Pada Menit Ke-27 Detik Ke-40

Oleh: Sahat Siagian

 

Saya tercekat. Raut wajah lelaki itu begitu nelangsa ketika mengenang kembali bagaimana bocah Izrail mengingat nasehat Ibunya.

Entah kenapa saya bangun pada pk 04:39 tadi. Padahal seharian kemarin saya begitu letih sehabis mengerjakan banyak tugas dan baru bisa merebahkan tubuh pada pk. 00:15. Tak tahu apa yang harus dilakukan, apalagi baru 5 jam lalu saya baca Alkitab sehingga terasa aneh kalau membacanya lagi di subuh ini, saya berselancar di FB.

 

 

Saya simak aneka posting dan lalu tertambat pada video yang dikirim Agung Pranolo: 30 menit bersama Jokowi. Saya turun ke lobby, mengisap rokok di dinginnya musim gugur. Udara terasa segar, saya hirup dengan gemebyar, berseling asap rokok kretek dari Indonesia. Hanya 7 menit dan saya naik kembali ke kamar.

Video kiriman Agung saya putar. Gambarnya bagus. Sudut yang dipilih untuk berkabar sungguh terencana. 5 bendera merah-putih di sisi kiri dan kanan, dan 5-5 lagi di bagian belakang betul-betul dirancang untuk memancarkan ketenangan sekaligus salam 2 periode. 2 kamera, dalam hitungan saya, menggunakan teknik, katakanlah, bokeh: obyek utama tampil subtil, obyek di belakang tampil blur--sementara satu kamera lagi berposisi 'still' to get the picture as it is.

Saya tidak kenal siapa host-nya. Kualitasnya jauh di bawah Najwa Shihab atau Rosi Silalahi. Tapi 'kesederhaan' dia nampak diperhitungkan cermat oleh NET Tv. Kesederhanaan itu berhasil menyembulkan Jokowi dengan utuh. Sungguh pilihan cerdik dan lahir dari pertimbangan matang.

Karenanya menit ke-27 detik ke 40 sangat mencengkeram ingatan. Wajah Jokowi terlihat sungguh nelangsa, meruap rintihan dari kedalaman terdalam terhadap bocah Izrail dan bocah-bocah Indonesia. Kesejatiannya berlanjut ketika dia berkata: "saya trenyuh... tapi karena di mobil adanya hanya roti, ya sudah, saya kasih roti. Tiga."

Dia memberi apa yang bisa dia beri pada saat itu. Cuma ada roti..., ya sudah, dia berikan roti. Dia tidak memberi janji, tidak menyuruh orang mencarikan sesuatu buat Izrail. Dia memberi apa yang ada.

Ekspresi tersebut berubah ekstrim ketika di menit ke 28 detik ke 40 dia menjawab pertanyaan tentang apa mimpi dia tentang Indonesia: tegas, keras, tanpa melenyapkan kesederhanaannya.

Ini lelaki otentik--meminjam istilah Muna Panggabean. Perhatian yang tercurah kepada rakyat memang apa-adanya, sedemikian hatinya menyatakan itu. Lelaki itu membaktikan hidupnya sebagai ekspresi cinta jagad-raya

Rupiah mungkin masih terus melemah untuk mencari keseimbangan baru. Bisa 16,000, bisa jadi 20,000. So what? Angka-angka itu tidak mencerminkan keadaan ekonomi Indonesia. Sebab dari keapaadaan lelaki itu kita tahu bahwa kurs telah berkhianat. Ada sejumlah pihak mempermainkannya. Saran saya kepada BI: biarkan, tak usah intervensi. Mereka akan terkapar di depan kebesaran Indonesia.

Kamu masih punya nyali maju ke pilpres? Kamu akan melolong di ujung lorong meratapi segepok uangmu yang hilang. Betul, bisnismu sudah hancur sekarang karena lelaki itu. Tapi kamu memang curang, rakus, gila selingkuh, dan mau enakmu saja.

Kenapa tidak kamu gunakan danamu untuk berinvestasi di 3 atau 5 dari 17ribu pulau Indonesia? Negeri ini berlimpah peluang dan kesempatan. Tapi itu kalau kamu mau berubah, bertobat, bersejalan dengan cinta.

Sebab cinta bukan pembacaan novena, atau wirid sekian ribu kali, atau berpuasa Daud berbulan-bulan, atau berkhotbah dari mimbar salib dengan mulut berbusa-busa.

Cinta adalah ketika kamu bersenyawa dengan Izrail, bersepengharapan dengan Indonesia Maju, membuka pagi dengan senyum dan bersapa: apa kabar, dunia?

Lalu di jalan yang kamu lalui ke kantor atau ke kampus, kamu temukan lagi cinta yang mencumbumu setiap hari melalui roti bakar, bubur ayam, atau ketupat sayur.

Serius, kamu masih berpikir mau mengalahkan cinta, bengak?

3 ketul roti yang diberikan lelaki itu kepada ke Izrail akan beranak-pinak, mengenyangkan Indonesia. Jangan terkejut kalau sisanya nanti 12 bakul.

(Facebook Sahat Siagian/Sumber: sayapesansatu.com)

Monday, October 8, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: