Pada Keluarga Jokowi, Saya Membacanya Begini

Oleh : Thamrin Sonata

Berbuat baik saja  dan benar  bisa disebut jelek dan salah. Ini mungkin yang kerap digunakan sebagai tameng seorang pemimpin kalau terpepet: Ndak bisa memuaskan semua pihak. Namun kata-kata itu belum pernah saya dengar diucapkan.

Inilah repotnya, kalau bisa disebut sebuah kerepotan, menjadi pemimpin era digital. Siapa pun bisa berbicara dengan caranya: di twitter, atau pun yang bisa dibaca cepat oleh siapa pun secara terbuka. Ini bukan lagi era asbak, di mana tulisan di sebuah papan hitam dengan grip sebagai medianya pada enam puluhan dan awal tujuh puluhan di sebagian negeri ini. Atau di papan tulis hitam dengan kapur tulis putih oleh guru kita.

Bagi anak-anak negeri ini yang tak pernah mengalami betapa susahnya menggoreskan “kapur” untuk menuliskan, mungkin dianggap mengada-ada. Itu zaman sepur lempung! Memang. Zaman jadul, yang masih sulit untuk dipahami oleh generasi sekarang. Bahkan mungkin generasi Jaman Orang Orde Baru, Jonru sekalipun walau ia merasa pintar dan benar. Yang semua bisa diucapkan dengan enteng tanpa melihat kiri-kanan asal dirinya menjadi dianggap imam terbenar.

 Deret dan renteng panjang yang telah disematkan kepada Jokowi, tak berbilang-bilang lagi. Dari seorang keturunan Cina, anak partai kiri dan seterusnya. Namun sudah menjadi sejarah – sebagian waktu – per 20 Oktober setahun lebih lalu menjadi seorang Presiden secara sah, dejure. Yang bisa disalah-salahkan oleh orang-orang yang mestinya ada di sisinya memberi masukan baik-baik untuk bersama-sama membenahi negeri ini dengan “kerja-kerja-kerja”. Ndak malah dijewer oleh Sang Ibu di hadapan banyak pasang mata karena dianggap mbeler. Entah di mana badungnya ia. Hanya karena suka blusukan ke ranah-ranah yang nggenah atawa bener. Mencoba jalan lurus dalam mengurus dua ratusan juta mulut menganga.

Bahasa sekarang di-bully, dan itu tak membuat bergeming Jokowi. Meski ia boleh jadi harus bagaimana membela anaknya yang juga mencoba membututinya. Dengan berdagang martabak pun dianggap salah: itu menurunkan martabat. Dengan ia mengunjungi anak tanpa menggunakan fasilitas Negara ketika ke luar negeri berpesawat kelas ekonomi pun “salah”. Atau bahkan saat membuat hajatan manten anaknya tidak perlu menggunakan Istana Negara dan membiarkan anak sampai membuatkan “pengeras suara” dari kayu Negeri jauh di sana untuk bisa medapatkan suara terbagus ketika ia mengucapka ijab-qobul. Ia ingin dengan cara sederhana, di rumah sendiri di dekat kali di Solo sana “merayakan” mantenan sang anak itu. Mungkin ia ingin berpesan kepada sang anak penjual martabak itu, “Aku ingin mencintamu secara sederhana”*.

Seorang presiden, mungkin layak diumpetkan ketika ada sebuah teroris beraksi bagai dalam sebuah film di mana pelakunya secara lebih meyakinkan: bertopi merk terkenal, berjeans, bersepatu ringkas dan senjata di tangan di jalan jantung ibukota dan hanya berbilang meter dari kantornya di Medan Merdeka Utara. Tidak demikian ia tak merasa perlu menjelaskan kepada rakyatnya: saya ini sasaran tembak ,seraya memperlihatkan foto diri padahal itu sebuah “masa lalu”. Justru menyatroni tempat itu. Untuk memberi dukungan. Teroris itu perbuatan yang mesti kita lawan! “Jangan takut!”.

Jangan takutnya diperoleh dari mana? Karena ia tumbuh dari rakyat. Dan untuk rakyat.

Barangkali. Godaan seorang presiden, tentu tak berbilang-bilang. Seperti sudah deret panjang yang dipajang di atas. Meski mungkin masih kurang. Namun telah dilewatinya dengan senyum yang sesungguhnya tak indah-indah amat. Kecuali ketulusan. Pertanyaan selanjutnya: apakah Engkau tahan jika tidak korup? Apa kata dunia, selain saya bisa kecewa luar biasa!

Katakan: tidak! *** *

aku ingin mencintamu dengan sederhana;

 dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Penggalan sajak Sapardi Djoko Damono, pria kelahiran Solo yang guru besar sastra UI

 

Sumber : Kompasiana

 

Tuesday, January 19, 2016 - 13:30
Kategori Rubrik: