang pentingnya cinta tanah air, diisi oleh kelompok agama dengan konsep membangun mimpi negara Islam. 
 
Akar kecintaan kita pada Republik ini, yang diwarisi oleh para pejuang yang mengorbankan darah mereka supaya kita merdeka, hilang dalam semua mata pelajaran yang ada. 
 
Malah mata pelajaran agama yang terus menerus menjadi doktrin, sehingga tanpa sadar terbentuk cluster-cluster berupa manusia fanatik berdasarkan apa agamanya dan apa mazhabnya.
 
Dan disinilah sumber masalah selama ini. Kebudayaan hilang, pendidikan hanya diukur berdasarkan nilai, bangsa kehilangan akar, karakter manusianya tanpa pegangan. 
 
Dan kekosongan ini kemudian diisi oleh para kelompok fanatik dengan budaya luar, terutama budaya arab yang keras dan gila perang. Hilang sudah karakter bangsa Indonesia yang santun dan penuh etika pada orangtua dan sesama seperti sebelum tahun 1998..
 
Tidakkah ini menakutkan ??
 
Pak Jokowi dan para anggota dewan yang terhormat yang baru mengisi kursi dan mayoritas dari koalisi, tolong kami...
 
Kembalikan peran penuh negara dalam mendidik anak kami. Kami tidak ingin kelak anak kami menjadi zombie, jika negara abai terhadap situasi ini. 
 
Isi anak kami dengan kecintaan pada negeri ini. Berlakukan hukum darurat dalam melawan radikalisme agama dengan konsep pendidikan BELA NEGARA. 
 
Biarkan negara yang mendidik anak kami, bukan "ustad2" dan "guru agama" yang sudah dicuci otak untuk mendirikan negara agama sesuai kepentingan mereka. 
 
Negara punya tanggung jawab penuh menyelamatkan masa depan anak bangsa dari racun khilafah yang sekarang sedang mewabah.
 
Pak Jokowi, tolong kami. Tolong anak kami. Tolong masa depan bangsa ini. 
 
Biar kelak kami sebagai orang tua bisa duduk dengan tenang dan percaya diri melihat kemajuan bangsa ini, sambil seruput kopi..
 
(Sumber: Facebook Denny Siregar)
Friday, October 11, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: