Pada Mulanya

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Sejak kecil perhatian saya dibetot frasa “Pada mulanya” dalam kitab Kejadian dan Injil Yohanes. Kata Maria Tobing, ibu tiri saya, dua ayat itu kerap terdengar di acara “pajojorhon”, maju ke altar membacakan satu-dua ayat Alkitab dalam perayaan Natal anak-anak sekolah minggu HKBP. “Di mula ni mulana,” demikian Maria Tobing dan teman-teman mengucapkannya dalam bahasa Batak dengan lantang.

Tersenyum pada itu semua, sekarang saya mengajak Anda membayangkan dua “Pada mulanya”.

1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1)

Para theis dan atheis terjerembab di kekeliruan yang sama: membayangkan keadaan sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Padahal pernyataan tersebut dimulai dengan frasa “Pada mulanya”, tidak dimulai dengan kata “Tuhan” sehingga menjadi “Tuhan menciptakan langit dan bumi pada mulanya.”

Cukup dengan pengetahuan berbahasa a la kadarnya, kita sepakat: sang penulis memberi tekanan pada “Pada mulanya”, bukan pada “Tuhan”, tidak pada “menciptakan”, tidak juga pada “langit dan bumi’. Frasa “Pada mulanya” adalah bagian terpenting dari ayat tersebut.

Ungkapan yang padan dengan ‘pada mulanya’ adalah ‘semula’, ‘awalnya’, dan mungkin beberapa yang lain.

Katakanlah saya bercerita tentang pertemuan dua sahabat saya, Jonggi dengan Helga. Di sebuah bagian saya gunakan ungkapan berikut ini: “Semula Helga ragu: apakah Jonggi bakal setuju pada tawarannya.”

Tidak ada ruang tersedia bagi kita untuk membayangkan perasaan Helga sebelum tawaran itu terpikirkan. Sebelum terbit sebagai gagasan, Helga tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya. Perasaan Helga dimulai dengan keraguan, yang terbit bersama atau setelah lahirnya tawaran tersebut, dan dalam 5-10-atau-15 menit berikutnya berkemungkinan berubah menjadi keyakinan.

Kata ‘semula’ tidak menyediakan ruang di belakang, hanya menyisakan penjelajahan ke depan. Begitu pula dengan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

Dalam bahasa Ibrani, Kejadian 1:1 dibuka dengan “Bereshit”, yang padan dengan “Pada mulanya”. Bet adalah huruf pertama. Berikut ini telaah unik dan sedikit mistikal terhadap huruf pertama dalam Tanakh.

Sebagaimana bahasa Arab, penulisan dalam bahasa Ibrani dimulai dari kanan ke kiri. Huruf ‘bet’ pada gambar di bawah terletak di ujung kanan, nyaris membentuk kotak segi empat, hanya sisi kiri yang terbuka.

Rabi Jonah, salah seorang guru terkemuka dalam masyarakat Yahudi di jaman pertengahan, berkata: “dunia diciptakan huruf Bet. Karena itu, sebagaimana letak tiga sisinya, tak boleh ada satupun dari kita yang memandang ke belakang, tidak juga ke atas, dan tidak ke bawah. Kita hanya punya kesempatan melihat ke depan karena begitulah hidup kita tertuju; demikian pula segala sesuatunya bertumbuh dan mekar. Eksistensimu bermula dengan Bet dan berakhir di keterbukaan.”

Tanpa bermaksud menolak Rabi Jonah, perlu kita ajukan pertanyaan dengan huruf besar dan, kalau perlu, tebal: kenapa kitab suci ini, yang bercerita tentang Tuhan, dan mengajak pembacanya percaya pada kedaulatan Tuhan, tidak memulai kata pertama di halaman pertama dengan “Tuhan”?

Dengan pola kalimat macam itu, tak bisa lain, kita kudu mengaku: Tuhan berada dalam keberurutan yang dinyatakan penulis Taurat. Artinya, Tuhan tidak menggenggam keberurutan kisah penciptaan melainkan terlingkup di dalamnya. Sedikit lebih berani: ayat tersebut menyatakan kepada kita bahwa Tuhan berada di dalam waktu dan tidak menciptakan waktu. ‘Pada mulanya’, waktu..., hadir sebelum Tuhan. Dan, seturut pengajaran Rabi Jonah, kita tak diperkenankan bertanya: apakah Allah hadir sebelum waktu? Alkitab dibuka dengan “Pada mulanya.” Maka hanya setelah “Pada mulanya” Allah hadir.

Saya lihat sebagian dari Anda mengacungkan tangan, entah ingin protes, entah ingin bertanya. Tahan dulu, biarkan saya melanjutkannya.

Ada 2 kekuatan yang jadi pelaku utama dalam ayat tersebut: ‘Pada mulanya’ (waktu) dan Allah. Bila Anda berkeberatan dengan pendapat saya bahwa Waktu yang mengadakan Allah, maka baiklah kita sepakat bahwa Allah dan Waktu berposisi sejajar. Dan itu bahaya besar.

Segala berubah oleh waktu. Semua, yang berada di dalam waktu, fana. Seluruh, yang bersangkut dengan waktu, hanya ada setelah waktu. Mereka mungkin berposisi sejajar. Tapi memandang mereka secara vertikal, terlihat benar: waktu berada di atas, Allah di bawahnya.

Mencipta langit dan bumi, dari tiada menjadi ada, adalah tindakan yang berada di dalam waktu; dari tiada ke ada adalah garis waktu. Allah dikepung waktu. Dan karena itu, sebagaimana segala di dalam waktu akan berakhir, begitu pula dengan Tuhan. Allah yang dikisahkan penulis KItab Kejadian bakal binasa. Suatu saat. Kelak. Entah kapan. Tapi pasti. Karena Allah berada di dalam waktu.

Sekarang, mari kita beralih ke bagian dua.

2. Pada mulanya adalah Firman. (Johanes 1:1)
..............

Cuplikan di atas diambil dari tulisan Kenisha Siagian, tokoh utama dalam buku "Adagium: Namaku Kenisha" (ANK). Tokoh ini mengomunikasikan gagasannya melalui blog, juga saat menjadi panelis tunggal di berbagai diskusi, yang dipancarluaskan secara langsung oleh 12 sahabat ke seluruh dunia melalui tv streaming. Ya, Kenisha dan 12 sahabatnya: 7 pelajar kelas 12, dan 5 mahasiswa semester satu.

Awal Nopember ANK memasuki masa produksi, akan meluncur pada 1 Maret 2018 (kali ini saya sudah berani menyebut tanggal, tak sekadar bulan dan tahun). Meski sayalah yang menghimpunnya, sebagian dari isi ANK ditulis istri saya, Muna Panggabean, khususnya bagian-bagian yang mengandung teologi Kenisha

Kenisha menyajikan perspektif segar, teologi baru. Sebagian hadir dengan merubuhkan yang lama, sebagian tampil untuk menyempurnakan yang sudah ada. Dia juga melansir pemahaman lain tentang Trinitas. Dia tawarkan istilah "Allah Yang Relatif". Sang Putera adalah Allah yang berelasi dengan jagad dan isinya sehingga bergelar "Allah Yang Relatif".

Mudah-mudahan penjelasan Kenisha kelak membuat saya paham. Kalaupun tidak, tak apa. Saya kadung jatuh cinta pada Yesus dengan cara yang kebangetan. Jethro Julian, putera sulung saya, bahkan berkata: "Abba, kamu menderita Jesus Complex".

Is that something related to brain damage?

....
Oh but now old friends are acting strange
they shake their heads, they say I've changed
well something's lost but something's gained
in living every day

I've looked at life from both sides now
from win and lose and still somehow
it's life's illusions I recall
I really don't know life at all

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, October 11, 2017 - 16:15
Kategori Rubrik: