Orientasi Pembangunan SDM, Menyongsong Generasi Emas

Oleh : Rudi S Kamri

Menyimak pidato Presiden Jokowi pada acara Visi Indonesia di SICC pada 14 Juli 2019 khususnya yang terkait dengan prioritas utama program kerja Pemerintah yang salah satunya berorientasi pada pembangunan SDM Indonesia, secara jujur harus saya sampaikan bahwa saya belum puas. Tapi mungkin karena kendala waktu yang cukup singkat sehingga apa yang disampaikan Presiden Jokowi belum terlalu komprehensif.

Pada kesempatan tersebut Presiden Jokowi menekankan akan lebih fokus pada penyiapan generasi Indonesia yang unggul menyongsong generasi emas Indonesia pada 2045. Presiden Jokowi juga akan fokus menyiapkan generasi milenial yang unggul untuk menghadapi tantangan zaman saat ini dan ke depan. 

 

Dua hal tersebut saya sangat setuju. Penyiapan generasi Indonesia unggul untuk menyongsong generasi emas Indonesia 2045 adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Dan penyiapan generasi muda Indonesia yang skillfull sesuai dengan tantangan zaman juga penting. Namun problematika dan realita pengembangan SDM Indonesia, menurut saya tidak cukup kalau hanya dua hal tersebut yang mendapat perhatian khusus dari Pemerintah. Menurut saya yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan SOFTSKILL SDM Indonesia.

Pembangunan SDM dari sisi softskill antara lain menyangkut penanaman norma etika dan budi pekerti yang khas Indonesiawi kepada generasi muda Indonesia. Disamping itu penanaman jiwa nasionalisme bagi generasi muda Indonesia juga merupakan hal yang perlu dilakukan oleh Pemerintah. Hal lainnya yang perlu dilakukan Pemerintah dan semua stakeholder di negeri ini adalah menormalisasi pikiran sebagian rakyat Indonesia yang sempat tercemar dengan paparan ideologi khilafah. 

Bagi saya pembangunan SDM Indonesia dari sisi softskill sangat penting untuk menyiapkan generasi muda Indonesia yang unggul untuk menyongsong tantangan zaman ke depan. Karena kita tidak menginginkan sosok generasi muda Indonesia yang hanya pintar secara keilmuan dan ketrampilan tapi kurang mempunyai jiwa nasionalisme. Kita juga tidak menginginkan lahirnya generasi muda yang potensial tapi tidak mempunyai pemahaman ideologi negara Pancasila yang semestinya dan yang memprihatinkan justru mereka terpapar ideologi khilafah. 

Untuk melakukan pembangunan SDM dari sisi HARDSKILL relatif mudah dilakukan oleh Pemerintah. Tapi membangun SDM Indonesia dari sisi softskill membutuhkan effort yang luar biasa dari Pemerintah dan kerja sama dari semua pihak yang berkepentingan. Salah satu hal mendasar yang harus dilakukan adalah membenahi kurikulum pendidikan mulai dari TK, SD sampai PT baik untuk lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Hal ini juga harus menyasar lembaga pendidikan yang di bawah kendali kementerian lain di luar Kemendikbud dan Kemenristek-Dikti. Sebagai contoh ke depan jangan ada lagi ada kejadian lembaga pendidikan Islam yang di bawah Kementerian Agama seperti MAN di Sukabumi yang mengibarkan bendera khilafah.

Hal lain yang perlu dilakukan oleh Presiden Jokowi adalah merevisi secara komprehensif program Revolusi Mental yang menurut pendapat saya kurang berhasil dijalankan secara optimal pada periode pertama Pemerintahan Presiden Jokowi. 

EMPAT hal yang saya usulkan untuk disempurnakan dalam pelatihan program Revolusi Mental adalah :
1. Perombakan materi pelatihan secara mendasar sehingga materi pelatihan lebih aplikatif dan acceptable. 
2. Presiden harus menunjuk penanggung jawab program yang kapabel dan mempunyai "public trust" yang tinggi.
3. Perubahan metodologi dan strategi pelatihan yang lebih efektif dan infiltratif.
4. Memperluas cakupan obyek yang disasar dalam program pelatihan Revolusi Mental bukan hanya ASN tapi juga Guru, Karyawan BUMN, TNI, Polri, Pegawai Swasta, Pendakwah Agama, Anggota Ormas dan masyarakat umum.

Output dari pembangunan SDM dengan penanaman nilai-nilai luhur Pancasila dan budi pekerti yang Indonesiawi adalah kembalinya sikap empati sosial dari masyarakat Indonesia yang santun dan menjunjung tinggi budaya Nusantara. Kalau jiwa empati sosial ini tumbuh subur di antara warga bangsa maka kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia akan damai, indah dan toleran. Tidak ada lagi hujat menghujat diantara anak bangsa. Dan akan tercipta kehidupan masyarakat yang rukun dan damai di Indonesia. Sehingga tidak akan ada lagi energi bangsa yang terbuang sia-sia.

Kesimpulan saya orientasi pembangunan SDM Indonesia harus dilakukan secara simultan atau beriringan antara pembangunan bidang SOFTSKILL dan HARDSKILL. Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya menyiapkan anak bangsa untuk bisa adaptatif terhadap perkembangan teknologi informasi yang progresif. Tapi juga melahirkan generasi muda yang punya jiwa nasionalisme yang tinggi. Selain itu juga untuk mengikis pola pikir sebagian anak bangsa yang sempat melenceng dari ideologi negara Pancasila.

Untuk mendukung program Pemerintah, seperti kata Presiden Jokowi, kita harus berubah. Kita harus meninggalkan pola pikir lama. Kita tidak bisa lagi hanya berpikir linier dan rutinitas semata. Kita semua harus berubah. Salah satunya mulai saat ini kita harus sepakat dan berani bersikap tegas bahwa tidak ada tempat bagi ideologi lain selain Pancasila yang berhak hidup di negeri ini.

Kalau kita tidak berubah saat ini, kapan lagi ?
Kalau bukan kita yang menyelamatkan bangsa dan negara ini, siapa lagi ?

Anda, saya dan mereka harus melebur dalam KITA SATU INDONESIA. Anda setuju kan ?

Salam SATU Indonesia,
17082019

*) Tulisan ini dimuat di Majalah INDONESIA NEWS edisi Agustus 2019 yang dibagikan sebagai souvernir untuk peserta upacara pada Peringatan Kemerdekaan RI ke 74 di Istana Merdeka Jakarta tgl 17 Agustus 2019.

Monday, August 19, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: