Pahala Shalat Terbuang Percuma?

ilustrasi

Oleh : Hairus Salim

Tadi siang sekitar pkl setengah 12, saya mampir ke sebuah warung kecil untuk beli rokok. Siang ini sedikit agak panas. Dan jalan agak ramai.

Tidak berapa lama di seberang jalan saya lihat seorang ibu menggeret sepeda motor, diikuti seorang anak gadisnya, mungkin umur 5 tahunan. Rupanya sepeda motornya bocor. Ia mau menyeberang karena persis di sebelah pedagang rokok, tempat saya berdiri, ada penambal ban.

Ibu dan anak itu merasa lega karena mereka tak perlu berjalan lebih lama sembari menggeret motor bocor. Tapi dari yang kudengar ternyata si penambal ban bilang dia mau shalat dulu. Dan shalatnya mau berjamaah di masjid tak jauh dari situ. Klo mau menunggu, kata si penambal ban, nanti sehabis dia pulang dari masjid.

Si ibu melongo. Ia bilang sangat tergesa, saya tidak tahu tergesa ke mana, tapi si penambal ban tetap bilang hanya bisa menambalkan seusai shalat jamaah. Akhirnya si ibu memutuskan untuk cari penambal lain dan itu berarti dia harus jalan lagi.

Sebagai catatan, waktu itu belum azan. Mungkin masih 20 menitan lagi.

Saya terpana menyaksikan adegan itu. Kasus sederhana ini benar-benar menjadi sebuah undangan untuk renungan keagamaan. Bagaimana menurut pandangan Anda?

Jika Anda seorang pencinta formalitas agama, Anda mungkin akan terkagum dengan keteguhan dan konsistensi si penambal ban. Dia shalat tepat waktu plus berjamaah lagi.

Namun apakah Tuhan memerlukan shalatnya, sehingga ia bersikeras menomorsatukan untuk menemuiNya dan menomorduakan hamba Tuhan yang nyata-nyata memerlukannya? Bukankah dengan membantu hambanya itu dia justru bisa menemuiNya dengan cara yang lebih manusiawi?

Ia tidak akan kehilangan shalat karena secara fiqih waktunya masih sangat panjang. Nambal ban tak lebih setengah jam. Tapi itu tadi, si penambal ban merasa shalat jamaah dan tepat waktu jauh lebih penting serta di atas segalanya. Di sini agama rasanya kehilangan wajah manusiawinya.

Saya ingat sebuah cerita Sufi, tentang seorang yang mencari nama Tuhan yang ke100. Si Sufi menjawab, nama Tuhan yang ke100 adalah pengabdian kepada umat manusia.

Sumber : Status Facebook Hairus Salim

Saturday, August 8, 2020 - 19:15
Kategori Rubrik: