OTG Itu.....

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

OTG

Jika hasil tes PCR positif, rapid tes reaktif, tidak sakit, disebut OTG. Padahal :

1. PCR positif artinya ditemukan virus di tempat swab yang salah satu atau beberapa cirinya cocok dengan salah satu atau beberapa potongan sampel virus yang dipakai sebagai primer PCR. Baik itu virusnya masih utuh dan aktif maupun sudah rusak.

Contoh : Primer PCR pake hidung dan telinga untuk mendeteksi keberadaan manusia di tenggorokan gajah. Gajah di swab di tenggorokan, trus diuji PCR. Apakah ada hidung dan telinga manusia? Ada, artinya positif, meskipun ternyata hanya kepala manusia saja tanpa badan utuh.

2. Berapa banyak virus di tempat swab sampel, dilihat dari nilai cq-nya. Banyak pun gak bemakna kalau semua hanya berupa kepala tanpa badan utuh. Sebuah penelitian membuktikan, virus yang diinaktifasi ketika diuji PCR nilai CQ nya tidak berbeda dengan virus yang tidak diinaktifasi.

Tahu nilai CQ saja juga gak cukup tanpa lihat nilai CT, control positif, control negatif utk mengetahui valid tidaknya pengujian.

2. Rapid test reaktif, tergantung rapid test dimana. Pengalaman saudara gw, rapid test massal di puskesmas reaktif IgM garis samar. Sehari kemudian tes ulang mandiri di lab swasta, hasilnya non reaktif.

Andai reaktif sekalipun, masih harus dilihah yang reaktif IgM atau IgG.

Untuk itu, perlu dikonfirmasi dengan gejala klinis.

Artinya, diagnosa kondisi kesehatan seseorang itu harus meliputi gejala klinis yaitu sakit atau tidak. Jika tidak sakit ya sehat, gak usah diribetin. Jika sakit demam, konfirmasi dengan hasil lab (rapid test dan PCR).

Mendiagnosa hanya berdasar gejala tanpa uji lab itu seperti meraba-raba. Mendiagnosa hanya berdasar hasil uji lab (rapid test dan PCR) tanpa melihat gejala juga sama saja.

Jadi, untuk menentukan seseorang sakit atau tidak, harus lihat gejala. Untuk mengetahui sakitnya apa, lihat hasil lab nya.

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Saturday, October 17, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: