Pada Sebuah Tempat Parkir

Oleh: Dahono Prasetyonegoro
 

Di salah satu kantor pelayanan masyarakat. Di Kantor Pelayanan Pajak tempat mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pembagian keuntungan usaha, dagang dan aset yang dipastikan berhubungan dengan uang.
“Tunggu saja sebentar, paling lama 15 menit selesai. Ini cuma setor laporan pajak kok” kata istriku selepas turun dari boncengan motor sambil melepas helm. Aku jawab dengan mengangguk kemudian celingukan mencari tempat parkir motor. 
Di samping kantor ada tempat parkir khusus motor yang dijaga beberapa orang pegawai. Hanya sebuah area berbatas tali plastik di kanan dan kiri sebagai penanda satu jalur untuk keluar dan masuk. Tempatnya cukup adem di bawah deretan pepohonan rimbun.

Pada awalnya tempat itu akan aku tuju, namun mendadak urung setelah melihat sesuatu yang tidak sewajarnya terjadi. Dari tempat itu terlihat motor masuk dan petugas memberi selembar kertas. Saat motor pengunjung keluar, petugas meminta kertas dan terjadi transaksi kecil. Naluri isengku mendadak butuh penyaluran. Motorku mendekat ke arah pintu masuk bertali plastik, namun tidak sampai masuk ke are parkir. Di luar tali pembatas di samping mobil parkir, aku standarkan motor, duduk menunggu 15 menit yang di janjikan istriku.

“Maaf pak, parkirnya di dalam saja, lebih aman” kata seseorang yang bergegas mendekatiku. Masih muda, dandanan rapi dan yang pasti berseragam PNS.
“Nggak usah mas saya nunggu istri saya di dalam, paling sebentar lagi keluar” jawabku.
Dan seperti dugaanku, PNS muda itu kembali ke pos pintu masuk, melaporkan jawabanku kepada sesama lainnya. Salah seorang kembali mendekatiku, kali ini usianya lebih tua, bisa aku lihat dari kumis yang lumayan lebat miliknya.
“Bapak parkirnya di dalam saja, di sini untuk parkir mobil kepala kantor” kata PNS berkumis itu.
“Di sini saja numpang sebentar pak, nanti kalau mobil kepala kantor datang saya yang pindah deh” jawabku tak berusah melawan logikanya. Sebuah logika konyol menurutku, bagaimana bisa area parkir motorku yang seukuran ini, nantinya akan dipakai parkir mobil. 
“Pak, di sini khusus parkir mobil, kalau parkir motor silahkan masuk di sana pak” kata salah seorang berseragam lain yang mendadak ikut mendekat. Akupun mengalah sesuai rencana isengku. Motor aku gandeng menuju area parkir yang dimaksud mereka. Selember nomer di kertas aku terima, satu nomer bertali digantung pada stang motorku. Motorpun sukses terparkir sesuai aturan mereka, aku menikmatinya sambil duduk di atas jok, sesekali memaling ke arah mereka yang sibuk mengatur keluar masuk motor lain.

5 menit kemudian istriku menelpon menanyakan keberadaanku karena urusannya sudah selesai. Aku jawab masih di tempat parkir, kemudian bergegas menstater motor. Detik detik keluar area parkir aku nikmati, bersiap bertemu dengan petugas parkir berseragam PNS. Seseorang meminta kertas nomer parkir kemudian aku melajukan motorku keluar perlahan. Namun baru beberapa meter terdengar suara memanggil.
“Eh pak uang parkirnya belum”. Aku menoleh dan bertatapan dengan lelaki berkumis lagi.
“Berapa?” tanyaku sambil menghentikan laju motor.
“Dua ribu saja pak” jawab PNS muda yang tadi meminta nomer parkir. Aku ambil uang di kantong lalu berjalan menemui lelaki berkumis itu.
“Ini uang parkirnya pak. Tapi kalau boleh saya sampaikan, kalian bertiga harusnya malu. Gagah, terhormat, pakai seragam PNS tapi masih sibuk ngurusi uang pungli kecil seperti ini. Siapa mau bilang ini bukan pungli?” Kalimatku meluncur menyapu keterkejutan mereka. Aku tunggu salah seorang darinya berargumen pada kata pungliku. Satupun tak ada yang berkata.
“Bapak bapak digaji tetap tiap bulan, dijamin kesejahteraan oleh negara hanya untuk nongkrong di tempat parkir? Negeri ini yang bodoh, atau kita yang malas berubah?” begitulah kesombonganku meledak pelan.
Beberapa detik suasana senyap, ke 3 orang korban isengku tak juga melawan, salah seorang yang berkumis beranjak berjalan menuju kantor, kupastikan dia menghindar.
“Mas, kamu masih muda, kebutuhan perut juga belum banyak. Jangan ikutan cari rejeki yang nggak bener. Masa depanmu bisa bahaya” kataku kepada PNS muda yang sedari tadi menunduk, sibuk membolak balik kartu parkir di tangannya.

Dan siang itu tak ada yang luar biasa. Dalam perjalanan pulang, pertanyaan istriku saat melihat “insidenku” dari kejauhan tak segera kujawab.
“Nggak ada apa apa kok. Cerita jelasnya nanti pasti muncul di postingan fesbuk kok. Tunggu saja seperti biasa” jawabku setengah teriak berusaha mengalahkan bisingnya lalu lintas siang itu.

Depok, Agt’16

 

(Sumber: Status Facebook Dahono P)

Wednesday, September 21, 2016 - 13:30
Kategori Rubrik: