Pabrik Hoax

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Toha

Sepertinya kelompok itu paham benar dengan praktek propaganda ala Nazi yang dicetuskan Joseph Goebbels, salah satu menteri utama di Pemerintahan Adolf Hitler.

Berkat propaganda Goebbels, rakyat Jerman menjadi seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Otak mereka dicuci dan dibuat patuh, hingga tanpa sadar mereka digiring menuju liang kuburnya sendiri. Jutaan manusia tewas sia-sia di perang dunia II, yang menjalar hampir di seluruh belahan dunia itu. Entah di neraka sebelah mana Goebbels kelak akan ditempatkan!

Ahli propagandis Nazi ini memang sangat licik. Dia mempopulerkan teori Argentum ad nausem alias big lie. Kurang lebih seperti ini teorinya: "Kebohongan yang dikampanyekan secara terus menerus dan sistematis akan menjadi kebenaran. Sedangkan kebohongan sempurna adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja"!

Lalu, Goebbels pun mereproduksi berbagai berita bohong yang disebar ke berbagai media; koran, televisi, radio, film dan selebaran-selebaran. Terus-menerus tanpa jeda, dan tanpa ada yang menyangkal dan meluruskan. Berita-berita bohong itupun dikunyah sebagai kebenaran. Rakyat Jerman rela mati demi Hitler.

Nah, cara kerja kelompok penyebar aneka fitnah dan berita bohong di negeri ini, kurang lebih serupa. Mereka menyebar isu Komunis di Indonesia, penganiyaan ulama dan isu-isu bernada fitnah lainnya. Tak ada faktanya. Tapi kebohongan itu terus menerus disebarkan, agar orang menjadi percaya.

Lalu apa tujuan mereka? Ditelisik dari isu yang dihembuskan, aktor dan cara penyebarannya, terlalu mudah ditebak skenarionya. Bahkan jejaknya jika ditelusuri, tak jauh-jauh dari masa menjelang Pilpres 2014 silam.

Di Pilpres itu, pertarungannya memang berdarah-darah. Di Pilpres kali inilah, kedua kandidat diserang dengan berbagai isu yang diproduksi secara masif dan meluas.

Kutipan berikut adalah analisa atas isu yang dimainkan dalam Pilpres 2014, dalam bentuk tulisan asli:

"Berdasarkan hasil pemetaan lembaga pemerhati media sosial Politicawave, kampanye hitam cenderung fitnah memang paling banyak menyerang Jokowi. Jumlahnya 94,9 persen. Sedangkan serangan kampanye negatif 5,1 persen.

Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan serangan ke Prabowo-Hatta. Pasangan yang diusung Partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, PBB, Partai Golkar, dan Partai Demokrat ini diserang kampanye hitam hanya 13,5 persen dan kampanye negatif 86,5 persen.

Kampanye hitam gencar menyerang Jokowi sejak pekan pertama dimulai kampanye resmi. Fitnah disebarkan antara lain melalui Tabloid Obor Rakyat dan Martabat. Macam-macam rupa kampanye hitam itu. Mulai dari memfinah Jokowi sebagi keturunan non-pribumi, non-muslim, antek asing, antek Tionghoa, capres boneka, hingga menyebut partainya, PDI Perjuangan, sebagai sarang komunis.

Prabowo sendiri mendapat serangan kampanye hitam dan negatif mulai dari masalah pelanggaran HAM, pemecatannya dari dinas kemiliteran yang diketahui melalui dokumen Dewan Kehormatan Perwira, beredarnya uang berstempel Prabowo, hingga statusnya yang jomblo.

Kampanye hitam dan negatif ini nyatanya banyak mempengaruhi pilihan pemilih. Elektabilitas Prabowo-Hatta yang semula jauh dari Jokowi-JK, terus merangkak naik menyaingi rivalnya. Dari survei Indo Barometer, dukungan untuk Prabowo-Hatta pada Juni 2014 naik menjadi 42,6%. Sedangkan elektabilitas Jokowi-JK pada Juni 2014 turun menjadi 46,0%."!!!

Data ini menunjukkan bagaimana salah satu calon diserang dengan berbagai fitnah yang tak mendasar. Memang, Jokowi tetap menang, tapi nyaris, Jokowi tersandung dan kalah. Kemenangan yang sangat tipis. Tak sampai 5 persen.

Fitnah dan berita bohong yang diproduksi terus menerus itu, ternyata mampu menarik jutaan pemilih yang menelan isu tanpa dikunyah.

Setelah Pilpres, banyak yang mengira, isu itu akan berakhir. Banyak yang memilih diam, dan hanya menelan berita-berita fitnah dan hoax yang masih terus disebar, dengan harapan kelak bakal reda dan pupus seiring waktu. Ternyata salah.

Alih-alih berhenti atau minimal berkurang, justru wabah itu kian menjadi-jadi dan makin merajalela.

Sampai akhirnya banyak yang sadar, berita bohong yang didiamkan dan tak diluruskan, akan menjadi kebenaran yang menyesatkan. Mendiamkan berita bohong diserbarluaskan tanpa pelurusan, adalah kesalahan fatal.

Saya pun memilih untuk tidak diam!

#UncleTOM

Sumber : Status Facebook Muhammad Toha

Friday, March 2, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: