Pahami PHK Massal, Tutupnya Pabrik, Jangan Sesat Pikir

Oleh : Thomson Cyrus

Sejak tahun 2000 an hingga kini, saya bekerja selalu berhubungan dengan pabrik, baik ketika karyawan saat itu, hingga kini sudah mulai memberanikan diri menjadi wiraswasta pemula. Saya mungkin sudah jalani (masuk ke pabrik di seluruh Indonesia, ribuan pabrik). Mulai dari pabrik food n beverage, pabrik otomotif, pabrik elektronik, pabrik baja dan sejenisnya, pabrik makanan ternak, pabrik fabrikasi mesin, pabrik tekstil, pabrik perkakas rumah tangga, dan lain sebagainya.

Saya bekerja mulai dari sales engineering untuk berbagai produk pabrikasi sebagai suplier ke pabrik-pabrik, hingga saya membuka usaha kecil kecilan sebagai mitra strategis pabrik baik dalam suplier maupun kontraktor atau semacamnya.

Mengapa latar belakang ini perlu saya jelaskan. Agar pembaca paham, bahwa saya menulis artikel ini bukan dari informasi bacaan atau referensi pemberitaan lainnya. Anda bisa saja punya keilmuan yang baik, tetapi belum tentu punya pengalaman seperti yang saya alami, biar lebih jelas dan anda bisa percaya isi artikel ini. Saya telah jalani hampir semua pabrik yang ada di wilayah jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Sebagian kecil Jawa Tengah, Wilayah Sumatera dan Batam. Saya sudah lihat bagaimana proses pembuatan makanan dan minuman yang anda dan saya makan di berbagai pabrik, saya telah lihat proses pembuatan pembalut wanita yang membuat mereka nyaman berjalan ketika masalah itu datang. Saya juga telah duduki juga beberapa Mercy dan BMW yang anda pakai (karena saya belum punya) di pabriknya di gunung putri dan sunter sana, sewaktu di rakit.

 Dan saya selalu mendapatkan harga baju yang diskon 70 persen gerai pabriknya langsung di kawasan industri pulogadung, sehingga jika anda membeli satu merk yang sama, saya bisa dapat 2 atau 3 pcs. Saya harus menghormati pabrik BIR di kawasan Daan Mogot dan Tambun dengan menjadi taster, meskipun saya tidak doyan minum BIR, karena mereka menyediakan secara gratis di lobby tamunya. Dan Pengalaman yang masih banyak lagi, mungkin suatu saat akan saya tulis satu per satu pengalaman yang hebat itu.

 Karena dibulan februari ini, bulan yang penuh kasih sayang ini, kita dikagetkan oleh pemberitaan PHK yang begitu massif, maka ada baiknya kita membicarakan itu dalam sudut pandang yang berbeda. Sebab kalau kita melihat TV dan pemberitaaan Media baik itu media sosial maupun media mainstream, wah...Sangat Mengerikan...padahal menurut sudut pandang saya, biasa saja, hanya kita perlu waspada dan carikan solusinya.

Baik...Ada beberapa pemberitaan yang menurut saya harus diluruskan agar kita semakin pintar melihat dan menanggapi berita diantaranya :

Pertama, Pemberitaan yang saya lihat selama ini, tidak berimbang dan pemberita tidak melakukan cek n recek. Disebut bahwa Pabrik mobil Ford di Indonesia tutup (Ngeri kali bah, istilah Medan). Pabrik mobil Ford belum pernah ada didirikan di Indonesia. PT Ford Indonesia yang dikatakan tutup itu bukan pabrik pembuatan atau perakitan mobil Ford, tetapi Distributor resmi pemegang merk mobil Ford di Indonesia. Ini 2 hal yang berbeda. Kalau perusahaan Distributor resmi tutup, itu artinya penjualannya tidak target, itu bisa kita simpulkan PT Ford Indonesia tidak mampu bersaing. Dengan siapa? Ya tentu dengan distributior mobil pesaing dong, seperti Distributor Toyota, Daihatsu, Suzuki, Nissan, dll.

Apakah Ford akan meninggalkan Indonesia? Tidak mungkin. Penjualan mobil Ford di Indonesia antara 6 ribu sampai 7 ribu setahun. Itu angka penjualan yang cukup lumayan loh. Ford hanya mengganti distributornya, apakah akan dia dirikan sendiri atau tetap menggandeng distributor yang ada. Itu hanya masalah efisiensi agar dapat bersaing. Ford akan tetap di jual di Indonesia dan penjualnya akan tetap membutuhkan Tenaga Kerja (itu pasti)

Kedua, Pabrik Toshiba dan Panasonic tutup.

Anda jangan terkecoh dulu, pabrik toshiba yang mana? (kulkas, printer atau apa?) kan banyak merk Toshiba, ini juga tidak akurat pemberitaannya. Mungkin yang dimaksud adalah pabrik Toshiba yang ada di kawasan Industri MM2100 Cikarang (Pabrik Kulkas), Merk Toshiba (kulkas) tak dapat bersaing dengan produk korea, disamping masalah harga pasti juga lebih dipengaruhi inovasi, produk Korea berinovasi terus, Jepang sepertinya sudah cukup puas dengan yang dia punya.

 Idem dengan Panasonic. Pabrik Panasonic yang mana yang tutup? Ada puluhan pabrik Panasonic. Mungkin hanya satu yang tutup? Mengapa tutup, lagi lagi pasti karena efisiensi. Wong Pabrik PT Panasonic Gobel masih berdiri kokoh di Jln Raya Jakarta Bogor, Cimanggis. Yang tutup mungkin salah satu yang ada di kawasan industri MM2100 juga, karena dia hanya pembuat salah satu komponen.

Jadi beritanya harus berimbang agar tidak panik, tidak seram, seperti beberapa pemberitaan TV yang anti Jokowi.

 Ketiga, Isu politik yang dihembuskan bahwa tutupnya Panasonic dan Toshiba sebagai cara Jepang membalas kebijakan Pemerintah yang lebih memilih Kereta Cepat Tiongkok dibanding kereta cepat Jepang. Saya bikin huruf besar semua, ANDA JANGAN PERCAYA, ITU HOAX.

 Hellooow, memang Jepang sebodoh itu? Hanya gegara Kereta Cepat Jakarta - Bandung, yang hanya Rp 70 Triliun itu, harus kehilangan ber ribu ribu triliun proyek dan pabrik yang sedang ditanganinya di Indonesia? Come on beib jangan mudah terprovokasi oleh berita murahan itu.

Sekali-sekali anda boleh berakhir pekan, jangan hanya berkunjung ke mall, puncak, Ancol, tetapi bawalah sekali-sekali anak istri anda, ke daerah-daerah kawasan industri yang ada di sepanjang pinggiran Jobodetabek, Cikarang, Karawang, Cikampek, Purwakarta hingga Bandung. Di setiap pinggiran kawasan industri itu banyak restoran-restoran Jepang berdiri. Di samping anda memperkenalkan pada anak istri anda kawasan industri, anda boleh juga menikmati kuliner Jepang, Korea di daerah Cikarang, hingga Karawang. Di sana ada ribuan pabrik berdiri dan terus berkembang, setiap hari ada pabrik yang didirikan. Itu kebanyakan pabrik Jepang, otomotif dan elektronik.

Jadi, saya harap anda jangan percaya dengan isu, Jepang akan angkat kaki dari Indonesia. Itu hoax dan pekerjaan yang anti Jokowi.

Bahwa ada yang tutup, iya kita akui, tetapi jangan lupa! Lebih banyak yang buka, pabrik baru banyak didirikan sekarang di sepanjang kiri kanan jalan tol Jakarta menuju Bandung. Anda tidak percaya, coba cek sendiri. Atau anda sedang pengangguran, di sana pasti ada lowongan baru. Tolong beritakan juga dong, perusahaan-perusahaan baru yang sedang membutuhkan ribuan hingga puluhan ribu karyawan baru.

Bahwa ada masalah PHK, benar dan sedang terjadi PHK dimana-mana. Tetapi itu terjadi diseluruh dunia.

Keempat, Dihubungkan juga dengan import buruh dari Tiongkok. Ini masalah lagi dan kita seringkali menciderai diri kita sendiri.

Pernah gak kita menghargai jutaan buruh (TKI) di berbagai Negara yang sedang mengadu nasib, memperbaiki kehidupannya entah apapun posisi dan bidang kerja yang mereka lakukan diluar negeri sana. Mereka bekerja dengan baik di Negara orang dan menghasilkan devisa buat negara. Mengapa disaat yang sama, ketika ada buruh dari Negara lain, mungkin jumlahnya baru ribuan orang, lalu kita sudah menghajar Menteri Tenaga Kerja (Hanif Dhakiri) dan Jokowi yang dikatakan berpihak kepada Tiongkok. Pernahkah anda mempermasalahkan berapa banyak tenaga Kerja Jepang yang bekerja di Indonesia? Hampir semua pabrik Jepang yang ada di Indonesia, Tenaga Kerja Jepangnya pasti selalu ada, meskipun mereka tidak lebih pintar dari orang Indonesia (saya saksinya sendiri ya).

Bahkan di kawasan Cikarang, sedang dibangun yang namanya SCBD mirip SCBD Sudirman, disana akan dibangun Apartemen, Pusat Perbelanjaan, Pusat Perkantoran, Hotel dan dll, dimana sasarannya adalah para pekerja Jepang, Korea dan Tiongkok. Jadi adalah rugi besar jika Jepang hengkang dari Indonesia (catet dgn huruf besar, RUGI)

 Bukankah itu konsekuensi dari sebuah investasi?

Investasi berbicara tentang kepercayaan, ketika memutuskan berinvestasi maka otomatis seorang investor harus mempekerjakan orang yang dia percayai. Cara yang paling simpel mendapatkan orang yang dapat dipercaya ya harus mengenalnya. Kalau Tiongkok yang berinvestasi, maka investor sudah pasti membawa orang kepercayaannya, termasuk buruh.

Yang harus kita perkuat adalah produktivitas buruh kita, skill buruh kita. Waduh, Bapak Ibu, hehe, kalau anda sekalian melihat kenyataan di lapangan, orang kita itu skill nya kalah dengan buruh di luar. Sudah gitu, ngeyel lagi, makan hati pokoknya.

Jadi menurut pandangan saya, buruh impor adalah konsekuensi dari sebuah pilihan investasi. Terimalah dan kalahkan mereka. itu saja.

Dari semua permasalahan yang ada ini (PHK), maka mata kita pasti tertuju kepada Jokowi. Mampu gak Jokowi mencari jalan keluarnya? Saya yakin, Jokowi dengan berbagai strateginya akan mampu memperbaiki kondisi yang ada. Februari 1 dolar = 13.600 an, tentunya membuat harapan kita besar. Januari 2016 inflasi di bawah 1 persen, itu juga sinyal positif. Kalau APBN baru cair di pertengahan tahun seperti biasanya, maka di tahun 2016, sejak Januari, proyek sudah mulai berjalan. Tentunya dapat menggerakkan perekonomian. Dana Tiongkok sudah mulai masuk (kita butuh fresh money) untuk perputaran ekonomi. Dan lain sebagainya.

Buat kaum buruh dan tenaga kerja yang mengalami PHK, tetap optimis, kreatif dan bekerja keras. Esok adalah harapan baru. Jika boleh, saran saya, jadilah wiraswasta, itu jauh lebih berharga jalan pasti ada. Doa kita menyertai anda semua.

Jadi buat kaum salawi, bersabar sedikit, masa depan anda juga pasti akan lebih cerah.

 Catatan saja sedikit buat (Muhammad Iqbal) Ketua buruh KSBI agar jangan menuntut terus dan demo terus menerus, sebab anggota anda yang menjadi korban. Sabar sedikit, doakan agar Prabowo bisa terpilih, sehingga anda bisa menjadi Menteri Tenaga Kerja, itupun kalau dipercaya oleh PKS, hehe...

 Gitu aja dulu...

Salam Salawi, yang penting Jokowi salah.

 

Sumber : Kompasiana

Friday, February 5, 2016 - 13:00
Kategori Rubrik: