Pak Archandra...

Oleh: Muhammad Jawy
 

Saya menilai beliau adalah orang yang baik. Punya itikad yang baik. Orang yang sudah meraih pencapaian hidup yang langka di usianya yang masih muda. Baik sebagai insinyur kelas atas, entrepreneur yang gigih, kepala keluarga yang mengayomi, ustadz yang gemar menebar ilmu mengaji. Negara kita akan cepat maju kalau mayoritas penduduknya seperti beliau.

Ketika beliau hendak melepaskan pekerjaannya di US yang penghasilannya sebulan mungkin mengalahkan gaji para hater seumur hidup, dan memilih untuk membantu Presiden membenahi bidang ESDM, tentu saja patut diapresiasi.

NAMUN, ternyata ada fakta lain, beliau pernah berstatus warga negara US. Saya berprasangka baik beliau tidak paham perihal aturan undang-undang ini, yang akhirnya menyebabkan status WNI-nya menjadi rancu.

Dual citizenship dari sisi agama tidak berdosa sama sekali. Jerman, Turki, Yordania, dan banyak negara lain mengakui kewarganegaraan ganda. NAMUN, UU di NKRI memang tidak mengakuinya.

UU adalah kesepakatan bangsa kita. Baik atau jelek UU, ia adalah kesepakatan yang harus dijalankan. Selama UU tidak mengatur kewarganegaraan ganda, maka Pak Arcandra mungkin bisa dianggap "berdosa" menurut versi UU, meskipun belum tentu otomatis WNI-nya hilang, karena ada yang berpendapat harus ada pencabutan secara eksplisit dari pemerintah.

Sehingga jalan yang harus ditempuh oleh Presiden, terpaksa memberhentikan beliau dengan hormat. Saya turut bersedih ketika ada putra kelahiran republik ini terpaksa harus terhalang untuk berkiprah kembali di negeri ini.

Tapi aturan adalah aturan. Sepahit apapun.

Saya berharap yang terbaik bagi negeri ini, termasuk bagi pak Arcandra sekeluarga.

 

(Sumber: Status Facebook Muhammad Jawy)

Monday, August 15, 2016 - 23:15
Kategori Rubrik: