Pada Akhirnya Jokowi yang Menang

ilustrasi

Oleh : Hermanto Purba

Ketika Soeharto berkuasa, tidak ada satu pun warga negara yang dapat berucap dan berlaku sebebas seperti di era reformasi saat ini terlebih-lebih pada masa Jokowi memerintah. Semuanya ada di bawah kendali sang penguasa rezim. Semua harus tunduk. Ketika sang pemimpin orde baru itu bertitah, maka seluruh rakyatnya harus manut.

Begitulah kehidupan di republik ini berjalan selama 32 tahun lamanya. Benar, Indonesia negara demokrasi, konstitusi mengatur tentang kebebasan rakyatnya untuk berpendapat dan berserikat, tapi semua itu hanya di atas kertas. Praktiknya tidak begitu. Indonesia kala itu kurang lebih sama dengan Korea Utara sekarang. Semua serba terbatas dan terkekang.

Tidak ada yang boleh mengkritik pemerintah kalau tidak ingin dipenjara bertahun-tahun lamanya tanpa pernah diadili, atau yang lebih sadis lagi, nyawa bahkan dihilangkan paksa. Ketika itu, jangankan mengkritik atau hanya sekedar menyuarakan jeritan hati kita sebagai rakyat, sekedar menyebut nama Soeharto saja, sepertinya bibir terasa begitu berat.

Hal semacam itu yang kita tidak lagi temukan saat ini. Kita berada pada era kebebasan. Era di mana setiap warga negara bebas menyuarakan pendapatnya, menyuarakan ketidaksukaannya pada rezim, menyuarakan segala macam keluh-kesah yang dihadapi, bahkan hingga menyebarkan hoax, ujaran kebencian, fitnah hingga caci maki juga bebas.

Sebuah kondisi yang menurut saya sudah kebablasan. Bahwa makna kebebasan yang diperjuangkan dengan bertaruh nyawa oleh para pejuang reformasi pada tahun 1998 silam itu, telah disalahartikan. Bahwa kebebasan itu sejatinya haruslah pada trek, aturan, serta norma yang jelas, bukan asal hantam kromo seperti yang terjadi belakangan ini.

Atas nama demokrasi, begitu para penggema “kebebasan” itu berkilah. Betulkah demikian? Demokrasi juga ada aturannya. Berdemokrasi tidak asal hantam setiap mereka yang berbeda dan tidak sepaham dengan kita. Berdemokrasi tidak mesti barbar. Tetap harus menjunjung tinggi adab dan nilai-nilai moral yang berlaku di tengah masyarakat.

Jokowi telah merasakan imbas dari kebebasan yang kebablasan itu. Ia menjadi pemimpin yang mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari rakyatnya sendiri. Sejak terpilih menjadi presiden pada Pilpres 2014 lalu, selama itu pula ia mendapat fitnah dan caci maki dari rakyatnya. Ia terus-menerus digoyang. Ia diharapkan jatuh dari kursinya.

Adalah mereka kelompok sakit hati yang seakan tak pernah henti menyerangnya. Mereka yang calon presidennya tidak berhasil memenangi laga sekalipun segala macam jurus telah dimainkan. Mereka yang calon presidennya tidak berhasil mengumpulkan suara terbanyak sekalipun segala macam kebohongan telah disemburkan lewat berbagai macam media.

Mereka mengamuk sejadi-jadinya. Amarah mereka seperti tidak pernah reda. Terus saja begitu sejak tahun 2014 lalu. Bahkan belakangan ini, kegerahan serta kegeraman mereka sepertinya makin memuncak. Suara mereka begitu menggema hingga ke seluruh pelosok negeri. Rakyat di akar rumput mereka provokasi untuk turut serta memusuhi pemerintah.

Bukankah capres yang mereka dukung pada dua kali Pilpres terakhir telah melembutkan hatinya dengan bergabung kepada Jokowi? Sudah berkali-kali pula sang capres pilihan mereka itu mengimbau agar sebagai sesama anak bangsa yang sempat terbelah, kembali bersatu dan bergotong-royong membangun dan memajukan negeri yang raya ini.

Tetapi ajakan itu seperti angin lalu saja bagi mereka. Tidak ada sedikit pun keinginan mereka untuk turut melembutkan hati seperti yang dilakukan (eks) capres pujaan mereka itu. Dan ternyata, mereka sudah berpaling. Keputusan sang capres bersekutu dengan penguasa membuat mereka merasa dikhianati. Ia bahkan menjadi musuh baru bagi mereka sekarang.

Kenapa Jokowi begitu dibenci? Sesungguhnya kelompok sakit hati itu (kita sebutlah namanya ekstremis kanan), dari awal perjuangannya tahun 2014 lalu, mereka sudah begitu yakin bahwa Jokowi akan kalah. Dalam pikiran dan perkiraan mereka, Jokowi tidak akan berhasil memenangi kontestasi lima tahunan itu. Namun ternyata, semuanya meleset.

Jokowi yang justru keluar sebagai pemenang. Mereka terheran-heran dong. Bagaimana bisa Jokowi yang bukan ketua umum partai, bukan keturunan ningrat, bukan pula orang kaya, bisa mengalahkan calon yang mereka bangga-banggakan, yang memenuhi segala persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin? Tapi keputusan ada di tangan rakyat.

Segala rencana mereka urung terlaksana. Mimpi mereka untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara berdasarkan syariah islamiyah dengan ideologi khilafah gagal. Begitupun para elite penyokong mereka selama ini, terpaksa harus mengubur mimpi mereka untuk mengeruk sumber daya alam serta kekayaan negeri ini demi kepentingan mereka sendiri.

Ronde pertama pertarungan Jokowi melawan para pengasong agama, para kaum rasialis, para pengkhianat bangsa, para perongrong ideologi Pancasila, para mafia kelas kakap, serta orang-orang yang ingin membangkitkan kembali orde baru, sesungguhnya telah dimenangi oleh Jokowi. Namun laga belum usai. Ronde kedua kini sedang dimainkan.

Pandemi Covid-19 yang semestinya semakin merekatkan tali persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa, ternyata tidak bagi para “musuh-musuh” Jokowi tersebut. Masa pandemi ini justru mereka manfaatkan untuk mengguncang presiden ketujuh itu. Segala upaya mereka lakukan untuk menurunkan paksa Jokowi dari jabatannya.

Sosok Soeharto mereka hidupkan kembali. Mereka berfantasi bahwa hidup di era orde baru jauh lebih baik ketimbang di era Jokowi saat ini. Bahwa Jokowi lebih otoriter daripada Soeharto. Dan berbagai halusinasi lainnya. Hmm…! Untuk hal ini saya pikir cukup kita tertawakan saja. Sebab membandingkan Jokowi dan Soeharto ibarat langit dan bumi. Jauh.

Kemarin, mereka berdemo. Konon ingin menyuarakan penolakan mereka terhadap RUU HIP. Namun faktanya di lapangan tidak begitu. Mereka justru meneriakkan agar Jokowi segera mundur, agar MPR segera bersidang untuk memecat Jokowi. Apa hubungannya antara RUU HIP dan Jokowi turun? Tapi sudahlah, kita paham betul ada maksud jahat di balik demo itu.

Dan saya yakin, ini barulah permulaan dari ronde kedua pertarungan Jokowi vs. kelompok pengacau itu. Saya memperkirakan masih ada demo-demo berikutnya atau berbagai jenis permainan kotor lainnya untuk mengganggu dan mengguncang pemerintahan Jokowi. Tapi sekali lagi, yakinlah, Jokowi yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

Kenapa saya begitu yakin? Jokowi memiliki hati yang tulus ikhlas untuk membangun bangsa ini dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia tidak serakah. Ia hidup sederhana sekalipun sangat memungkinkan untuk hidup dalam kemewahan. Ia tidak korupsi. Ia tidak pula memanfaatkan kekuasaannya untuk memperkaya diri dan keluarganya. Dan satu lagi, ada jutaan rakyat yang tanpa henti mendukungnya. Bravo Jokowi!

Salam Indonesia satu!

Sumber : Status facebook Hari Purwanto

Wednesday, July 1, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: