Pahlawan yang Tidak Tahu Diri

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Saya pernah mempunyai seorang anak buah yang slengean habis dan sedikit agak susah diatur. Saya menerima dia karena sekolahnya dekat dengan tempat kerja dan dia bisa membawa teman-temannya untuk berbelanja, jadi hitung-hitung dia membawa nasib mujur. Saya juga sering memperhatikan, customer selalu ramai kalau dia ada bekerja, walaupun setelah itu keadaan menjadi hancur lebur. Pekerjaannya yang tidak rapi dan selalu saya yang nanti akhirnya membereskan setelah dia pergi beristirahat ke belakang untuk sekedar menumpang tidur.

Belakangan saya sedikit mengetahui kalau dia agak susah untuk berkonsentrasi karena di rumah terlalu banyak gangguan. Ada dua adiknya yang masih kecil yang selalu menangis, entah sakit atau mungkin juga kelaparan. Ayahnya yang tidak jelas pekerjaannya dan waktu lebih banyak dihabiskan di bar bergurau bersama dengan teman-teman. Sang ibu yang membanting tulang dan selalu marah-marah, sehingga dia selalu terlihat lelah karena kurang tidur semalaman.

Sekali waktu, saya berikan dia sebuah kaos sebagai oleh-oleh souvenir ketika saya kembali dari bepergian. Dia sangat senang sekali karena katanya belum pernah ada orang yang begitu pengertian. Sejak itu sifatnya agak berubah dan sekarang dia mau untuk sedikit lebih mendengarkan. Ada beberapa bulan dia bekerja dengan lebih baik dan kemudian mengundurkan diri karena harus menjaga adik-adiknya karena ibunya harus bekerja mengambil lemburan.

Saya teringat kembali akan dia ketika membaca berita tentang duo fuck-fuck yang akan dihadiahi sebuah bintang kehormatan. Selama ini kita tahu kalau kedua orang ini tidak ada faedahnya dan bacotnya yang lebih banyak bekerja dari pada tangan. Nasib mujur bagi mereka ketika bisa melenggang menjadi ketua DPR/MPR hasil kongkalikong dengan sesama para pecundang. Tetapi selama mereka duduk di kursi empuk, satu kecamatan pasti tahu kalau mereka cuma suka untuk membuat keriuhan.

Menurut prof. Mahfud, pemberian bintang jasa ini memang sudah diatur oleh undang-undang yang dibuat jauh sebelumnya. Ada UU No 20 yang dikeluarkan pada tahun 2009 yang mengatur tentang pemberian bintang Mahaputra Nararya, yaitu bintang Mahaputra kelas ke lima. Yang diberikan negara melalui presiden kepada warga sipil yang dianggap telah berjasa secara luar biasa dan memang secara otomatis, para pejabat yang pernah duduk di kursi tertinggi dewan rakyat pasti akan menerima. Walaupun sebagain dari mereka ada yang kemudian masuk penjara, jadi belum tentu kehormatan orang yang mendapatkannya akan menjadi meningkat nilainya.

Biarkanlah mereka mendapatkannya, toh semua juga sudah tahu kalau mereka memang tidak pantas. Kalau memang mereka ada mempunyai rasa malu, mereka pasti akan menolak karena merasa tidak pas. Tetapi sepertinya jauh babi dari panggangan, bersembunyi di balik rimbun semak beluntas. Biarkanlah mereka tertawa sampai puas, terkentut-kentut sambil membuang gas.

Bintang penghargaan ini tetap tidak akan menjadi rendah maknanya terutama bagi mereka yang memang pantas untuk disematkan di dada. Buat yang menerima karena jasa-jasa pengorbanan mereka, segenap rakyat akan memberikan hormat tanda bersuka. Tetapi bagi yang kaleng-kaleng yang mendapatkannya karena permainan politik kelas rendah, tidak pernah akan menjadi emas dan akan tetap menjadi suasa. Walaupun ribuan bintang tersemat di dada mereka tidak akan merubah wajahnya menjadi lebih bercahaya.

Ataukah mereka akan seperti anak buah saya yang berubah sikap karena merasa telah diperhatikan. Wallahualam, kita lihat saja beberapa tahun lagi ketika nanti di masa depan. Tetapi sangat terkutuk kalau sampai di ujung ajal tingkahnya tetap saja sama tanpa ada perubahan. Mungkin nanti di batu nisan mereka saat dikuburkan di Taman Makam Pahlawan akan tertulis keterangan "Telah berbaring di sini, seseorang yang tidak tahu diri tetapi menganggap dirinya pahlawan".

Tabik.

Status facebook B. Uster Kadrisson

Friday, August 14, 2020 - 21:45
Kategori Rubrik: