Paham Radikal Disebarkan di SMA-SMA Sejak 1991

Oleh: Niken Satyawati

 

Saya dan saudara2 saya sejak kecil sudah mengaji. Namun saat SMA saya mulai mengenal ajaran radikal. Kajian di masjid sekolah diisi ceramah ustadz muda bernama A yg terus mempropagandakan bahwa Islam sedang dizalimi sambil menggelorakan semangat untuk berjihad menegakkan kalimat Allah. Rupanya dia tidak hanya berceramah di masjid sekolah tapi juga bbrp sekolah sebelah. Si ustadz muda mengajak pertemuan2 di luar sekolah, namun saya tidak pernah ikut.

Gelora dan semangat menegakkan kalimat Allah mendorong saya bergabung dengan tiga rekan melakukan aksi nekat, yaitu masuk kelas serta ikut upacara bendera dengan mengenakan jilbab. Itu tahun 1991. Padahal waktu itu jilbab belum diperbolehkan di sekolah negeri. Walhasil kami dilarang masuk kelas selama masih memakai jilbab. Saya tetap masuk sekolah, namun hanya bisa belajar berempat di ruangan BP tanpa guru. Menjelang kenaikan kelas, ternyata jilbab resmi diperbolehkan di sekolah negeri. Kami pun boleh masuk kelas kembali, dan lolos dari ancaman tidak naik kelas.

 

 

Bersamaan dengan itu, saya berkenalan dengan ustadz muda lain, sebut saya namanya M. Dia membimbing kelompok mengaji yg diikuti salah satilu teman sekolah saya. Dia menyarankan kami membaca buku2 jihad di Afghanistan. Pergaulan mulai mendalam. Tak sedikit kawan yg tertarik untuk benar2 pergi ke Afghanistan dan berperang melawan entah siapa. Pokoknya iming-imingnya kalau mati di sana dijamin syahid dan mendapat surga lengkap dengan bidadari. Untung akal sehat masih mengendalikan saya. Saya ogah terlibat lebih jauh. Tapi dari berita-berita yg saya ikuti, ternyata tak sedikit anak2 Indonesia benar2 pergi ke Afghanistan dan juga Suriah untuk berjihad.

Selain propaganda jihad, Ustadz A maupun M juga selalu mengobarkan semangat bahwa menikah muda itu baik. Sunnah satu ini kalau segera dilakukan maka separuh dari seluruh amalan agama. Begitu selalu katanya.

Apa yg kemudian terjadi? Kawan saya sebut saja X benar2 menikah dengan siswa SMA sebelah. Di depan mata saya dia dinikahkan oleh seorang ustadz di suatu tempat, tanpa kehadiran kedua orangtuanya. Sampai di sini nurani saya memanggil. Semua sudah di luar akal sehat saya. Bagaimana mungkin pernikahan bisa dilakukan semudah itu? Bagaimana mungkin seorang anak tidak melibatkan orangtua dan keluarga besarnya untuk sebuah keputusan besar seperti ini? Orangtua X tidak tahu anaknya sudah melakukan hal sejauh itu karena keduanya pulanh ke rumah masing2 sehabis bertemu diam-diam.

Saya pelan-pelan menjauh dari X, menarik diri darinya. Dan karenanya saya hilang komunikasi dengan kawan saya ini saat lulus. Terakhir saya ketahui dia meninggalkan suaminya yg dari sekolah sebelah. Si suami mengalami depresi, sempat benar-benar gila dan kemudian mati muda. Sedangkan seorang kawan lain menunjukkan foto X tak lagi berjilbab.

Sementara itu kawan sekolah lainnya, Y, yg dulu juga ikut mengaji, suatu ketika saat kami masih SMA mengundang saya ke rumahnya. Di sana dia memperkenalkan laki-laki yg diakui sebagai sepupunya. Tapi belakangan saya ketahui laki-laki itu menjadikan kawan saya sebagai isteri keempat. Bersama enam anaknya dia hidup dalam keterbatasan. Anak-anaknya tidak ada yang sekolah. Mereka bahkan tak punya akte kelahiran. Y menjadi buruh jahit. Suaminya jarang pulang. Dua kali dia melahirkan sendiri hanya dibantu anaknya yg agak besar.

Usia SMA memang usia di mana anak-anak masih labil. Mereka merasa sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan besar. Usia itu sangat menentukan. Labil tapi berani. Perpaduan yg ideal untuk rekrutmen teroris.

Kini saya berusaha merangkul anak-anak saya sendiri, agar tidak gampang dipengaruhi radikalisme mengatasnamakan agama.

Saya sendiri kadang tak percaya itu semua terjadi. 

 

(Sumber: Facebook Niken S)

Monday, May 14, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: