Orang-Orang Hebat yang Sederhana

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Sejak beberapa hari tinggal di Singapore sebagai Senior Research Fellow di Middle East Institute (MEI) of National University of Singapore (NUS), setidaknya ada dua kali saya menemui orang-orang hebat yang bersahaja. Yang pertama adalah Peter Sluglett, Direktur MEI dan sejarawan beken tentang Timur Tengah yang menulis banyak publikasi mengenai dunia Arab. Di usianya yang sudah sangat uzur ini, Professor Sluglett yang pernah mengajar di Inggris dan Amerika ini masih semangat untuk menulis. Saat ini ia sedang merampungkan sebuah buku tentang sejarah Suriah.

Melihat bentuk fisik dan semangat akademik Pak Peter Sluglett yang luar biasa ini mengingatkanku pada sosok Professor Peter L. Berger, sosiolog agama ternama yang pernah menjadi "bos" dan mentorku di Boston University, yang juga meskipun sudah berusia sangat lanjut masih terus produktif menulis: buku, blog, jurnal, kolom media, dlsb. Sudah tak terhitung lagi berapa karya Pak Peter Berger ini. Setiap diskusi, ia selalu semangat menggebu-gebu bertanya, mengkritik, menjawab, menjelaskan. Selama setahunan saya menjadi fellow di lembaga Pak Peter Berger dan selama itu pula kami bergumul dengan beliau dan mengikuti berbagai kegiatan akademik yang sangat mencerahkan.

Kini di NUS, saya bertemu dengan Pak Peter lagi. Tapi Pak Peter yang lain. Pada hari pertama saya "ngantor", seorang staf menemuiku: "Prof, ini ada kartu untuk naik bus dari Peter Sluglett. Tapi isinya cuma $5 untuk sementara saja katanya, nanti bisa diisi lagi." Ia juga berpesan kalau nanti sore Professor Peter Sluglett mau mengajak pulang bareng naik bus sekalian mau nunjukin rute bus dari kantor ke apartemen. Saya iyakan saja tawarannya. Dan betul, setelah jam kantor usai, Pak Peter datang menemuiku untuk ngajak pulang bareng yang kebetulan tinggal di kompleks apartemen yang sama denganku.

Dengan sabar dan telaten, sambil jalan pelan-pelan karena ia sudah tua, ia menerangkan rute/jalan pintas dari kantor ke jalan raya tempat pemberhentian bus. Ia memperingatkanku agar memperhatikan gedung-gedung sekitar supaya tidak nyasar kalau naik bus (sepertinya kok dia tahu kalau saya sering nyasar kalau naik bus he he). "Kalau naik bus di Singapore kartu harus di-tap dua kali, saat masuk dan keluar dari bus. Ini beda dengan di Amerika," jelasnya.

Di bus ia terus menjelaskan berbagai gedung di kanan-kiri yang saya harus perhatikan dengan seksama supaya tidak nyasar tadi saat pergi dan pulang kantor dengan naik bus. Saya hanya manggut-manggut saja mendengarkan dengan seksama penuturannya yang menggunakan Bahasa Inggris campuran aksen British-Amerika. Sesekali saya melirik kanan-kiri, ada beberapa penumpang sepertinya menatap kami penuh selidik. Mungkin pikirnya, "Ini kok ada kakek-kakek malah yang jelasin ke anak muda sih. Gak kebalik?" Saya sih cuek-bebek saja. Saya mah gitu orangnya, rada-rada ndableg gitu he he. Tidak hanya itu saja, Pak Peter juga mengajak saya menelusuri lorong-lorong kecil jalan pintas dari apartemen menuju tempat belanja dan restoran murah-meriah tempat dimana ia biasa belanja dan beli makanan.

Hari berikutnya, saya mau ke bank di kampus, dan karena bingung, saya tanya lagi ke seseorang di jalan. Kali ini bukan Pak Peter tapi orang lain yang juga sudah cukup tua berperawakan Asia Timur, meskipun tidak setua Pak Peter. Ia dengan ramah dan semangat, bukan hanya nunjukin rute saja tapi juga jalan bareng mengantarku sampai di bank sampai keringetan basah-kuyup. Setelah sampai di bank, kami kemudian saling memperkenalkan diri dan ia ternyata Pak Wakil Rektor yang baru setahunan katanya pindah dari Amerika...

Sumber kebaikan itu bisa datang dari mana dan apa saja, dari agama apa saja, dari suku-bangsa di mana saja di alam semesta ini. Kebaikan bukan monopoli agama dan etnik tertentu. Kebaikan juga tidak membutuhkan agama tertentu karena Tuhan sudah melengkapi manusia dengan berbagai panca indra dan organ yang sempurna untuk mampu mengenali dan merasakan kebaikan dan kejahatan umat manusia...

Kent Vale, Singapore

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Sunday, June 12, 2016 - 20:15
Kategori Rubrik: