Otak yang Cuma Berisi File 3GP

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Di Bali kemarin ada lomba ajang debat internasional. Pesertanya adalah pelajar dari berbagai negara. Anda tahu dong, dalam sebuah perdebatan yang sehat, tingkat pengetahuan, keluasan wawasan, kekuatan logika dan bangunan argumen harus teruji. Nah, empat pelajar Indonesia ternyata berhasil memenangkan lomba keren itu. Foto pemenang lomba ditampilkan di akun FB Kementrian Pendidikan juga di website resminya.

 

Tentu lomba ini bukan jenis perdebatan asal jeplak seperti status Jonru.

 

 

 

Jadi ketika empat pelajar Indonesia memenangkan kejuaraan itu, mestinya kita bangga. Anak-anak SMU kita ternyata kemampuannya tidak kalah dengan siswa dari negara lain.

 

Itu pendapat dari orang Indonesia yang normal.

 

Tapi rupanya ada orang Indonesia ngacengan yang justru malah memperdebatkan pakaian siswa-siswi kita ini. Bukan hanya mereka tidak merasa ikut bangga dengan prestasi anak bangsa yang moncer ini. Bahkan mereka mencacinya. Lihat saja komentar mereka di akun Kementrian Pendidikan. Dasar kampret.

 

Mereka bukannya mengukur peserta dari kemampuan artikulasi dalam debat, pengusaan masalah dan prestasinya hingga bisa mengalahkan peserta dari negara lain. Tapi malah sibuk mendebatkan kenapa pakaian peserta wanita dari Indonesia belahannya agak dalam di bagian dada. Padahal adik-adik SMU kita memakai pakaian model blus biasa, yang sering digunakan perempuan profesional muda ke kantor.

 

Yang kurang ajar, ada yang komentar, "Ini mau debat apa mau jadi pelayan bar." Orang seperti ini otaknya benar-benar tidak bisa jauh dari selangkangan.

 

Tampaknya cara pandang mereka hanya menilai perempuan sebatas tampilan fisik saja. Pada tahap yang lebih jauh mereka hanya memposisikan perempuan sebagai objek seksual. Makanya jika bicara soal perempuan masalah yang melulu dikedepankan adalah tema mengenai tubuh. Mengenai tampilannya. Mengenai daya reaksi untuk sesuatu di balik resletingnya.

 

Boro-boro menilai kecerdasannya. Wong yang dipikirin cuma belahan dada doang.

 

Cara pandang ini biasanya bias dari fikiran keagamaan yang sempit. Gara-gara memandang bahwa model pakaian keagamaan harus berjilbab bahkan bercadar, maka perempuan yang pakaiannya tidak sama dengan mereka dianggap rendah dan murahan. Akibatnya komentar mereka cenderung melecehkan.

 

Repotnya cara pandang seperti ini bukan hanya khas lelaki. Bahkan seorang psikolog senior kemarin menuding girl band asal Korea sebagai simbol sex. Pandangan ini gak jauh-jauh bedalah. Dia tidak mau belajar mengenai profesi artis-artis itu, bagaimana kerasnya mereka berlatih, menjaga badan, menjaga kecantikan, oplas dan sebagainya.

 

Ini sebetulnya soal persepsi. Orang yang normal akan menonton lomba renang dengan peserta perempuan dan berkomentar tentang kemampuan dan gaya para perenang. Tapi orang yang kencanduan bokep justru akan melotot menikmati balutan body di balik bikini. Daya hayalnya akan mengembara sesuai dengan persepsi di kepalanya. Jadi dalam diri mereka kalau soal menilai perempuan tidak ada lain, ukurannya cuma soal ngaceng!

 

Otak ngacengan seperti ini diewer-ewer kemana-mana tanpa malu. Mereka bahkan mempertontonkan komentarnya di media sosial. Itulah mengapa adik-adik SMU kita yang berprestasi malah dibully karena pakaiannya. Repotnya persepsi mesum ini dibalut dengan argumen agama. Sama persis seperti para pelaku bom bunuh diri memimpikan 72 bidadari. Atau pesta seks di surga.

 

Saya sendiri bingung bagaimana justru ada sebagian kaum perempuan bisa menikmati hanya dipandang dengan persepsi seperti ini. Bahwa ada yang meyakini pakaian keagamaan harus tertutup, itu syah saja. Tetapi memandang orang yang menggunakan pakaian model berbeda, lalu menuduhnya murahan, itu benar-benar kampungan. Bukan hanya ndeso, tapi kelasnya sudah ndusun!

 

Lagian jika siswi-siswi kita bercadar, tidak mungkin juga bisa tampil dalam lomba debat internasional. Masa ketika mereka mau ngomong di depan microphone gayanya harus seperti gajah yang mengangkat belalainya sebelum bicara.

 

Tapi mau gimana lagi. Inilah akibat jika sering memakai celana dalam di kepala. Orang kalau otaknya hanya berisi file 3gp, memang begitu. Wong lihat kambing dibedakin aja, resleting celananya jadi rusak.

 

"Celananya gak ada resleting, mas," ujar Bambang Kusnadi. "Kan yang lelaki biasa pakai daster. Kalau mau modis sedikit, pakai kaftan kayak Syahrini."

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Friday, August 11, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: