Pabrikasi Isu dan Dua Kefatalan

 

Oleh : Hilman Fajrian

Sebagai seorang perokok, saya tak pernah risau dengan kabar bahwa harga rokok akan naik dengan segera dan dengan harga fantastis. Meski 2 minggu belakangan topik ini berseliweran dengan kencang di news feed FB saya, tak juga bikin saya cemas. Namun hampir semua pria dan teman perokok yang saya temui minggu ini mengajak topik diskusi yang sama: bulan depan harga rokok naik. Ini meresahkan saya. Bukan karena takut harga rokok naik, tapi bagaimana sebuah pabrikasi isu di media sosial bisa berdampak ke kehidupan nyata.

Selain sebagai seorang perokok, saya adalah pelaku bisnis media dan new media. Sebagai seorang pengembang manajemen reputasi digital yang kerap terlibat dalam asymmetric war, saya diharuskan paham bagaimana informasi bekerja. Di era new media, tidak sulit untuk menpabrikasi isu: menciptakan, mengolah, mempopulerkan, dan menggunakan informasi untuk mencapai tujuan. Mayoritas (nyaris semua) topik perbincangan masyarakat sehari-hari saat ini adalah hasil dari pabrikasi isu. Mereka tidak muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba.

Dari sepengamatan saya, inilah proses pabrikasi isu rencana kenaikan harga rokok:

1. Sebulan lalu satu-dua media massa melakukan wawancara dengan seorang pengamat tentang PENDAPATNYA dan hasil penelitiannya soal rokok di Indonesia. Si pengamat berpendapat untuk menekan konsumsi rokok sebaiknya harga rokok dinaikkan di atas Rp 50.000. Berita ini kemudian dipublikasikan secara online di situs berita mereka. Judulnya dan isinya pun biasa saja. Penelitian dan pendapat seperti ini bukan yang pertama kali dilontarkan. Berita ini juga tidak begitu populer pada awalnya, namun dijadikan pengumpan untuk pabrikasi isu.

2. Beberapa blog dan situs media perorangan rupanya jeli melihat topik seksi ini dan memulai pabrikasi isu. Mereka melakukan headline engineering (rekayasa judul) untuk menjalankan click bait (umpan klik) ke situs mereka. Judulnya heboh-heboh seperti 'Bulan Depan Harga Rokok Naik Rp 50.000', dan semacamnya. Tentu saja ditambah bumbu-bumbu dan opini dalam konten artikel itu. Motif yang saya lihat sebenarnya semata-mata hanya soal bisnis: mendatangkan trafik ke situs, meningkatkan valuasi situs serta menaikkan pendapatan iklan Adwords. Namun yang melakukannya bukan lagi satu-dua, tapi banyak, sehingga begitu viral. Sehingga topik ini dijadikan gerakan bersama me-monetize isu di kalangan pengelola situs perorangan dan berhasil menyita perhatian dan engagement di media sosial secara luas. Terus terang saya tak melihat ada motif politik dalam proses nomor 2 ini. It's all about traffic.

3. Begitu populernya isu ini ditangkap oleh media massa dan memulai proses pabrikasi isu selanjutnya: mewawancarai berbagai narasumber, menaikkan volume konten, mengolah data, memperluas angle pada topik, menggelar survei, dan menayangkannya di tempat serta waktu yang strategis. Dengan demikian media massa telah memberikan tambahan daya yang luar biasa bagi isu ini untuk makin lebih populer dan dipercakapkan. Dalam proses inilah rekayasa sosial (social engineering) dan rekayasa politik (political engineering) bisa dilakukan secara leluasa.

Ketika isu ini sudah ikut dikelola secara bersama-sama oleh media massa dan media perorangan, masyarakat diserbu oleh setidaknya 2 fallacy (kekeliruan) dalam berlogika. Bahkan saya menganggapnya sebagai fatality (kefatalan).

Pertama, argumentum ad populum; sesuatu dianggap benar karena banyak orang yang mempercayainya. Pabrikasi isu di Indonesia menurut saya cenderung mudah karena kombinasi 2 faktor: akses internet dan kemampuan literasi new media. Dari sebuah data yang pernah saya baca, lebih dari 80% pengguna media sosial Indonesia tak mengklik dan membaca konten pada tautan yang dibagikan. Selain karena kualitas akses internet yang buruk, juga karena rendahnya minat membaca. Sehingga mereka sekedar mengonsumsi judul. Itu sebabnya mengapa headline engineering masih jadi alat tempur yang bagus dalam asymmetric war di dalam negeri. Namun celakanya, rendahnya literasi itu diiringi dengan tingginya hasrat pengguna media sosial kita untuk meningkatkan social value dan social currency personal. Ada 'kebutuhan' untuk jadi yang paling pertama dalam menyebarkan, membahas, atau mengomentari sebuah topik agar dianggap tidak 'kudet' (kurang update). Kebutuhan itu dipenuhi lewat penggunaan fitur-fitur engagement di media sosial seperti status update, like, share, comment, reply, retweet dll. Makin tersebar dan makin dipercakapkan, makin pula orang menganggap isu tersebut benar adanya.

Kedua, argumentum ad verecundiam; sesuatu dianggap benar karena dicetuskan oleh tokoh atau institusi populer. Media massa memainkan peran besar dalam logical fallacy ini. Isu bertambah kuat dan makin dipercaya oleh masyarakat ketika berbagai media massa populer ikut menyantap isu yang sebelumnya dipabrikasi oleh situs-situs personal. Narasumber-narasumber populer yang tidak bisa dijangkau oleh pengelola situs personal kini turut dihadirkan oleh media massa ke dalam situasi pro-kontra: anggota DPR, pemerintah, pelaku bisnis, lembaga, akademisi, dll. Sehingga tercipta sebuah iklim dimana seakan-akan isu tersebut benar sehingga perlu mempertandingkan pendapat orang-orang populer ini.

Dan sekarang anda tahu sifat dan perilaku dunia informasi yang tengah kita hidupi serta cara memenangkannya.**

Sumber : facebook Hilman Fajrian

Wednesday, August 24, 2016 - 10:30
Kategori Rubrik: