Pahala dan Dosa

ilustrasi
Oleh : Budi Santosa Purwakartiko
 
Dalam psikologi ada aliran Behaviorisme diantara beberapa aliran yang lain seperti psikoanalisa, humanistik, kognitif, dan trans personal.
 
Aliran behaviorisme menganut bahwa manusia itu awalnya seperti kertas putih (tabula rasa). Dia akan jadi merah, kuning atau hijau, tergantung treatment yang diberikan. Percobaan menggunakan anjing, bel dan makanan menunjukkan bahwa anjing bisa diarahkan kebiasaannya. Manusia pun akan begitu. Manusia bisa dibentuk sikap dan perilakunya dan juga pemikirannya dengan memberi kebiasaan dan ikutan berupa rewards dan punishment (pahala dan dosa). Jika itu diulang2 maka akan terbentuk karakter.
Sebuah hadist juga mengatakan manusia itu lahir bersih , dia akan jadi islam, majusi, nasrani atau yahudi tergantung pada orangtuanya (dalam mendidiknya).
Dalam pengajaran agama juga berlaku mekanisme rewards dan punishment. Untuk berbuat baik orang ditawari pahala. Juga jika perbuatan itu tidak dilakukan akan ada dosa.
Meskipun pada level hakekat orang sudah tidak peduli lagi pahala dan dosa. Ibarat sekolah pahala dan dosa itu masih pada level TK dan SD. Pada level SMA atau yang lebih tinggi orang belajar bukan karena iming2 premen atau hadiah lagi tapi karena ingin mendalami ilmu atau mencapai masa depan sesuai harapannya.
Kembali ke aliran behaviorisme tadi. Saya percaya setiap individu punya sifat bawaan yang unik. Meski diberi treatment yang sama , anak bisa jadi orang yang berbeda. Ada teman yang bercerita pernah ikut pengajian yang membuat dia membenci orang di luar kelompoknya atau penganut agama lain. Dia akhirnya terkucil dari saudara dan teman2nya. Dia merasa diri paling benar. Tetapi teman ini lalu melakukan evaluasi diri, dilihat lingkungannya , dipikir ulang. ternyata dia telah menjalani ajaran2 yang tidak sesuai hati nuraninya. Dia kembali ke dirinya yang dulu, sebelum ikut pengajian tadi.
 
Tapi tidak sedikit orang2 yang makin merasa benar dan mantap setelah mengikuti pengajian tadi. Di mata teman dan tetangganya, dia makin tidak sosial, hanya akrab dengan kelompok pengajiannya saja.
Di sini kelihatan bahwa tiap orang membawa karakter unik sejak lahir. Yang satu kemudian sadar tapi yang satu bisa makin cocok.
 
Tapi mungkin nggak banyak orang yang mau melakukan evaluasi diri terhadap sikap, perilaku dan perjalanan hidupnya (termasuk cara beragama). Jadi psikologi aliran behaviorisme memang secara general ada benarnya. Generasi yang lahir setelah tahun 90an misalnya, punya pemikiran yang relatif berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena pola pikirnya dipengaruhi lingkungan dan trend yang terjadi pada masanya, berbeda dengan masa sebelumnya.
 
Seorang guru, dosen, orang tua atau ustadz perlu belajar ilmu psikologi sebelum dia belajar ilmu lain. Karena ilmu ini menjadi dasar bagaimana kita memperlakukan orang lain yang unik untuk setiap orang. itu kata orang psikologi..
 
Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko
Saturday, September 26, 2020 - 18:15
Kategori Rubrik: