Pada Akhirnya Jokowi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Pada akhirnya, semua bertumpu pada Jokowi. Seng ada lawan. Prabowo, sudah nyata terbukti, kalah dalam Pilpres 2014 dan 2019. 

Baik Prabowo maupun SBY, tak bisa menandingi Jokowi. Apalagi orang macam Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rocky Gerung, Ridwan Saidi, Rizieq Shihab, Amien Rais, Eggy Sudjana, Kivlan Zein, Karni Ilyas, Iwan Piliang. Prabowo dan SBY pun akhirnya bilang siap membantu Pemerintah jika diminta. Baik di dalam maupun di luar. Tentu saja, tak ada yang gratis. Di luar lebih enak, transaksinya bisa terima mentahan. Tak perlu nota.

 

Menjelang 20 Oktober 2019, berbagai rumors, juga kejadian, berseliweran. Bahkan para dukun palsu dan dukun cabul bilang; bakal muncul kerusuhan menjelang pelantikan Jokowi. Dalam komunitas anak indigo, konon ada yang “melihat” Jokowi tertembak! 

Dengan segala hormat, omong kosong dengan semua itu. Meski saya nggak akan tiru-tiru Hanum ngomong; Itu untuk membangun framing. Kenapa kita jadi keracunan filosofi Joker? Yang indah, dramatic, poetic, artistic secara psycho-art? Tapi menghina otak kita yang dikarunia nalar untuk berhitung? Menyikapi dan mengantisipasi?

Segala kesimpangsiuran menjelang pelantikan, adalah lahan empuk para penumpang gelap. Untuk menciptakan situasi chaostic lebih matang. Revolusi tengah hamil tua. Semakin gila dengan Ninoy Karundeng dianiaya di masjid, atau pun Menkopolhukam ditusuk penjahat. Para pejuang HAM mingkem bukan hanya karena konsep dan pemahaman yang jadul; Civil society centered, dengan framing rezim Pemerintah. Padahal mereka bilang Reformasi Politik terjadi 1998 lalu. Tapi sebagai isu dagang pada funding (apalagi di luar negeri), memang tidak sexy. Tak sebagaimana Dhandy dan Wamena. Komnas dan pejuang HAM? Hambelgedhes, gaes!

Jika kita kecewa pada Jokowi, adakah yang lebih baik dari dia? Sekarang ini? Secara politik dan pandangan internasional? Lagian, kalian mau menghina 54,50% dari 190 juta pemilik suara, yang memilih Jokowi? Ia dipilih karena track record, kinerja, reputasi, prestasi. Ia relatif bersih, dengan keagamaan yang jernih. Diterima masyarakat Islam internasional, termasuk di beberapa negara-negara Timur Tengah. Ia diperhitungkan, justeru dengan latar belakang tak dinyana. Bukan ningrat dan legenda politik. Juga bukan militer. Ia keajaiban yang ditemukan masyarakat warga, yang jenuh dengan berbagai kejumudan dalam perpolitikan kita. Meski senyampang itu, kita juga bisa bilang; Karena itu pulalah, ia dibenci para pembencinya, sejak awal.

Bahwa ada yang membenci, dengan berbagai latar dan kepentingan masing-masing, hingga Rocky Gerung bisa bersinergi dengan kelompok PA-212 dan HTI, yang satu suka ndunguin orang, satunya lagi suka ngafirin liyan, itu pragmatisme politik. Setali tiga uang. Termasuk generasi Hanum Rais, atau pun isteri para militer yang terinfiltrasi HTI-ISIS. Sampai rektor, dosen, mahasiswa, komisioner negara, aktivis, tempo-tempo jurnalis, juga musisi. 

Mereka berada dalam satu adonan ketidakpekaan, akan agenda besar bangsa dan negara, menyongsong momentum perubahan. Tapi mereka menolak sistem, walhal demokrasi juga menuntut kesabaran, disiplin, dan taat hukum. Bukan hanya wacana kebaikan yang utopis, tapi tidak jurdil (jujur dan adil), sejak dalam pikiran hingga manifestasi dan implementasi. Emangnya ada orang suci, Kadrun, di luar kontrol sebuah sistem? Di jaman para Nabi pun, kekacauan juga terjadi. Juga kedengkian serta kriminalitas.

Katakan dalam keheningan nuranimu. Ketika engkau menjelekkan dan memfitnah Jokowi, adakah engkau menemukan yang lebih baik? Siapa dia? Bahkan dirimu pun tidak. Sejujurnya. Karena sesungguhnya tak ada keajaiban dalam politik. Termasuk mengapa kita bisa benci pada Arteria Dahlan, misalnya. Juga kepada Anies Baswedan, misalnya. Itu sesuatu yang integrated. Dengan sendirinya. 

Hanya saja sebagian besar yang mendukung Jokowi, terlalu toleran pada intoleransi, juga pada kengawuran berfikir. Takut dibilang buzzer bayaran pemerintah. Padahal ini soal nurani kita. Apakah kita sendiri goyah dengan pilihan nurani itu? Bagian dari soehartoisme? Atau karena sungkan? Enggan? Yang justeru memberi ruang kedzaliman dan ketidakadilan bersimaharajalela? 

Jokowi masih bisa menjadi simbol dan idealisme kita, mengenai ghirah perubahan. Setelah partai politik, dunia akademik, bahkan agama, belum juga bisa berubah dalam proses social enginering, upaya pemberdayaan masyarakat warga. Apalagi jika benar, 43% masyarakat Indonesia takut bicara politik!

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, October 12, 2019 - 15:15
Kategori Rubrik: