Pahlawan

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

(Seri 75 Tahun Indonesia Merdeka)

Tujuhpuluh lima tahun negara ini merdeka pada 17 Agustus nanti, adakah esensi dari kemerdekaan itu hadir ditengah kita hari ini?

Baru saja terjadi sekelompok orang mencari dan memaksa seorang wartawan Media Global
Haris Lie yang dikabarkan memotret dan meliput berita tentang penurunan dan perobekan poster pimpinan FPI Rizieq Shihab saat 27 Juli baru lalu.

Polisi bertindak cepat dan mengamankan wartawan tersebut demi keamanan yang bersangkutan.

Ada peristiwa yang menggelitik.

Satu pihak yang melakukan persekusi dianggap jagoan sehingga bahkan sekelas polisi yang dilindungi UU dalam tugasnya harus tunduk atau paling tidak, mengalah.

Selalu alasan tentang menghindari keributan yang lebih besar adalah cerita klasik yang dimunculkan seolah hanya itu opsi yang dimiliki petugas.

Adanya indikasi pelanggaran, adanya aturan yang ditabrak seharusnya telah cukup bagi petugas keamanan melakukan hal bersifat penegakkan hukum, bukan justru mengalah atas kesewenangan kelompok apapun itu.

Demi keamanan, wartawan tersebut rela menginap di kantor polisi.

Apa yang kita baca? Kemerdekaan orang tak bersalah kini justru di korbankan. Alasan yang muncul, adalah demi keamanan orang tersebut.

"Benarkah?"

Sekilas tampak benar sehingga sang wartawan tanpa pikir panjang menerima tawaran petugas dan rela meninggalkan rumahnya.

Bandingkan dengan maling dipasar yang kepergok dan harus diamankan dari amukan massa. Pada poin ini tindakan polisi sangat tepat karena massa disini adalah spontan, tanpa perencanaan.

Melindungi si maling dari pengadilan massa adalah tindakan tepat.

Mengungsikan wartawan atas rencana pengeroyokan jelas sangat berbeda. Ada rencana, ada strategi dan ada maksud yang jelas atas kejadian ini.

Menangkap dan menahan seberapapun banyaknya orang yang merencanakan tindak kejahatan adalah wajib hukumnya bagi penegak hukum. Itu adalah perintah UU dan untuk itulah petugas keamanan bekerja.

Melindungi seseorang dari amuk massa yang sudah direncanakan sebelumnya, dan kemudian memberi penginapan di kantor polisi kepada korban, bukan perlindungan namun menghilangkan kemerdekaannya.

Selama kelompok itu tak ditindak, wartawan ini tidak akan pernah merasa aman meski dua bulan diberi penginapan di kantor polisi sekalipun.

Yang sebenarnya terjadi adalah perampasan kemerdekaan seseorang demi menyelamatkan petugas keamanan sekaligus para penjahat. Petugas yang seharusnya bertindak dan ada potensi saling serang dan sangat mungkin menimbulkan korban dari kedua pihak kini tak terjadi.

Atas jasa siapa? Atas jasa dan pengorbanan korban yang tak bersalah. Rakyat yang seharusnya mendapat perlindungan dan dijamin UU kini menjadi pelindung dan mengayomi petugas.

Hal yang sama kita saksikan bagaimana penganut Sunda Wiwitan di Kuningan. Mereka itulah yang sesungguhnya telah menjadi pelindung bagi Bupati.

Mereka pemilik tanah yang sebenarnya, yang ingin membuat pemakaman diatas tanahnya sendiri, namun mereka pula yang harus mengalah atas tekanan sekelompok orang yang tak sanggup dilawan oleh Bupati.

Rakyat lemah adalah mereka yang paling kuat karena sesungguhnya dari merekalah perlindungan bagi mereka yang berkuasa dapat dipaksakan hadir. Mereka korban bagi lemahnya hukum sekaligus tumbal bagi penikmat kursi gading pemegang kekuasaan.

Bagaimana dengan Presiden? Minoritas diseluruh penjuru negeri ini yang menderita dalam banyak tekanan dan selalu menjadi sasaran dari kelompok yang berharap Presiden marah?

Berapa puluh rumah ibadah dibakar? Berapa rumah ibadah disegel dan selalu IMB? Berapa kali penggerebekan dilakukan hanya karena mereka beribadah?

Mereka menyerang dari semua sudut demi kekacauan dan akhirnya Presiden adalah targetnya. Sasaran awal paling mudah selalu minoritas dan tujuannya, demi marah sang Presiden.

"Presiden marah?"

Sepertinya, Presiden yang harus menjawab.

Benarkah rasa merdeka sudah kita rasakan saat negara ini akan berusia 75 tahun, sepertinya semakin jauh rasa itu hadir. Mereka yang merasakan apa itu merdeka dalam arti sebenarnya adalah para preman berbaju agama.

Mereka boleh berlaku suka-suka dan tak ada hukum akan menghadang. Merekalah pemilik sekaligus anak emas sebenarnya dari republik ini.

Bagi minoritas, percayalah, menjadi tumbal hari ini bukan cerita tentang kesulitan seumur hidup. Bila dalam perkembangannya secara tak sengaja minoritas justru menjadi bumper demi pembangunan negeri ini, itu bukan pilihan siapapun yang menginginkan negara ini maju, apalagi Presiden.

Tapi percayalah, andalah pahlawan sebenarnya.
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Sunday, August 2, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: