Orientasi Hidup

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Waktu makan malam, saya tanya sama teman pebisnis dari China.

" Bagaimana bisnis sekarang ? Tanya saya.
" Sedikit turun. "
" Bukankah pertumbuhan ekonomi China tinggal 7 %, yang sebelumnya dua digit? " Kata saya seakan meragukan jawabnya " Sedikit ". Menurut saya, ekonomi growth turun sampai 50% , itu bukan sedikit tapi bencana. "

Dengan tersenyum teman saya mengatakan " China punya penduduk besar dan diatas 50 % adalah produktif. Daya beli mereka mengalahkan pasar Eropa dan Amerika. China juga punya sumber daya alam yang beragam dan tanah yang luas. Sumber daya ini membuat China bisa dengan mudah menstimulus ekonomi rakyat yang berbasis SDA tanpa tergantung dengan pasar ekspor."
" Artinya kembali kepada resource yg ada?
" Ya. Sayang sekali dengan negara yang tidak punya cukup SDA " katanya menyimpulkan.

" Menurut saya , bukan soal SDA kemakmuran itu ada. Bukan pula karena sistem politik. Bukan pula karena ilmu pengetahuan. Bukan. " kata saya.
" Jadi karena apa ? Dia nampak berkerut kening.
" Karena Tuhan!
" Kok begitu ?
" Karena Tuhan doyan becanda kepada manusia. Kemakmuran seakan di pergilirkan ke setiap wilayah oleh Tuhan dari zaman ke zaman. Awalnya bangsa Semit pernah berjaya, kemudian muncul persia dan Romawi, selanjutnya bangsa Mongol, Mesir dan syiria, berlanjut Turki Ustmani. Majapahit di Indonesia, Kerajaan Gereja di Eropa, kerajaan Jepang. Paska perang dunia pertama dan kedua muncul Kekuatan Amerika dan Eropa. Dan kini Eropa dan Amerika meredup, kembali Asia bercahaya. Jadi begitulah "
" oh i see "

" Jadi engga usah bawa perasaan seakan kehebatan idiologi , agama dan ilmu pengetahuan bisa menciptakan kemakmuran. Semua kehebatan itu memang pernah sukses tapi akhirnya jatuh juga. Apa yang terjadi sesungguhnya dalam hidup ini adalah skenario besar Tuhan" kata saya dengan tersenyum.
" Untuk apa?
" Agar manusia Tahu bahwa yang hebat hanya Tuhan. Tuhan mempertontonkan kebesarannya dari setiap kejadian. Kekuatan yang di banggakan manusia, akhirnya hancur juga. Agama yang dibanggakan menguasai dunia , akhirnya di tumbangkan juga. Idiologi dan IPTEK yang di banggakan , akhirnya lihatlah Amerika dan Eropa tumbang juga padahal engga ada yang serang mereka. "

" Jadi bagaimana seharusnya manusia bersikap ?
" Tidak ada istilah seharusnya. Yang harus itu juga belum tentu benar. Manusia selalu punya pilihan. "
" Apa saja pilihan itu ?
" Ada dua pilihan, pertama , berubah karena pengaruh dari luar. Ini perubahan karena doktrin politik atau idiologi atau kebudayaan. Yang kedua , berubah dari dalam diri kita sendiri. Ini karena faktor keimanan mengikuti ajaran agama.
" Mana pilihan yang tepat ?
" Engga juga ada yang tepat?
" mengapa ?

" Karena pilihan itu hanya cara, bukan esensi. contoh pengaruh dari luar itu juga ilmu Tuhan yang di sampaikan lewat pemikiran manusia. Memang beda dengan pengaruh dari dalam , yang di sampaikan Tuhan lewat wahyu ke rasul. Jadi duanya duanya dari Tuhan juga. Kalau ada yang berubah menjadi buruk karena pengaruh dari luar atau dalam. Ya itu bukan karena wahyu Tuhan atau pemikiran manusia yang salah. Yang salah itu pribadi manusia itu yang miskin cinta. Esensinya ya cinta."

" Mengapa cinta ?

" Karena eksistensi cinta adalah kasih sayang. Kasih sayang adalah kedamaian. Kedamaian bertumpu kepada Akhlak, kehalusan Budi perkerti. Bila cinta mulai pamrih maka apapun agama, apapun idiologi , dia akan hancur dengan sendirinya.."

" Dan cinta itu adalah salah satu sifat yang di miliki Tuhan. Bagaimana cara mudah memahami cinta dan ketulusan ?" katanya mulai tercerahkan.

" Menurut saya agama adalah cara yang mudah dan sederhana sebagai orientasi hidup , untuk memahami hidup. Itu saya. Mungkin orang lain punya cara yang lain. Yang penting pilih cara yang membuat kita nyaman dan engga usah repot , usil dengan pilihan orang lain. Itu aja."

Saya hanya tersenyum. Berharap dia paham, bahwa semesta ini di ciptakan Tuhan karena Cinta.**

Sumber : Facebook Erizeli Jely Bandaro

Wednesday, October 5, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: